MEMBACA ALAM
“Membaca alam, membasuh jiwamu bersihkan hati, menjadi beruntung karena masih terharu melihat atau mendengar lagu dan laku pahlawan serta semangat perjuangan. Membaca alam adalah keheningan sunyi didalam jebakan rutinitas ini, maka diamlah, membaca alam memperhatikan teman serta mengembara didalam pergeseran cara berpikir negatif menuju ke positif sebelum menjadi produktif dan akhirnya menjadi cara berpikir kritis kreatif”.
(Oleh : IBG Dharma Putra)
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Rutinitas kerja, terkadang membuat lupa akan waktu, semua seakan cepat berlalu dan tiba tiba saja, telah kehilangan waktu. Seolah waktu telah berhasil membunuh walau sebenarnya tak seharusnya begitu, karena hidup wajib selalu bertambah baru, dari waktu ke waktu.
Rutinitas, merupakan keseharian yang tidak terhindari, karena adanya tuntutan perut dan hidup. Rutinitas wajib disikapi, agar sifatnya yang merampok waktu, tidak membuat beku dengan kegiatan dari itu ke situ. Penyikapan dilakukan supaya rutinitas terkelola cerdas pada sisinya yang menyediakan segala jawab, yaitu sebagai sebuah kesempatan, membaca pada alam dan semua peristiwanya.
Membaca alam, bisa dilakukan disela ataupun bersamaan dengan rutinitas kerja,karena tidak tergantung tempat serta waktu. Membacanya bisa kapan saja, dimana saja, sambil kerja apa saja. Hingga tak akan mengganggu rutinitas sekaligus tak terganggu oleh rutinitas.
Terdapat bonus tersendiri yang menyertainya, karena adalah membaca alam, dapat menjadi modal untuk meraih kepandaian di kemudian hari. Kelak, kepandaian tak didapatkan karena sering memberi jawaban, tapi oleh kecerdasan bertanya. Akan ada, sebuah era ketika setiap jawaban selalu disampaikan terlambat serta kalah cepat dibandingkan oleh sistem.
Dan disaat itulah, kemampuan bertanya serta menjadi seorang penanya menjadi hal penting. Penanya yang cerdas akan terbiasa membuat pertanyaan kritis, memancing inspirasi serta sangat mencerdaskan. Model pertanyaan nan bodoh dan saking bodohnya akan menjadi bahan tertawaan semua yang mendengarnya, padahal pada saat mentertawakan, mereka sebenarnya tak mampu mencari jawabnya. Model bertanya sangat mendasar yang seolah tak perlu ditanyakan jika dibiasakan akan bisa membawa si penanya pada kemampuannya dalam menjawab sebelum ditanya.
Adakah jawaban yang diberikan lebih cepat dari jawaban yang bisa diberikan sebelum ada pertanyaan. Tentunya tidak akan ada, hingga layak jika pemberi jawabnya dikatagorikan sebagai sangat pandai. Dan kepandaian seperti itu, didasari dengan kemampuan membaca alam.
Seorang pembaca, bertanya pada alam, pada semua peristiwa dan bahkan pada puncaknya mempertanyakan dirinya. Semakin lama, akan semakin pandai dan akhirnya, akan tiba pada era keheningan, bertanya dalam diamnya.
Dia bertanya pada burung dan semua hewan, pada tumbuhan dan pohon pohon serta pada disekitarnya. Bertanya untuk yang dilihatnya didengar, terlihat dan terdengar. Artinya tidak selalu bertanya dengan mulutnya, tapi dengan matanya, dengan otaknya serta dengan hati nuraninya.
Bertanya dengan mulut sudah sangat biasa dan akan mendapat jawaban biasa, bisa hanya dogeng yang tertangkap panca indra tapi tidak kasat mata. Saat bertanya dengan matanya, mulutpun ikut berbicara, hingga terdengar bising tapi hanya terjawab persepsi, hingga tanyanya berlanjut pada binggungnya perdebatan tanpa berhenti.
Bertanyalah dengan otakmu, untuk hindari perdebatan yang hanya seru tapi tak tentu, karena otakmu akan merangsang pikiran serta nalar untuk telusuri ilmu, untuk mendapatkan kebenarannya. Bertanya dengan berpikir mulai mengunci mulutmu tapi masih mengkerutkan dahimu dengan ekspresi yang mengantung berbagai persepsi.
Bertanya dengan hati nurani, akan membawa para pembaca alam pada keberuntungan yang selalu dan semakin baru. Mulutnya telah diam dan ekspresipun biasa saja. Keheningan haru menyelimuti hatinya dan membawanya pada ketengan bahagia tanpa perdebatan. Mulai pandai karena bisa menjawab sebelum ditanya. Jawaban ada sebelum datangnya pertanyaan.
Tentunya tidak langsung seperti itu, ada proses dan selalu mulai dari awal, membaca dengan cara yang biasa. Tidak sedikit cerita, telah ditulis dari membaca alam.Tulisan inspiratif yang bukan rahasia dan sudah menjadi milik semua. Sehingga tidak salah kiranya jika ikut dibacanya dan sekaligus menjadikannya sebagai bahan untuk mulai mengali kemampuan dalam membaca alam.
