CUPU MANIK ASTAGINA DAN KASIH PEREMPUAN (SERI OPINI IBG DHARMA PUTRA)

CUPU MANIK ASTAGINA DAN KASIH PEREMPUAN

“Potongan cerita yang biasa dan seolah tanpa makna tapi jika ditelisik “ time seriesnya ” akan dapat datangkan inspirasi bagi semua, bahwa kasih perempuan, khususnya perempuan yang bernama ibu, tak akan pernah luntur dimakan oleh zaman. Kasih perempuan itu, abadi serta menyelamatkan jika dikelola dengan adil”.

Oleh : IBG Dharma Putra

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Ada tiga sosok kera yang unik serta ikonik. Rsi Walmiki, menceritakannya melalui puisi indah Ramayana. Kera indah berbulu warna warni. Ketiganya, merupakan panglima perang yang cekatan dan tidak tertundukkan. Ketiga sosok itu adalah Anoman, berwarna putih, Anggada berwarna merah serta Anila berwarna unggu.

Warna warna yang mungkin saja merupakan simbolisasi karakter bagi ketiganya. Kharakter putih, kharakter merah, kharakter unggu, jelas serta hanya satu, kharakter yang kuat sebagai dasar dari ketegasan sikap, kuatnya kemauan. Kharakter yang kuat menjadi dasar kombinasi ketegasan dalam pengambilan keputusan.

Sebelumnya, di epos yang sama, diceritakan, adanya tiga sosok kera unik ikonik yang sama tapi terjelmakan dari manusia karena kutukan takdirnya. Ketiga sosok kera antik serta ikonik itu, adalah Subali, Sugriwa dan Anjani. Mereka menjadi kera, karena menceburkan diri dalam danau, mencari Cupu Manik Astagina, yang terjatuh kedalamnya.

Dan hebatnya, ada hubungan erat antara tiga sosok kera pertama dengan tiga sosok kedua, karena Anggada, Anila serta Anoman adalah putra tersayang dari Subali, Sugriwa dan Dewi Anjani. Seolah benar, apa yang tercantumkan didalam ilmu pengetahuan, bahwa kharakter diturunkan secara genetik dan dilatihkan sejak kecil dalam pendidikan keluarga.

Anoman adalah kera kesayangan Rama, tidak mengenal kematian dan sosoknya masih ada serta menjadi bahan cerita Mahabarata. Pada masa Bharatayudha, Anoman adalah pelatih Bima dan penjaga Arjuna. Sosoknya dipajang dalam bendera yang menghiasi kereta perang Arjuna.

Anila dan Anggada, tidak banyak diceritakan, kecuali pada epos Ramayana, mungkin karena tidak immortal seperti Anoman, kisah mereka terhenti dalam satu generasi saja. Sedangkan Anoman, adalah sosok yang selalu ada dalam setiap zaman, the man of all season namanya. Perlu ilmu dan ketrampilan khusus untuk bisa dipakai di segala zaman.

Anila adalah putra kesayangan Sugriwa, juga putra mahkota, calon raja karena Sugriwalah raja di kerajaan kera. Tidak ada banyak cerita tentang Anila dan merupakan kewajaran saja karena calon raja, mestinya dihindarkan dari kemelut perang dengan berbagai bahayanya.

Sedangkan, Anggada adalah buah cinta kasih Subali dan Dewi Tara, tetapi juga anak tiri dari Sugriwa. Sang Dewi menikah dengan Sugriwa, setelah Subali tiada. Subali meninggal di ujung panah Rama. Kematiannya dipenuhi intrik dan dugaan taktik politik yang akan tetap menjadi bahan perdebatan di sepanjang masa.

Anggada, diceritakan dalam epos Ramayana, hampir mati terbunuh dalam sebuah palagan. Anggada terdesak oleh keroyokan tentaranya Alengka. Mustahil menang tetapi bisa selamat, berhasil mengalahkan semua raksasa, hanya karena secara tidak sengaja mengangkat tugu tak dikenal untuk dihantamkan ke musuhnya.

Potongan cerita yang biasa dan seolah tanpa makna tapi jika ditelisik “ time seriesnya ” akan dapat datangkan inspirasi bagi semua, bahwa kasih perempuan, khususnya perempuan yang bernama ibu, tak akan pernah luntur dimakan oleh zaman. Kasih perempuan itu, abadi serta menyelamatkan jika dikelola dengan adil.

