UNCLE “HO” FROM VIETNAM
“Hikmahyang dapat dipetik dari perjalanan ini, pertama; mengunjungi tempat bersejarah, apalagi ke tempat seorang pahlawan seperti Uncle Ho Chi Minh, dapat membuat hati merasa bangga dan bahagia, karena sempat melihat nilai-nilai sejarah dari sebuah negara, seperti Vietnam. Kedua, pengunjung mendapatkan pelajaran yang bermakna, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya, tanpa memandang perbedaan politik, agama, ras, dan warna kulit. Dengan demikian, mengunjungi situs kepahlawanan dapat membangkitkan gairah dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang berlandaskan pada ke-bhinnekatunggalika-an; yaitu prinsip hidup Harmony in Diversity.”
(Oleh Tjipto Sumadi*)
SCNEWS.ID-JAKARTA. Bagi yang pernah menonton film laga Rambo yang new release-nya diproduksi oleh perusahaan Millenium Media Balboa Productions atau film sejenisnya, menceritakan betapa tangguh dan perkasanya tentara Amerika Serikat di era Perang Vietnam. Begitu hebatnya, hingga meskipun hanya sendirian, Rambo mampu membunuh puluhan bahkan mungkin ratusan warga Vietnam dalam perang itu. Namun, tidak demikian halnya dengan fakta yang dapat kita saksikan, Amerika Serikat harus pulang ke negerinya pada 30 April 1975. Sejak saat itu, Amerika melepaskan Vietnam Selatan kepada Vietnam Utara. Vietnam Utara dengan ibukota Hanoi dan Vietnam Selatan dengan ibukota Saigon (yang kemudian diubah menjadi kota Ho Chi Minh), akhirnya Amerika Serikat pun meninggalkan Vietnam sepenuhnya.
Tulisan ini tidak akan berkisah tentang Perang Vietnam yang memakan waktu 30 tahun lebih itu, tidak juga membahas film Rambo yang berlaga dari Vietnam hingga ke Afganistan, tetapi tulisan ini akan bercerita singkat tentang Pahlawan Vietnam Ho Chi Minh atau yang lebih akrab dipanggil Uncle Ho. Uraian ini pun tidak dimaksudkan menjadi biografinya Uncle Ho, tetapi hanya ingin memaparkan kunjungan penulis ke Mausoleum Ho chi Minh yang berada di tengah-tengah kota Hanoi, Vietnam.
Jika kita menapakkan kaki di Ba Dinh Square, taman kota seperti Monas, maka akan terlihat sebuah bangunan megah, yang di atasnya tertulis nama Presiden Ho Chi Minh. Di dalam bangunan ini bersemayam jasad Panutan Bangsa Vietnam, Ho Chi Minh yang terletak di lorong tengah dan dilindungi amat ketat oleh anggota militer yang selalu bersiap-siaga mengawal dan mengantisipasi terhadap sesuatu yang tidak diinginkan. Dinding marmer di sekitar terbaringnya jasad Uncle Ho yang dibalsem, semua berwarna merah. Sambil berjalan perlahan, diam, dan tak bersuara, setiap pengunjung harus memberikan hormat dan penghargaan kepada jasad Uncle Ho yang berada di tengah altar megah, dilindungi kaca tembus pandang, dan kerangka besi. Begitulah cara bangsa Vietnam mengagungkan jasad orang yang telah berjasa kepada negerinya.
Penulis beruntung dapat kesempatan memasuki Mausoleum Ho Chi Minh ini, setelah memenuhi undangan dari Presiden Vietnam yang istananya berada tepat di belakang bangunan mausoleum ini. Setelah semua delegasi dari negara-negara ASEAN, termasuk penulis menyampaikan sambutan di hadapan Presiden Vietnam, acara dilanjutkan dengan Foto Bersama, Jamuan Makan Siang, dan kunjungan Mengelilingi Mausoleum.

Mausoleum Ho Chi Minh ini dapat dikunjungi oleh wisatawan mancanegara, namun diatur dengan ketat sedemikian rupa, sehingga pengunjung harus sopan dalam berpakaian, berbicara, dan berperilaku. Wisatawan dapat masuk melalui pintu barat dan menanggalkan semua bawaan yang berbahan metal seperti, handphone, kamera, atau benda lainnya yang dapat diasumsikan mengundang persoalan saat berada di dalam mausoleum. Setelah melalui pemeriksaan yang ketat, pengunjung pun dapat berkeliling memasuki mausoleum bagian dalam yang berisi jasad Uncle Ho yang sudah diawetkan. Saat keluar melalui pintu timur bangunan ini, semua barang yang tadi disimpan di pintu barat, sudah berada di tempat keluar (pintu timur) tanpa berkurang satu benda pun. Sungguh sebuah perjalanan yang mengesankan, penuh rasa ketegangan, namun hikmat, dan menyenangkan.
Hikmah apa yang dapat dipetik dari perjalanan ini, pertama; mengunjungi tempat bersejarah, apalagi ke tempat seorang pahlawan seperti Uncle Ho Chi Minh, dapat membuat hati merasa bangga dan bahagia, karena sempat melihat nilai-nilai sejarah dari sebuah negara, seperti Vietnam. Kedua, pengunjung mendapatkan pelajaran yang bermakna, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya, tanpa memandang perbedaan politik, agama, ras, dan warna kulit. Dengan demikian, mengunjungi situs kepahlawanan dapat membangkitkan gairah dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang berlandaskan pada ke-bhinnekatunggalika-an; yaitu prinsip hidup Harmony in Diversity.
Semoga Bermanfaat.
Salam Wisdom Indonesia
*Mahasiswa Teladan Nasional 1987
Dosen Universitas Negeri Jakarta