Ada yang terbang bersama elang, mengarungi sunyinya angkasa biru, ketempatnya bukti, adanya beribu derita pilu yang membuatnya tetap perkasa. Elang mempunyai noktah perjuangan di masa hidup, untuk tetap bisa berjaya. Menunggu tumbuh bulu, berganti paruh, menanggalkan yang lama, dengan benturan paksa ke batuan dunia
Ada yang bersua dinosaurus di alam mimpinya, karena tidak sekalipun, pernah makhluk itu tidak ada di alam nyata. Dino tampak menakutkan, kuat serta berkulit kebal senjata, tapi telah termusnahkan zamannya. Dino menjadi misteri mimpi karena terlalu berani, tidak punya toleransi, tidak bisa mawas diri sehingga terlambat beradaptasi.
Seharusnya dino, belajar pada kecoak, binatang sangat papa, sekaligus tidak beguna tapi bisa bertahan hidup lama, sampai kini dan mungkin juga nanti. Kecoak hidupnya lama, karena pandai adaptasi. Jika manusia, bisa jadi tidak berideologi, dan rela diri, untuk ikut dan menyesuaikan diri dengan yang kuasa dan yang kaya. Semoga saja tidak bercampur gila.
Ada yang menyarankan, agar tidak lupa untuk belajar dan membaca kehidupan tupai, hanya supaya bisa lebih menghargai kera. Ada pepatah yang berpesan, sepandai pandai tupai melompat, sekali kali gawal juga. Dan kegagalan tupai akan membawa ingatan pada kera, karena kera tidak begitu.
Monyet dipastikan takkan pernah gugur dari pohon tempatnya berloncatan, karena tangannya, takkan mau melepaslan dahan yang dipegang sebelum tangan lainnya, dipastikannya memegang erat dahan lainnya. Bak seorang staf disebuah perusahaan, jika dia pembaca alam, maka sebelum berdebat dengan atasan, sebaiknya ada perusahan lain yang siap menerimanya.
Hidup juga perlu berguru pada buaya, secara rela tanpa terpaksa, memilih setia, tidak kawin lagi walaupun pasangannya mendahuluinya ke dunia sana. Itulah yang mungkin disebut sebagai sehidup semati, karena saat pasangannya mati maka hati dan cintanya ikut mati bersama dan menyisakan setia untuk menemani hidupnya.
Kesetiaan ikonik buaya, diabadikan dalam wujud roti buaya, yang dibawa lelaki, diwaktu memajukan lamaran kepada wanitanya. Sebagai ikrar kesetiannya. Dan si wanita hanya bisa berdoa, agar buaya yang datang padanya bisa dirayunya tetap berada di air, karena jika tidak begitu, akan berubah menjadi buaya darat dan ikrarnya menjadi satu hidup satu mati.
Ingatlah juga kepada rumpun bambu, daunnya bercengkrama serta berbisik mesra di telinga, bercerita masa awal kehidupannya, disengaja tidak bertumbuh untuk memperkuat akarnya. Di dua tahun pertamanya, hanya memperkuat kuda kuda, selanjutnya bergerak lincah untuk menguasai dunianya. Sebuah pertanda bahwa karakterlah yang utama.
Karakter itulah yang diperlihatkan oleh seekor macan pada manusia. Binatang buas teramat ganas, tapi tidak pernah memangsa anaknya. Macan tak setega manusia, yang makan apa saja, bahkan siapa saja. Memakannya bukan karena lapar dahaga tapi karena tamak serta loba. Kerakusan melanda dan dunia dipenuhi bencana.
Tidak bisakah meniru batu,yang lugu dan diam membisu, tidak manis, tidak pahit, tidak asin, tidak sepat dan tidak asam tapi tetap terasa, dengan rasa yang bebas dari nuansa segala rasa. Cerminan indepedensi yang tidak netral tetapi sebuah pemihakan independen, secara spontan, akan berjalan bareng dengan semua aksi yang dipersembahkan bagi kepentingan masyarakat banyak.
Membaca menjadi tak berbatas karena semua isi dunia bisa dibaca serta menginspirasi. Batu dan semua benda mati, pohon dan tumbuhan, apalagi manusia, adalah guru, termasuk para sahabatmu sehingga tulisan tak akan pernah habis sepanjang masa.
Tidak jarang dalam bacaan yang sudah umum terdapat detail ataupun masalah khusus yang belum terbaca. Tetapi tidak jarang pula, harus membaca alam yang belum terbaca sebelum era kita. Semuanya terbuka untuk dibaca atau ditafsirkan ulang sesuai situasinya.
Dan semuanya berpulang kepada kemandirian serta hanya sedikit pengaruh luarnya, seperti telur, mendapat perlakuan sama induknya dan hanya menetaskan menjadi anak ayam jika dia sendiri menginginkannya. Anakan ayam, bisa keluar setelah mematuk sendiri cangkangnya dari dalam dan bukan oleh induknya. Yang tak begitu, akan berakhir menjadi telor busuk.
Membaca alam, membasuh jiwamu bersihkan hati, menjadi beruntung karena masih terharu melihat atau mendengar laku pahlawan serta semangat perjuangan. Membaca alam adalah keheningan sunyi didalam jebakan rutinitas ini, maka diamlah, membaca alam memperhatikan teman serta mengembara didalam pergeseran cara berpikir negatif menuju ke positif sebelum menjadi produktif dan akhirnya menjadi cara berpikir kritis kreatif.
Buatlah kecerahan bumi, sehingga mudah dan jelas terbaca, hingga mencerdaskan penghuni dunia. Kecerdasan akan membawanya pada bahagia.
Banjarmasin
15082021
