SEKACIP PANTUN (SERI PANTUN DARI HUZAIFA DADANG)

PENGANTAR PANTUN

Secanting hati selesai dibuat,
Pantun bertajuk sekebat nasehat,
Semoga dipakai beroleh manfaat,
Sehingga hidup sempurna nikmat.

Awal dibuka dengan Bismillah,
Berharap syukur kepada Allah,
Hatur Shalawat kepada Rasulillah,
Semoga hidup beroleh berkah.

Ini syair sekacip kata,
Di dalam bait saya menyapa,
Agar tak lekang adat budaya,
Menjaga perangai elok mulia.

Syair dan pantun saling menjalin,
Ibarat tali kuat terpilin,
Bukan bermaksud kepada yang lain,
Hanya silaturrahim erat terjali.

Syair dibuat sebagai awalan,
Agar tak kejut tetsawan-sawan,
Nanti di pantun saya uraikan,
Sekacip kata dalam sapaan.

Sila dibaca gubahan pantun,
Semoga ianya menjadi penuntun,
Mana yang berserak dapat disusun,
Mana yang berselisih kembali rukun.

Tidak bermaksud membusung dada,
Hanya sebatas untaian kata,
Ibarat gajah meninggalkan gadingnya,
Ibarat harimau punya belangnya.

PANTUN SEKACIP KATA

Kain sutra bentang yang rata,
Bersanding kebaya elok disusun,
Bismillah saya membuka kata,
Berseni sastra di bait pantun.

Kain sutra bentang yang rata,
Tampak indah lekuk ukiran,
Bismillah saya membuka kata,
Pantun digubah untuk dilestarikan.

Kain sutra bentang yang rata,
Kenegri sebrang hendak dikirim,
Bismillah saya membuka kata,
Syukur kepada Allahul Karim.

Kain sutra bentang yang rata,
Jangan dipuruk kedalam bakul,
Bismillah saya membuka kata,
Shalawat dan salam kepada Rasul.

Kain sutra bentang yang rata,
Tampak bias indah kilauan,
Bismillah saya membuka kata,
Kepada yang tua mohon laluan.

Kain sutra bentang yang rata,
Simpan di peti tutup yang rapat,
Bismillah saya membuka kata,
Kepada yang tinggi disapa daulat.

Kain sutra bentang yang rata,
Tampak indah jadikan penyekat,
Bismillah saya membuka kata,
Kepada yang rendah kurangkul erat.

Kain sutra bentang yang rata,
Kilat dan kilau diwaktu malam,
Bismillah saya membuka kata,
Kepada yang jauh kutitip salam.

Kain sutra bentang yang rata,
Sulam jerumat di Malang Rapat,
Bismillah saya membuka kata,
Kepada yang dekat kujemput rapat.

Kain sutra bentang yang rata,
Disulam bunga kuncup sekepal,
Bismillah saya membuka kata,
Menyapa yang pandai cerdik berakal.

Kain sutra bentang yang rata,
Jemur diatas rumpun selasih,
Bismillah saya membuka kata,
Teruntuk Istri penenun kasih.

Kain sutra bentang yang rata,
Dikirim jauh ke Pulau Jawa,
Bismillah saya membuka kata,
Teruntuk anak untaian jiwa.

Kain sutra bentang yang rata,
Dibawa saudagar dari Tembelan,
Bismillah saya membuka kata,
Menyapa semua handai dan taulan.

Kain sutra bentang yang rata,
Di negeri Arab tolong belikan,
Bismillah saya membuka kata,
Semoga pembaca dapat terpuaskan.

SYAIR 1

Demikian disampaikan pantun pembuka,
Dirangkai menjadi sekacip kata,
Mana yang cacat jangan dicela,
Salah dan silaf sifatnya manusia.

Kita masuki babak berikutnya,
Setelah pantun sekacip kata,
Ibarat tetamu hendaklah disapa,
Agar seronok dalam bicara.

Berikut ini saya mencoba,
Membuat pantun yang lain pula,
Secanting hati ianya bernama,
Sebagai ungkapan segenap jiwa.

Kenapa disebut secanting hati,
Bukan segantang atau sepeti,
Tersebab yang besar kepada Illahi,
Setelah itu Ibu dan Istri.

Secanting hati ibarat sukat,
Setiap haluan ianya bertempat,
Tak boleh tumpah ataupun rapat,
Tetap terdedah agar manfaat.

Tanpa saya berpanjang lebar,
Sila dibaca pantun dijabar,
Tiada bermaksud mengumbar-ngumbar,
Hanya sebatas memberi kabar.

(Bersambung)

Tanjung Pinang, Sabtu 26 Juni 2021.

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini