29.2 C
New York
Selasa, Juni 22, 2021

Buy now

“SEBODOH KOMPUTER” (SERI OPINI : IBG DHARMA PUTRA)

SEBODOH KOMPUTER

“Kenggulan yang dipunyai telah habis tercuri karena terlalu asik meniru, terlena hanya jadi pengguna, lupa mengasah kemampuan mandiri karena keenakan dilayani dan rendah diri untuk tetap hidup dalam budaya asli”
Oleh : IBG Dharma Putra

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Siang tadi, saya gagal mendapatkan lemari yang sangat saya butuhkan untuk tempat alat dapur, sekaligus untuk merapikan rumah, yang sudah mirip gudang karena berbagai jenis panci yang mulai terlihat berserakan.

Kegagalan terjadi karena sistem komputer hanya bisa dibuka dengan kartu anggota yang tidak saya miliki, disamping kerumitan lain seperti pengantaran dan perakitan alat yang tidak sesuai dengan jadwal kesiapan saya.

Karenanya, uang yang tidak sedikit, tidak jadi berpindah tangan dan kerugian diderita oleh kedua pihak. Rumah saya terhambat dirapikan dan pedagangnya tak jadi mendapat untung di hari ini.

Peristiwa itu, menjadi peristiwa serius karena saya pernah melihat kejadian sama di sebuah pelayanan kesehatan. Saya menyaksikan tertolaknya pendaftaran orang miskin oleh komputer.

Si miskin ditolak berobat, menggunakan asuransi kesehatan miliknya di hari sabtu, sesuai kedatangannya, karena sistem komputer hanya bisa menerimanya di hari senin, di jadwal kontrol sesuai habisnya obat.

Penolakan yang fatal karena terkonfirmasi si miskin tak akan punya biaya untuk datang di hari senin. Dia bisa datang hari sabtu karena menumpang jiran yang kebetulan menghadiri resepsi pernikahan ke kota.

Akankah dibiarkan fenomena ini, menimpa kehidupan, dan tidak dicoba untuk disikapi melalui kecerdasan manusia. Akankah dunia diwarnai paradok lucu serta konyol karena sistem buatan manusia mempersulit manusia itu sendiri.

Sebuah kekonyolan yang sebenarnya bisa dihindari dengan memberi sentuhan manusia didalam kerja komputer. Sedikit kearifan dari akal sehat akan menyebabkan si miskin bisa dilayani dan lemari bisa terbeli.

Secara nyata dan amat gamblang, masalah akan tertanggulangi jika obat diberikan hari sabtu tetapi dicatatkan di hari senin, atau lemari dibeli dengan kartu master yang bisa dipakaikan kepada semua pembeli, sehinga transaksi tetap bisa berjalan.

Upaya keluar dari jebakan komputerisasi, dan menghindari adanya fenomena manusia sebodoh komputer adalah upaya serius yang harus disegerakan. Karena menurut saya, alarm akan banyaknya kondisi seperti itu, sudah menyala keras.

Tidak boleh ada petugas kesehatan, penjaga toko dan pekerja apapun lain di semua bidang yang boleh menolak melayani karena tak ada dukungan komputer.

Semuanya harus punya kesadaran bahwa komputer bukanlah sistem tercanggih dan terbaik yang bersifat given, tetapi pada hakekatnya, hanyalah alat bantu sehingga boleh, bahkan wajib diabaikan jika bertentangan dengan tujuannya memudahkan pekerjaan manusia.

Kondisi mirip seperti dua kejadian tersebut, pernah saya alami di masa sekolah di SMA, saat dengan mudah berinisiatif mencari guru mata pelajaran untuk mengisi kekosongan jam pelajaran yang gurunya berhalangan hadir, sementara murid pertukaran pelajar dari luar negeri hanya termanggu kaku tak bisa berbuat apapun.

Para murid bule, terbiasa bekerja berdasarkan jadwal yang ketat dan jarang salah sehingga binggung karena kondisi yang sering berubah di SMA Indonesia. Mereka tak bisa cepat beradaptasi dengan perubahan.

Ingatan saya tentang pengalaman SMA itu, membuat saya memposisikan pekerja kesehatan dan penjual lemari dalam cerita saya seperti pelajar bule, yang gagap terhadap derasnya upaya komputerisasi Mereka sangat kaku, seolah komputer bernafas yang telah tersistim pasti.

Sebuah fenomena zaman modern, adanya manusia sebodoh komputer, dengan kekakuan pada jadwal serta sistem, rasanya akan datang dan menghinggapi orang yang lemah inspirasi karena kurang belajar berimajinasi.

Untuk itulah maka selayaknya, sejak diawal kehidupan, kesempatan mengembangkan imajinasi, harus diberikan kepada anak, dengan tidak menyediakan terlalu banyak mainan canggih yang sangat mirip dengan aslinya.

Dengan begitu, anak anak dibiarkan berkhayal menjadikan kotak wadah televisi menjadi mobil balap. Dikendarainya mobil itu dengan khayal keberadaan segala rambu dan halangan lain selama berkendara.

Biarkan anak kita, berkhayal riang sedang menerbangkan pesawat atau mengendalikan perahu yang dibuat dari lipatan kertas bekas, dan mencoba melakukan manuver dalam persaingan ketrampilan pengendalian dengan teman sebayanya.

Biarkan anak anak membaca, karena membaca akan mengundang spontanitas imajinasi dari bacaannya, mendengarkan dan tidak sekedar melihat televisi, apalagi jika cuma berisi tontonan yang bukan tuntunan.

Biarkan mereka seperti ayah dan ibunya, sewaktu membayangkan wajah pesepak bola bernama Pele, yang meremehkan kemampuan Rony Pasha,kiper PSSI, karena melakukan tendangan pinalti tanpa ancang ancang.

Atau membAyangkan lob tinggi serta sangat dalam dari Iie Sumirat, pembulutangkis unik dan nyentrik, yang akan selalu sulit untuk dikembalikan oleh lawan lawannya

Jangan biarkan mereka mendewakan kemewahan yang dipertontonkan secara populer oleh para selebritas dengan dukungan pengusaha pencari rente semata. Sebuah tontonan tanpa tatanan dan miskin tuntunan

Jaga diri, jaga keluarga, jaga komunitas dalam rangka menjaga bangsa yang tercinta, sambil menunggu peran swasta dan tindakan tegas pemerintah. Semuanya jarus bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa Indonesia.

Kembalikan pergaulan mesra sesama anak anak yang diwarnai dengan teriakan, tawa riang, tangisan dan saling ejek, yang terasa telah hilang, dari sekitar kita.

Hilangnya bersamaan dengan munculnya manusia sangat kaku pada fenomena manusia sebodoh komputer, yang sangat mencemaskan.

Seolah keunggulan fleksibilitas murid asli nusantara terhadap rekan bulenya dalam kenangan SMA saya, telah sirna dengan menyisakan keprihatinan mendalam.

Dan semakin sedih karena dalam kenyataan dimasa ini, anak dan semua dari kita, harus belajar resiliensi dan agility dari para cendekia bule.

Kenggulan yang dipunyai telah habis tercuri karena terlalu asik meniru, terlena hanya jadi pengguna, lupa mengasah kemampuan mandiri karena keenakan dilayani dan rendah diri untuk tetap hidup dalam budaya asli

Ingatlah kawan, cita untuk Indonesia Unggul 2045 sudah didepan mata dan jangan sia siakan banyaknya para pemuda yang akan kita punya sebagai keuntungan demografis.

Mari berupaya bersama.

Banjarmasin
02062021

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

22,044FansSuka
2,827PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles