BICARA DENGAN DIRI BAGIAN 2 (SERI SECANGKIR KOPI SERIBU INSPIRASI)

BICARA DENGAN DIRI BAGIAN 2

“Isense “bicara dengan diri” yang barangkali dimaksudkan oleh kakek saya, yaitu diri qalbu dan atau ruh” yang kurang banyak saya kenali selama hidup sebelumnya, kalau “ruh” ini ditiupkan oleh Yang Maha Kuasa (Allah), berarti siapa “ruh” yang ada dalam diri kita ini, siapakah sang penghulu ruh tersebut, dan ruh ini ternyata sudah ada bahkan sebelum kita ada di dunia ini yang bersemayam di “alam ruh”,  dan saat berakhirnya kehidupan kita (fisik) di dunia ini, maka “ruh kita” ini tetap ada (hidup) yang kembali pada kehidupan alam ruh semula.”

(Syaifudin)

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, nasihat atau pesan kakek saya untuk “bicara dengan diri sendiri” sebagaimana yang saya ceritakan di edisi pertama, ternyata semakin lama semakin menarik dan asyik untuk direnungkan, terlebih posisi saya sekarang juga telah menjadi seorang kakek.  Oleh karena itu perenungan mendalam telah mengantarkan saya kepada “siapa diri” ini sebenarnya ? oleh karena pertanyan tersebut bersifat ke dalam diri kita sendiri, maka tentu kita lakukan “pengembaraan” untuk memotret diri yang sama “ruwetnya” dengan kita mengembara untuk menemukan jawaban atas “alam raya” yang begitu kompleks sampai pada batas kemampuan kita sendiri sebagai manusia.

Ditahap yang paling mudah kita amati pada diri kita ialah jasad atau fisik kita ini, yang berarti bicara dengan diri pada tataran kasat mata adalah bicara dengan misteri fisik kita. Perhatikanlah tubuh kita ini yang secara fisik mempunyai bentuk dan fungsi yang umumnya sama dengan makhluk hidup lainnya, seperti kepala, mata, hidung, telinga, tangan, kaki dan seterusnya, sampai kepada organ yang ada didalam tubuh kita.  Misterinya secara fisik ini terletak pada sistem “mekanik” yang menggerakan jantung memompa aliran darah kseluruh tubuh,  paru-paru yang mensaring dan mensirkulasi pernafasan, sistem perasa dalam saraf dan seterusnya, yang semuanya itu apakah terjadi dengan begitu saja ?

Perenungan secara fisik ini saja sudah dapat mengantarkan kita kepada suatu “ultimate meaning” adanya kekuasaan Yang Maha Kuasa dalam hukum sebab akibat (kausalitas) sebagai “causa prima” menggerakan seuruh sistem tubuh itu, sehingga ia berjalan pada fungsi dan rotasi pada sistem “mekanik” dalam tubuh kita tersebut.

Perenungan secara fisik ini masih mudah kita mengenali diri kita walaupun sampai batas pemahaman ada “kekuatan” dibaliknya yang mengantarkan kita Sang Maha Menghidupkan. Oleh karena saat kita melihat kita dari sisi jiwa maka masalahnya sudah menjadi semakin “rumit”, perhatikanlah adanya keinginan (nafsu) yang bersifat memenuhi dan atau memuaskan fisik kita, seperti keinginan makan, minum dan sek. Perhatikan juga adanya nafsu amarah, keinginan akan pujian, kebanggaan, perasaan sedih, perasaan takut, perasaan cinta kasih, perasaan damai dan bahagia dan seterusnya yang semuanya itu tidak nampak oleh mata kita, akan tetapi ada kondisi dan dorongannya pada diri kita.

Didalam jiwa kita itu juga terdapat akal yang memberikan kemampuan untuk berfikir dan menimbang secara rational, untung rugi, suka dan benci dalam “hukum logika” dalam merespon segala sesuatu yang masuk dalam alam fikiran kita.

Apakah segala hal yang kita rasakan, dorongan dan fikiran itu bersifat “inergi” yang saling adu kuat untuk minta diwujudkan, dan apakah dorongan ini bersifat naluriah dalam hidup kita atau terjadi karena di dorong oleh satu kekuatan yang tidak kita mengerti dan dari mana sumbernya ?

