KREDIBEL DAN BERMUTU
“Akhirnya harus diakui bahwa pandemi covid yang berkepanjangan membuat kondisi yang melelahkan dengan berbagai dampak ikutan. Walaupun begitu, jangan biarkan pandemi ini, membuat sirna semangat perlawanan kita. Manusia wajib tetap berkreasi serta mencari terobosan dan jalan baru perlawanan hingga tidak terjebak pada rutinitas belaka. Bukankah hakekat rutinitas adalah kematian semasih bernyawa”
(Oleh : IBG Dharma Putra)
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Rumah Sakit dan berbagai tempat pelayanan isolasi, ternyata tak lagi mampu menampung untuk merawat masyarakat yang memerlukan pelayanan disaat ledakan kasus covid, hanya beberapa hari setelah hampir semua rumah sakit itu, menyatakan kesiapan antisipatifnya.
Salah satu penyebab dari adanya kekonyolan tersebut tentunya sebuah kebijakan antisipatif yang tidak tepat karena pengalaman dan data yang dimiliki lebih dari setahun, tidak mampu memberi informasi keadaan masyarakat yang sebenar benarnya.
Kekonyolan karena keterlambatan mengambil hikmah, karena sebenarnya, seberat apapun masalah, akan membawa hikmah didalamnya dan hikmah setahun pandemi covid adalah dimilikinya gambaran klasifikasi kasus covid di daerah masing masing.
Dari kumpulan data setahun lebih, diketahui seberapa banyak masyarakat yang terkena covid, berapa yang tidak bergejala, berapa yang bergejala ringan, sedang dan berat, berapa kasus yang perlu isolasi di rumah isolasi dan perawatan di rumah sakit, berapa kebutuhan perawatan dan pengobatannya dan berapa kantong jenasah yang terpakai.
Catatan lain yang perlu dicermati bahwa covid wuhan yang menjadi virus penyebab pandemi setahun lalu, telah bermutasi dan mempunyai beda karakter menjadi lebih menular sebanyak 30 persen pada mutasi pertamanya menjadi covid england dan mutasi berikutnya menjadi covid india dengan daya tular yang meningkat sebesar 60 persen dibandingkan england.
Kondisi mutasi virus diatas, berarti covid india lebih menular 208 persen jika dibandingkan
dengan covid wuhan, sehingga prediksi kasus yang potensial bisa terjadi pada ledakan kali ini adalah dua kali lipat catatan kasus setahun pandemi.
Hitungan selanjutnya adalah hitungan tentang kesiapan infra struktur, berbagai sumber daya, metodelogi disertai strategi pengalihan serta penguatan jika diperlukan. Dan hitungan itulah yang disebut sebagai kesiapan antisipasi lonjakan kasus seperti yang pernah saya tulis pada tanggal 28 April 2021 dan ditayangkan melalui media ini.
Dan hitungan ini, sebaiknya disesuaikan dulu dengan nilai hitungan kasus covid jika datanya kredibel dan bermutu. Interpolasi sederhana hendaknya dicobakan sehingga persiapannya menjadi lebih sesuai. Dengan dasar pemikiran bahwa data yang tidak kredibel dan tidak bermutu belum mengambarkan jumlah kasus yang sebenarnya karena banyak kasus yang ada, berpotensi besar tidak ditemukan.
Data disebut kredibel jika testing epidemiologi memenuhi cakupan serta dikatakan bermutu jika semua laporan yang diwajibkan terkumpul tepat waktu secara lengkap.
Kegagalan yang sama, sangat mungkin terjadi kembali jika pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka ( PTM )sebagai kesempatan untuk hidup normal dengan risiko rendah, dilakukan tanpa mengindahkan analisa data yang kredibel dan bermutu.
Pelaksanaan PTM disaat masyarakat dilanda kelelahan pandemi, bak pucuk dicinta ulam tiba, karena didalam pelaksanaan PTM bisa dilakukan empat kegiatan yang dianjurkan untuk mengatasi kelelahan masyarakat oleh pandemi yang berkepanjangan.
Keempat kegiatan tersebut meliputi, sosialisasi peningkatan pengerahuan, menggeser peran serta masyarakat dari objek menjadi subjek, memberi kesempatan hidup normal berisiko rendah dan mengakui serta menyelesaikan semua keluhan masyarakat.
PTM seolah menjadi tempat yang ideal untuk melawan kelelahan pandemi karena keempat anjuran dapat dihimpitkan dalam pelaksanaan PTM. PTM bisa dijadikan tempat pemberian ilmu pengetahuan covid yang efektif karena guru sangat dipercaya oleh murid dan murid akan sangat fokus karena ada ujiannya. Murid yang nantinya menjadi subjek penularan ilmu covid kepada keluarga dan masyarakatnya.
PTM juga merupakan jalan keluar dari keluhan masyarakat tentang anak anaknya yang tidak bertambah pandai oleh pembelajaran online, sekaligus merupakan tempat belajar untuk hidup berdampingan dengan covid secara aman serta nyaman. Dan aman serta nyaman itu, hanya jika tercipta jika bisa dikenali sifat covid dengan sangat baik.
Pengenalan covid bisa melalui teori tetapi bisa juga dengan data pengalaman emperis yang kredibel dan bermutu. Artinya jika data sudah kredibel dan bermutu, PTM bisa dimulai sesuai ketentuan formal yang ditetapkan pemerintah, sementara jika data belum kredibel atau belum bermutu, disarankan dilakukan uji coba PTM di sekolah yang paling ideal.
Uji coba pada hakekatnya dilakukan untuk mendapat pengalaman emperis hidup normal berisiko rendah, karena teori yang merupakan kumpulan pengalaman tak bisa diterapkan karena data yang tidak optimal.
Artinya, jika data dikumpulkan berlandaskan teori maka pendekatan teoritis yang sesuai dengan anjuran pemerintah bisa ditiru, tetapi jika data terkumpul belum kredibel dengan mutu tak optimal maka pengalaman sendiri disaat uji cobalah yang akan diterapkan ke semua sekolah di daerah itu. Bukankah pemimpin seharusnya dibekali dengan bekal teori, pengalaman emperis dan intuisi.
Akhirnya harus diakui bahwa pandemi covid yang berkepanjangan membuat kondisi yang melelahkan dengan berbagai dampak ikutan. Walaupun begitu, jangan biarkan pandemi ini, membuat sirna semangat perlawanan kita. Manusia wajib tetap berkreasi serta mencari terobosan dan jalan baru perlawanan hingga tidak terjebak pada rutinitas belaka. Bukankah hakekat rutinitas adalah kematian semasih bernyawa.
Ayolah, kumpulkan data dengan kredibel dan bermutu sebagai hulu terhulu dari perlawanan manusia terhadap covid.
Banjarmasin
14072021
