STRATEGI PENGALIHAN
“Disadari akan banyaknya aral melintangi jalan menuju kejayaan bangsa, termasuk pandemi covid yang berkepanjangan. Walaupun begitu, tetaplah tidak boleh dilupakan bahwa zaman teknologi informasi telah bersama kita dan perlu disikapi sebagai prioritas, dengan sebaik baiknya”
(Oleh : IBG Dharma Putra)
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Untuk mengikuti perjalanan zaman, di era ilmu pengetahuan dan teknologi ini, Indonesia mau tidak mau, siap atau tidak siap dan suka atau tidak suka, wajib tetap beradaptasi jika tidak ingin bangkrut dan musnah sebagai sebuah negara bangsa.
Memasuki zaman yang telah diwarnai oleh fenomena komunikasi yang semakin canggih, memerlukan kearifan tersendiri. Diperlukan aksi dan antisipasi karena teknologi informasi penuh dengan berbagai manfaat, tapi juga berisi banyak potensi kerusakan.
Manfaat dan kerusakan yang terjadi, lebih banyak disebabkan oleh perbenturan paradok antara teknologi dengan budaya, sehingga menimbulkan kebodohon robotik yang konyol serta kehidupan hampa tak berisi empati.
Fenomena manusia yang kehilangan akal sehat dan meniru robot, sedang ditanggulangi oleh para cendkiawan muda dibelahan dunia lain, dengan berupaya memasukkan aspek budaya kedalam media teknologi informasi di waktu mendatang.
Disamping perbenturan paradoksal tadi, era teknologi informasi juga berpotensi menjadi sumber keterpurukan sebuah bangsa, jika bangsa itu, memanfaatkan kecanggihannya tanpa penyiapan manusia pengelolanya.
Teknologi informasi, hakekatnya merupakan bidang teknologi, yang membantu manusia dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengomunikasikan, dan menyebar luaskan informasi.
Karena pengertian itu, jelaslah bahwa fungsi teknologi informasi adalah mencari data, memproses data, mulai dari menyusun data, menyimpan, mengolah, menganalisa serta mengubah data menjadi informasi.
Sejalan dengan hakekat serta fungsinya, teknologi informasi berguna untuk membuat aktivitas manusia semakin mudah dan sangat potensial bagi terciptanya kehidupan yang semakin baik.
Jenis kegiatan yang menjadi mudah dengan sentuhan teknologi informasi meliputi bidang pendidikan, industri, bisnis, perbankan, militer, pemerintahan, kedokteran, ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri.
Karena manfaat dan potensinya itulah, maka hampir semua negara berebut cepat dalam menggunakan teknologi informasi, terkadang sampai terlupakan untuk menyiapan antisipasi cerdas terhadap sisi mudharatnya.
Kealfaan antisipasif bisa berakibat terjatuhnya sebuah negara dengan menjadikan warganya hanya sebagai pemakai perangkat teknologi tanpa kemampuan memproduksi, bahkan tak mampu hanya sekedar meniru.
Public alarm, akan terjadinya keterpurukan bangsa oleh pemakaian perangkat teknologi informasi, telah berdering sangat nyaring di nusantara tercinta.
Alarm tersebut berbentuk maraknya pemakai perangkat teknologi informasi, dalam berbagai bentuk serta kecanggihannya, tanpa disertai dengan kecukupan jumlah serta mutu cendikia bidang teknologi informasi.
Kelangkaan ahli teknologi informasi, sebagai programer maupun pemelihara dan pembuat perangkat kerasnya, diduga akan berlangsung cukup lama karena sekolah dan perguruan tinggi bidang keilmuan tersebut masih sedikit.
Kesenjangan antara kebutuhan dan pasokan, memerlukan pemecahan amat segera, dalam kecepatan yang lebih dari sekedar program jangka pendek dan lebih tepat dikatakan sebagai penyelamatan kedaruratan yang dibungkus dalam strategi pengalihan,
Penyelamatan kedaruratan tersebut, dilakukan dengan menyediakan tenaga penganti untuk mengerjakan kewenangan para ahli teknologi informasi, sebelum nantinya diambil alih kembali setelah pasokan ahli ini tercukupi.
Sebuah penyelamatan darurat, yang mengalihkan kewenangan ahli kepada jebolan kursus, wajib diikuti dengan penyiapan balai pelatihan baru bidang teknologi informasi, selaligus dengan memprioritaskan pelatihan bidang teknologi di balai pelatihan lama.
Restrukturisasi, revitalisasi dan reformasi balai pelatihan untuk penyediaan tenaga penganti ahli, dilakukan secara linier dan berbarengan dengan penyiapan sekolah, vokasi dan profesi teknologi informasi dengan jumlah dan mutu baik.
Bukankah sejak lama, secara turun temurun, telingga telingga kita, telah mendengar elusan nasehat, “tak ada rotan, akarpun jadi”. Inilah saatnya, untuk mempraktikkan nasehat itu dalam keseharian kita.
Strategi pengalihan diusulkan agar Indonesia bisa lebih cepat melewati nasib buruknya, sebagai negara dengan penduduk pemakai teknologi informasi terbesar namun tidak mampu memproduksinya.
Strategi pengalihan, akan bisa disukseskan, apabila ada api semangat yang membara di sanubari setiap anak bangsa dalam menjaga kedaulatan dan kehormatan bangsanya.
Bukanlah trisakti mengamanatkan kedaulatan sebagai pesannya yang pertama, bersama sama dengan menjaga kemandirian dan kharakter budaya bangsa.
Untuk keberhasilan strategi pengalihan ini, kedaulatan, kemandirian dan kharakter harus didahulukan dibandingkan dengan hitungan para pedagang, yang melihat masalah dari aspek yang menghasilkan lebih banyak uang.
Keberhasilan strategi pengalihan hanya bisa tercipta jika dipunyai niat berkomunikasi dan kemampuan berkokaborasi dengan melakukan dialog kritis untuk memunculkan potensi kreatif inovatif bangsa ini.
Jika komunikasi, kolaborasi yang didasari dengan pemikiran kritis dan penuh daya kreatif, bukan tidak mungkin akan terjadi percepatan pencapaian tujuan karena strategi pengalihan telah disempurnakan dengan tambahan terobosan inovatif didalamnya.
Singkirkan sejenak, keinginan cepat mendapat untung besar dan segera ambil alih semua kemungkinan untuk bisa memproduksi semua alat dengan program berteknologi informasi yang canggih itu oleh anak bangsa sendiri.
Disadari akan banyaknya aral melintangi jalan menuju kejayaan bangsa, termasuk pandemi covid yang berkepanjangan. Walaupun begitu, tetaplah tidak boleh dilupapan bahwa zaman teknologi informasi telah bersama kita dan perlu disikapi sebagai prioritas, dengan sebaik baiknya.
Marilah berjuang bersama, mewujudkan Indonesia hebat 2045.
Banjarmasin
20062021