Saat mencari jawaban semua itulah, menghantarkan kita masuk ke dimensi yang lebih dalam dan “abstrak lagi dalam diri kita, yaitu yang disebut qalbu, yang membentuk dua kekuatan utama dalam diri kita, yaitu pertama kekuatan kebaikan yang berasal dari cahaya “malaikat” dari inti qalbu yang bersumber dari “ruh” yang ditiupkan, kedua kekuatan “buruk” atau “jahat” yang bersumber dari “sinar” iblis.

Cahaya malaikat yang melekat pada jiwa mengantarkan pada “bisikan” kebaikan hidup, sedangkan sinar iblis yang melekat pada jiwa akan mendorong pada bisikan keburukan hidup yang kemudian berkalaborasi dengan sifat hewani fisik kita. Dari sinilah dalam setiap kehidupan kita selalu “berperang” antara dorongan kebaikan atau kemuliaan hidup dengan keburukan atau kejahatan.

Sahabat ! Melihat relitas jiwa yang seperti inilah saat “bicara dengan diri” berarti kita bicara dengan jiwa kita untuk menakar, apakah selama ini kita lebih cenderung kepada kebaikan atau sebaliknya.  Oleh karena itu sepanjang kehidupan ini “perang ini” akan selalu ada dan bahkan “kesempurnaan” yang namanya manusia justeru menyatunya dua dorongan ini.

Hidup mulia bukan menghilangkan jiwa atau nafsu yang mendorong kepada kejahatan tersebut, melainkan KEMAMPUAN KITA mengendalikannya, agar diri kita tidak dikuasai oleh nafsu jahat. Begitu sebaliknya untuk kita bisa mengendalikannya,  kita mesti mengasah dan membersihkan jiwa kita dengan cara mendekatkan qalbu kita kepada SANG PENIUP RUH” yaitu mendekatkan diri ke YANG MAHA KUASA, dengan selalu berzikir atau mengingatNya.

Sahabat ! disinilah isense “bicara dengan diri” yang barangkali dimaksudkan oleh kakek saya, yaitu diri qalbu dan atau ruh” yang kurang banyak saya kenali selama hidup sebelumnya, kalau “ruh” ini ditiupkan oleh Yang Maha Kuasa (Allah), berarti siapa “ruh” yang ada dalam diri kita ini, siapakah sang penghulu ruh tersebut, dan ruh ini ternyata sudah ada bahkan sebelum kita ada di dunia ini yang bersemayam di “alam ruh”,  dan saat berakhirnya kehidupan kita (fisik) di dunia ini, maka “ruh kita” ini tetap ada (hidup) yang kembali pada kehidupan alam ruh semula.

Kakek telah mengajarkan makna kehidupan yang tertinggi dalam batas pemahaman dan pengetahuan saya sekarang ini dan masih misteri “diri” dalam fase-fase kehidupan saya selanjutnya.  Oleh karena itu tidak berlebihan kalau saya menduga yang dimaksud kakek “diri” itu adalah “qalbu dan atau ruh”, yang dalam pengajian sering diungkapkan kalam SIAPA YANG MENGENAL DIRINYA, MAKA AKAN MENGENAL TUHANNYA”.

Sahabat ! begitu rumitnya menjawab “siapa ruh kita”, karena pengetahuan tentang ruh ini hanya sedikit yang diketahui oleh manusia, tapi yang sedikit ini sudah cukup kalau kita sampai pada suatu batas kesadaran yang sesadar-sadarnya untuk mengakui di hadapan Allah bahwa kita ini adalah HAMBA dan sebagai hamba “SESUNGGUHNYA TIADA ADA DAYA DAN UPAYA KITA, KECUALI ATAS IJIN DAN KEHENDAK ALLAH”, DIA MELIPUTI SELURUH ADA DAN KEBERADAAN KITA, SEJAK SEBELUM KITA ADA, ADA DAN TIDAK ADA LAGI DI DUNIA INI. 

Sahabat ! apakah kita bisa merasakan keberadaan ALLAH itu ? (bersambung)

Salam secangkir kopi seribu inspirasi.

 

 

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini