“1,2,3,4,5 DAN SERIBU” (SERI OPINI IBG DHARMA PUTRA)

“1,2,3,4,5 DAN SERIBU”

“Hikmah untuk selalu belajar dalam penugasan serta tidak kecewa pada ketidak sempurnaan hasilnya akan ditulis tersendiri, karena kali ini, saya hanya ingin menulis tentang pengalaman pengelolaan institusi selama melaksanakan semua penugasan itu, sebagai inspirasi bagi yang masih memimpin dalam penata kelolaan organisasinya. Dan supaya terlihat keren, diberi judul 1,2,3,4,5 dan seribu, sesuai pointer yang disarankan”.
(Oleh : IBG Dharma Putra)

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Saya mempunyai pengalaman penugasan unik dari sejak awal kelulusan saya. Pada masa kuliah, saya menekuni ilmu pengobatan sebagai dasar karena akan bisa dipakai berpraktik menyembuhkan. Ternyata setelah dinyatakan lulus, saya ditugaskan tidak untuk mengobati semata tetapi lebih banyak pada tugas untuk mencegah menjadi sakit. Sangat jauh dari kompetensi walaupun masih mirip serta pernah dipelajari, walaupun sedikit sekali.

Di waktu selanjutnya, saya tetap mendapat penugasan unik, bahkan semakin jauh dari kompetensi saya. Dan saya merasa tidak pernah berhasil meraih penugasan sesuai dengan cita cita serta harapan saya, karena selalu diberi penugasan tak terduga maupun tak terencana bahkan tidak jarang mendapat tugas berbeda dengan kompetensi ijazah yang ada.

Jadilah saya, seperti apa adanya saya disaat ini, dengan pengalaman mengembara menikmati nuansa tamparan kemalangan nasib semata, tetapi tetap merasakan bahagia. Bahagia yang muncul karena penugasan unik itu disertai oleh banyak sisi positif yang bisa ditimba, terutama dengan didapatnya spontanitas menghadapi situasi baru dan kemampuan tidak kecewa dalam menerima kenyataan didepan mata.

Dan karena penugasan unik itu pula, dalam waktu yang tidak terlalu lama, saya menjadi punya pengalaman menata organisasi sejak awal dan tersadarkan akan adanya kekuatan maha dasyat serta sangat berkuasa terhadap jalannya kehidupan saya, yang harus diterima jika ingin bahagia.

Bersamaan dengan itu, timbul pula, kesadaran akan adanya phenomena unik, bahwa kemampuan selalu datang terlambat sehingga hidup hakekatnya tidaklah sempurna. Perjalanan perasaan saya, yang merasa menjadi lebih mampu setelah menyelesaikan penugasan dibandingkan dari sebelumnya, berakibat selalu tidak lupa belajar sebagai kewajiban disetiap penugasan. Tanpa belajar, penugasan akan berujung derita serta duka karena kegagalan berupaya .

Belajar dari selalu dari buku dalam bentuk teori tapi lebih sering dari pengalaman semata. Pengalaman salah dan mencoba kembali sampai menjadi tak terlalu salah bahkan mendekati benar.

Pengalaman itu juga, menimbulkan kesadaran bahwa hidup akan selalu kecewa jika selalu menginginkan kesempurnaan karena hakekatnya, hidup ini terisi banyak salah khilaf. Dan kesempurnaan hanya bisa didekati serta hampir tercapai jika tujuan hidup hanyalah menjemput kematiannya.

Hikmah untuk selalu belajar dalam penugasan serta tidak kecewa pada ketidak sempurnaan hasilnya akan ditulis tersendiri, karena kali ini, saya hanya ingin menulis tentang pengalaman pengelolaan institusi selama melaksanakan semua penugasan itu, sebagai inspirasi bagi yang masih memimpin dalam penata kelolaan organisasinya. Dan supaya terlihat keren, diberi judul 1,2,3,4,5 dan seribu, sesuai pointer yang disarankan.

Satunya adalah loyalitas, yaitu kesetiaan pada penugasan. Secara luas, loyalitas dapat dipahami sebagai rasa pengabdian serta kepatuhan mutlak terhadap tujuan berbangsa yaitu Panca Sila, dan itu berarti panduan dasar penugasan adalah kelima sila dari Panca Sila dan tak boleh ada upaya yang berbeda dengannya.

Loyalitas membuat bisa bertindak independen dengan melakukan pemihakan independen. Sebuah pemihakan yang membuat tetap bisa berada dalam kesepakatan berbangsa serta bisa bekerja sama atau bekerja bersama dengan semua insan yang berada pada alur Panca Sila dan dengan sendirinya berbeda jika berada dialur yang tak sesuai dengan Panca Sila.

Duanya, adalah kejujuran serta keberanian. Kejujuran berasal dari kata jujur yang berarti keterbukaan jiwa karena mempunyai kemampuan membunyikan pikiran sekaligus melaksanakan perkataannya. Sebuah pengakuan tentang fakta yang dilihat, diraba, dirasakan tanpa sedikitpun ada yang disembunyikan.

Sedangkan keberanian, berasal dari kata berani, yaitu penyikapan ataupun tindakan yang tidak terlalu risau terhadap kemungkinan buruk yang dapat menimpa karena tindakannya. Berani pada hakekatnya adalah sebuah kerelaan mengalami kerugian atas tindakannya yang benar. Keberanian bukan tidak mengenal takut tapi merupakan rasa takut yang dikelola secara benar.

Jika kejujuran dijaga secara konsisten dengan penuh keberanian, maka kombinasi ketiganya akan melahirkan integritas, sebuah keluhuran karakter yang muncul dari bersatunya pikiran, perkataan serta perbuatan. Keberanian untuk konsisten jujur, berlaku disemua aspek yang menyangkut orang, tempat dan waktu.

Loyalitas disertai integritas akan membuat tak ragu untuk bersikap tegas, sekaligus memberi daya mampu mengarahkan biduk organisasi secara jelas dan benar, sehingga juga akan memberi daya mampu mempersembahkan sebuah keberhasilan, diujung akhir tindakannya. Tiga buah kombinasi kemampuan ideal, yang selayaknya dimiliki oleh seorang manajer.

Tiganya, adalah keteraturan, jenjang kesatuan komando dan pengawasan. Sebuah trias yang sangat diperlukan dalam mengelola organisasi. Secara sederhana dapat ditunjukkan dalam bentuk kewajiban pembuatan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam bekerja, atau setidaknya berupa pedoman umum, dengan penambahan tentang tindakan yang boleh serta dilarang untuk dilakukan, secara tegas dan jelas.

Semua pedoman wajib dipatuhi, hingga perlu disusun jenjang komando agar dapat dipastikan terlaksananya kepatuhan dan satu kesatuan komando tersebut. Jika keduanya tak terasakan ada dalam organisasi maka konsekuensinya adalah sebuah keharusan perombakan personil disaat itu juga,tanpa ada kompromi serta jeda waktu sedikitpun.

Pengawasan pada prinsipnya melihat karakter dan kinerja anggota organisasi, jika salah satu dari keduanya memburuk berarti kelumpuhan terjadi pada pemahaman serta pengamalan pedoman. Jika kinerjanya yang buruk, dapat menjadi dasar bagi dilakukannya konsultasi, latihan,magang ataupun kalakarya.

Jika karakter yang terbukti buruk, dapat dijadikan dasar untuk tidak memperpanjang bahkan menghentikan kontrak kerja. Dan jika keduanya, baik karakter dan kinerjanya buruk, berarti telah terjadi kelumpuhan pembinaan, karena pembiaran berjalannya karakter buruk oleh atasannya. Dan itu berarti, keduanya harus dikeluarkan dari organisasi.

Empatnya adalah penciptaan harmoni antara penilaian, pemberian penghargaan, pemberian tanggung jawab tambahan disertai pemberian kesempatan berkembang. Sebuah kondisi nan harmoni yang merupakan penumbuh motivasi serta kinerja.

Keempatnya wajib saling mendukung, diawali oleh penilaian prestasi kerja yang jelas, benar, lengkap dan adil bagi semua orang. Penilaian dijadikan dasar pemberian penghargaan serta pemberian tanggung jawab tambahan berupa promosi jabatan serta pemberian kesempatan berkembang dalam bentuk pendidikan serta pelatihan ataupun kesempatan lainnya.

Semuanya akan terjadi jika ada niat baik serta dimulai dengan keterbukaan komunikasi dan kecerdasan pengelolaan perbenturan dialogis, menerima semua aspirasi, dan sekaligus akan menimbulkan partisipasi, bagi adanya budaya organisasi yang semakin membaik.

Limanya adalah mendengar keluhan petugas, memberi nasehat, mengajak, mengambil alih pekerjaan dan terkadang sengaja untuk tidak tahu menahu dan tidak ikut campur jika terjadi konflik personal sangat pribadi. Karena selalu ada konflik dalam pergaulan dan hanya konflik yang mempengaruhi kinerja saja yang menjadi tugas organisasi.

Jika konflik tersebut bersifat pribadi dan tidak berpengaruh pada kinerja, wajib untuk tidak dicampuri supaya tidak menjadi kontro produktif terhadap pencapaian tujuan organisasi. Hanya konflik yang mempengaruhi kinerja saja, yang wajib segera ditangani.

Para petugas terkadang hanya perlu didengar serta tidak memerlukan lebih dari itu. Menyampaikan keluhan dan kerumitan pelaksanasn pekerjaan kepada atasan, sering sering sebagai bentuk penyegaran jiwa dan raganya, sebelum kembali pada kinerjanya semula. Sediakanlah waktu untuk mendengar dan berikan sepenuh telingga dengan sepenuh hati, sehingga bisa dirasakan oleh staf sebagai sebuah kepedulian

Ada yang tidak cukup didengarkan saja tetapi memerlukan nasehat bahkan bimbingan. Beri nasehat dan atau ajak menyelesaikan masalahnya bersama, karena mengajak lebih mudah diikuti dibandingkan dengan sekedar menyuruh saja.

Itupun terkadang sangat lamban diselesaikan sehingga dalam kondisi tertentu, perlu diambil alih supaya bisa selesai tepat pada waktunya. Karena kondisi seperti itulah, diperlukan pengetahuan, pengalaman dan intuisi bagi para pembina. Tidak gampang untuk mendengarkan, memberi nasehat, mengajak serta dan mengambil alih pekerjaan jika tak dipunyai tiga bekal diatas

Seribunya adalah berbagai kepentingan serta seribu gaya hidup yang perlu dihadapi dengan seribu kreatifitas untuk menjadi lebih baik dan terus semakin baik. Sebuah kreatifitas bukan berasal dari keliaran tak terkendali tapi berupa buah kedisplinan.

Disiplin membuat terbiasa mengikuti standard, sebuah kebiasaan yang memunculkan daya mampu memodifikasi standar menjadi lebih berdaya guna, berhasil guna serta tepat guna dan pada akhirnya menimbulkan kreatifitas.

Begitulah pengalaman penugasan unik itu, memberikan pengetahuannya kepada saya dan tentu saja akan sulit ditemukan dalam teori pengelolaan organisasi yang baku karena memang hanya sebuah pengalaman semata.

Banjarmasin
30082021

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini