TERORIS RADIKALIS
Masyarakat beragama pada umumnya berada didalam kuadran pertama, yaitu orang religius spiritualis, yang beragama sebagai tuntunan dalam mengikuti perintahNya serta menjauhi laranganNya. Mayoritas diam yang beragama secara paripurna meliputi semua aspek, yaitu filosofis, etika sosial serta hukumnya.
Oleh : IBG Dharma Putra
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Pagi ini, pikiran saya diruwetkan oleh berbagai pertanyaan tentang teroris radikalis. Kok bisa ada teroris atau radikalis. Apa, siapa, dimana teroris ataupun radikalis. Berbedakah teroris atau radikalis serta landasan pemikiran yang bisa membuat kemunculan teroris radikalis.
Dan segala keruwetan tersebut ditulis spontan disertai permohonan maaf setulusnya karena disadari akan banyak mengundang kontroversi dan ketidak sepahaman. Potensi kontroversial diakibatkan oleh penyederhanaan pemikiran tentang teroris ataupun radikalis, yang dengan sengaja dilakukan.
Dalam pemahaman yang disederhanakan dan hanya dengan sentuhan rasa semata, seorang teroris adalah radikalis tidak beretika. Mereka melaksanakan kebenaran dengan cara sangat buruk. Kombinasi antara pemaham kebenaran secara tekstual dengan kealfaan pemahaman baik buruk,
Dengan dasar pemahaman itu, seorang teroris cendrung berpenampilan sangat religius tetapi pasti bukan spiritualis. Karena citra regiliusnya tersebut semata mata bersifat ritual tanpa SPI, Sistem Pengendalian Internal, hanya rutinitas keseharian yang hampa belaka.
Itulah yang menjelaskan kenyataan, seringnya komentar bahwa sang teroris ternyata rajin ke tempat ibadah dan tidak pernah mengabaikan waktu sembahyang. Mereka rajin serta tekun beribadah dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya.
Mereka menjauhi segala bentuk hiburan sebab membawa nikmat sesat, bahkan menganggap haram bunyi tetabuhan serta musik. Keinginan berbuat paling benar, membuatnya lupa bahwa irama nafas, denyut jantung, gemersik daun di sentuh angin, rintik gerimis hujan,suara kodok bersahutan, bunyi jangkrik serta semua bunyi alam semesta adalah musik paling indah yang diciptakan Tuhan untuk dinikmati.
Fenomena religius seperti itu, membuat orang setuju pada pendapat, bahwa agama hanya kulit sekaligus sebuah tampilan semata karena isinya adalah spiritualitas dalam bentuk patuh serta tunduk pada Tuhan. Agama bisa dipakai sebagai bahan pencitraan sehingga berguna dalam politik, tapi tak demikian halnya dengan spiritualitas.
Spiritualitas seseorang tidak bisa dilihat oleh mata, susah dinilai. Orang yang bermoral dan orang yang amoral, bisa berpenampilan tidak berbeda. Banyak pelaku korupsi yang amoral, dihormati karena sering memberi sumbangan untuk membangun tempat ibadah. Moralitas seseorang hanya diketahui oleh Tuhan serta orang yang bersangkutan.
Untuk mencermati fenomena teroris radikalis secara lebih dalam, perlu diamati secara jujur dan objektif, keberadaan kuadran beragama dalam masyarakat. Kuadran tersebut, secara konsep mempunyai empat area ekstrim yaitu area beragama dan bertuhan, area beragama tapi tidak bertuhan, area tidak beragama tapi bertuhan dan area tidak beragama dan tidak bertuhan.
Secara gampang dapat dikatakan, bahwa ada yang religius spiritualis, ada yang religius tidak spiritualis, ada yang spiritualis tak religius dan ada yang tidak keduanya. Tentunya tidak ada yang bernilai nol ( mutlak tidak ) atau bernilai 100 ( mutlak iya ).
Sebuah pengelompokan berisi kontroversi dan resistensi, karena sebelumnya, hanya dikenal, dua kelompok berbeda, yaitu beragama yang berarti bertuhan serta tidak beragama yang berarti tidak bertuhan.
Masyarakat akan sangat marah jika ada yang dikelompokan ke kelompok beragama tapi tak bertuhan atau akan menyangkal keberadaan orang tidak beragama tapi bertuhan. Mereka akan bertambah marah jika dianggap sebagai calon penghuni surga tapi dicuekin pemiliknya.
Mereka juga, belum tentu terima, jika surga itu digambarkan sebagai sebuah wilayah sangat luas, sehingga bisa menampung semua warga dunia dengan sangat leluasa. Sorga tak perlu disembunyikan untuk dimiliki sendiri, tak perlu berebutan untuk masuk kedalamnya. Semua akan tertampung disana.
Mereka juga belum tentu setuju jika dikatakan bahwa surga bisa dibuat sangat kecil, dilipat lipat untuk dimasukan ke kantong dan dibawa kemanapun pergi. Setiap orang memiliki surga dikesehariannya jika patuh dan tunduk kepada Tuhan. Sorga bahkan ada semasih hidupnya.
Orang religius membayangkan surga dengan kaku, hanya hitam putih, berlandaskan hukum sedangkan spiritualis memandang sorga lebih fleksibel, menekankannya pada aspek filosofis sebagai proses menuju sempurna.
Masyarakat beragama pada umumnya berada didalam kuadran pertama, yaitu orang religius spiritualis, yang beragama sebagai tuntunan dalam mengikuti perintahNya serta menjauhi laranganNya. Mayoritas diam yang beragama secara paripurna meliputi semua aspek, yaitu filosofis, etika sosial serta hukumnya.
Mayoritas diam beragama secara hakiki, akan menempatkan agama sebagai rahmat Tuhan bagi kemanusian, artinya bagi semua manusia dan bukan hanya untuk penganutnya. Agama rahmat berada diseberang jalan teror apalagi jika disertai pembunuhan. Karena membunuh merupakan dosa besar dihadapan Tuhan.
Orang yang religius sangat mungkin menjadi radikal serta melakukan teror , tidaklah begitu untuk spiritualis. Para spiritualis mempunyai kecendrungan toleransi serta bisa memahami orang lain.Spiritualis mungkin melakukan kerja sama dari sisi sosial budaya tapi teguh kokoh dari disi falsafah agamanya.
Artinya seorang teroris radikalis jauh berada diseberang orang religius spiritualis sehingga masyarakat beragama tidak mungkin menjadi teroris. Kenyataan itu mendukung munculnya pendapat bahwa teroris bukan karena agama.
Akhirnya disinilah semua keruwetan pikiran itu bertemu pada dua pendapat sangat berbeda yang tidak sepenuhnya salah tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Pendapat pertama melihat pelaku teror adalah orang rajin beribadah dan pendapat kedua yang meyakini bahwa adanya teroris bukan berlatar agama.
Bolehkan perbenturan dialogis itu, disimpulkan sebagai sebuah pendapat baru,yang berbunyi, beragama itu tidak hanya ditunjukkan dengan rajin beribadah tetapi lebih jauh wajib disertai kepedulian pada kehidupan, kemanusiaan dan penghargaan pada keaneka ragaman hayati.
Agama bukan kelompok sehingga seharusnya tak mengundang resistesi dan secara spontan tak boleh menjadi sebab munculnya kelompok lain. Kebenaran agama bersifat independen, merupakan tuntunan dalam menyempurnakan kehidupan kemanusiaan bahkan untuk semua ciptaanNya.
Begitulah.
Banjarmasin
25092021