Cerita dimulai dari seorang perempuan, Dewi Indradi namanya. Sang Dewi bukanlah wanita sebarangan, karena dari rahimnya,terlahir dua orang putra kembar sangat hebat, Subali dan Sugriwa. Terlahir yang ketiga, putri ayu sangat jelita, bernama Dewi Anjani..

Sang Dewi tahu, bahwa suaminya menyimpan hadiah dewa, berupa Cupu Manik Astagina. Si suami sudah sering mengingatkannya, bahwa Cupu Manik Astagina sebaiknya disimpan saja karena akan amat berbahaya jika diambil dan diperlakukan sembarangan.

Karena permintaan anaknya,untuk melihat dan memilikinya, disertai kasih sayang sempurna, tidak bercacat cela pada anak anaknya, Sang Dewi menjadi lupa terhadap pesan suaminya, dan memperlihatkan cupu pada mereka, anak anaknya.

Melihat keindahan Cupu Manik Astagina, anak anaknya, berkeinginan memilikinya, sehingga Sang Dewi menjadi kebingungan dan dengan terpaksa, melemparkan Cupu Manik Astagina, ke sebuah danau, dengan maksud, anak yang mendapatkannya sebagai pemiliknya.

Cupu manik jatuh di tengah telaga dan kedua pangeran menyelam mencarinya sedangkan sang putri datang terakhir, tak ikut menyelam. Para pangeran berubah menjadi kera dan putri jelita yang menunggu di pinggir kolam dengan hanya membasuh muka saja, menjadi berubah memiliki wajah kera,

Pesan dari Cupu Manik Astagina sangat jelas, bahwa semua orang, wajib bisa membedakan antara keseriusan dengan guyonan serta tidak mencampur adukannya. Jangan guyon disaat serius dan sebaliknya janganlah menanggapi guyon dengan sangat serius.

Guyonan dan keseriusan memang sangat sulit dibedakan tetapi tetap harus berbeda. Hanya terkadang perlu permakluman bahwa kadang pada saat tertentu, pembicaraan amat serius, bisa disampaikan dengan cara guyonan atau sebaliknya, terdapat banyak guyon bermuatan kesungguhan.

Keseriusan terbungkus guyonan sering terjadi untuk menyampaikan saran pada seorang raja yang sangat kaya dan berkuasa dalam situasi pengambilan keputusan yang tidak jelas serta adanya kecendrungan pengambilan putusan secara spontan dan gila gilaan.

Mala petaka Cupu Manik Astagina, membuat suami sekaligus ayah sangat marah. Kecewa pada istrinya dan prihatin dengan derita putra putrinya. Dan karenanya, keluarlah kata dari jiwa yang tidak terkendali sebuah kutukan bagi istrinya agar menjadi batu. Dan Dewi Indradi berubah menjadi tugu batu, tetapi ternyata tak kehilangan kasih serta perlindungan bagi anak cucunya.

Kembali pada panglima perang kerajaan kera, Anggada, diceritakan dalam epos Ramayana, hampir mati terbunuh dalam sebuah palagan. Anggada terdesak oleh keroyokan tentaranya Alengka. Mustahil menang tetapi bisa selamat, berhasil mengalahkan semua raksasa, hanya karena secara tidak sengaja mengangkat tugu tak dikenal untuk dihantamkan ke musuhnya. Tugu batu itu adalah Dewi Indradi, melindungi Anggada cucunya, karena Anggada putra dari Subali, anak Dewi Indradi.

Cobalah simak dengan akal kita, bukankah itu berarti bahwa semasih ada perempuan, maka kiamat tak akan pernah ada. Dunia tetap ada tetapi dengan potensi derita jika kasih sayang tidak dikendalikan oleh keadilan pada sesama. Kiamat ditentukan perempuan dan munculnya derita karena tidak adanya keadilan. Sejahtera jika perempuan menunjukkan kasihnya disertai keadilan kepada sesama.

Kasih perempuan melindungi kita, melindungi bumi dan alam semesta.

Banjarmasin,
20092021

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini