POLA HIDUP SEDERHANA (SERI OPINI IBG DHARMA PUTRA)

POLA HIDUP SEDERHANA

Rumus pola hidup biasa terjadi karena dasar berpikirnya adalah penghasilan dikurangi dengan pengeluaran adalah sisa yang bisa menjadi tabungan. Dan dengan begitu, tidak akan pernah ada sisa untuk ditabungkan karena pengeluaran selalu menyesualkan dirinya dengan penghasilan. Sedangkan rumus dari pola hidup sederhana, tidaklah demikian adanya. Ada modifikasi ekstrim dalam rumusan itu menjadi jumlah penghasilan dikurangi target tabungan adalah sisa yang dicukupkan untuk pengeluaran. Dengan demikian, tabungan akan bertambah setiap saat untuk nantinya bisa diubah menjadi investasi.

Oleh: IBG Dharma Putra

SCNEWS.ID-BALI. Seorang ayah terdampak pandemi sehingga kehilangan pekerjaan, memilih mengembara dengan dua putri cantiknya, hanya berbekal uang sejuta rupiah. Berjalan dari kota ke kota lain, tidur didepan rumah orang atau emperan toko sampai menemukan pos keamanan lingkungan kosong dan memutuskan untuk tinggal di pos itu.

Situasi keseharian yang sebenarnya, sering terjadi itu, menjadi populer dan mengundang perhatian karena ada yang memberitakan dan membuat saya ingin menuliskannya, sebagai sebuah peringatan bahwa empati selayaknya, tidak hanya terjadi karena berita tapi sebagai kepedulian manusiawi sehingga kasus yang sama, dapat tuntas diselesaikan.

Keingginan menulis tambah menggebu karena salah satu idola saya menulis tentang, “gaya hidup miskin“, yang tentunya tidak diniatkan untuk menyoroti tentang fenomena miskin tapi gaya, orang miskin yang menyembunyikan kemiskinannya dengan bergaya selangit dan menjadi susah untuk diidentifikasi dalam rangka pemberdayaan. Idola saya ini, ingin belajar banyak dari orang miskin dan saya juga ingin begitu,

Tulisan itu juga tidak menulis tentang gaya hidup hedonis para jetset internasional, nasinal maupun lokal, dengan celana, rok, blues, baju kaos mahal, bermerek dan berharga sangat mahal, yang sengaja di robek robek sebelum dipakainya.

Tulisan ini juga dimaksudkan supaya orang miskin tak dipandang sebelah mata karena pada hakekatnya orang miskin itu hebat, baik dari sisi jumlah maupun dari kapasitas mental mereka. Secara mental mereka adalah para mpu ( ahli ) daya juang, agility dan resiliensi yang sedang banyak dipelajari saat ini.

Kapasitas kemampuan sebagian besar orang miskin dalam bertahan hidup, bertindak serta berupaya melangkah ke depan, mengatasi segala kesulitan kehidupan atau rintangan yang menghalagi jalannya, secara maksimal dengan cara yang tak pernah terpikirkan oleh otak biasa, dari hari kehari, sangat tinggi.

Beruntungnya mereka, tetap bisa bahagia karena berada di lingkungan yang sama serta mengalami hal yang tidak berbeda. Bajunya sama, menu makanannya sama, kesulitannya sama, tukang tagih hutang yang mendatangi mereka juga sama sehingga bisa dijadikan bahan gunjingan serta guyon yang sangat mengasyikkan diantara mereka.

Mereka cuma butuh keadilan dan persamaan perlakuan terhadap kehidupan komunalnya, untuk tetap bisa guyub dan berbahagia, Bahkan dihukum, digusur dan diusir dari tempat pemukiman merekapun, tidak mampu menghilangkan kebahagiaannya, asalkan bisa tetap bersama dan diperlakukan sama.

Mereka begitu karena memiliki kemampuan berpikir, belajar, dan menyerap kenyataan serta menerima kenyataan keterpurukannya itu dengan teramat cepat. Semua penderitaan dianggapnya sebagai nasib yang wajib diikuti dan dijalani dengan ikhlas disertai dengan upaya untuk bertahan serta sebisanya lepas dari tamparan kemalangannya itu.

Bukankah kemampuan diatas bisa disetarakan dengan agility yang sebenar benarnya. Hingga benarlah pandangan saya bahwa belajar agility tak harus kenegara bule tapi cukup di negara sendiri karena mpu dari agility itu, banyak ditemukan didaerah miskin di negara tercinta ini.

Mereka juga memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat sehingga bisa tetap tegar dalam setiap kenyataan sulit yang dialaminya. Derita yang merupakan siksa sudah menjadi bagian kehidupan sehingga telah terasa dan menjadi biasa. Jangan ajarkan tentang resiliensi kepada mereka tapi marilah beramai berguru pada mereka.

Kemampuan adaptasi tersebut sebenarnya sebuah rahmat yang tidak disadarinya karena didapatkannya secara tidak disengaja dalam perjalanan hidupnya. Kemungkinan yang terpikirkan sebagai penyebabnya adalah karena adanya daya pengaturan emosi, pengendalian bereaksi, masih adanya harapan dalam doa, rasa senasib karena berada di lingkungan serupa, kemampuan melupakan derita karena derita teman lainnya.

Pengaturan emosi dan pengendalian bereaksi yang dimilikinya dimulai dari keterpaksaan, karena pengalaman buruk yang diterimanya kalau kedua hal tersebut gagal dilakukannya.
Keterpaksaan karena tidak ingin mendapat perlakuan lebih buruk, jika melawan dengan cara frontal, sudah menjadi kebiasaan dan berubah menjadi karakternya,

Harapan menjadi lebih baik, adalah harapan sangat wajar bagi kelompok masyarakat miskin. Harapan yang sejalan dan tidak bertentangan dengan prinsip logika matematika. Bukankah setelah berada dipuncak hanya ada dua kemungkinan yaitu tetap dipuncak atau turun. Begitu juga jika amat miskin, bukankan hanya ada dua kemungkinan kedepan, yaitu tetap miskin atau menjadi kaya.

Membayangkan dirinya tetap miskin saja, tak menimbulkan kecemasan merupakan hal yang biasa. Miskin membuat tetap gembira dan tak mengundang derita, bagi orang amat miskin, apalagi jika membayangkan bisa menjadi kaya. Sehingga harapan yang ada padanya potensial menjadi sebuah optimisme dan meningkatkan semangat hidupnya.

Lingkungan yang serupa membuat beban hidup menjadi terasa lebih ringan karena ada rasa bersama dan bahwa derita bukan hanya dialaminya sendiri saja tapi juga oleh para saudara, kerabat dan handai tolan serta tetangganya juga. Mereka tidak tertimpa kemalangan sendirian tapi bersama dalam situasi yang memang sudah zamannya.

Mereka yang mempunyai empati akan cendrung melupakan deritanya karena ada disekitarnya yang juga menderita serta dipandangnya sebagai derita yang lebih dari derita dirinya karena mereka tahu, sebelumnya mereka lebih menderita.

Dan keuntungan lain yang bisa dimiliki sebagai penyebab kehebatan orang miskin, adalah karena jumlahnya yang banyak maka segala derita bisa dituntaskannya bersama sama dan melalui kerja sama. Kerja keras adalah keseharian mereka.

Semua kehebatan itu bukanlah sebuah alasan untuk membiarkan mereka tetap miskin. Kemiskinan itu wajib diperanginya dengan mandiri dan satu satunya senjata yang bisa digunakannya adalah cara hidup sederhana.

Orang miskin belum tentu berpola hidup sederhana dan mungkin saja terjebak dalam kemiskinannya karena pola hidupnya yang biasa dan bukan pola hidup sederhana. Rumus pola hidup biasa adalah sedikit cukup, banyak juga habis.

Rumus pola hidup biasa terjadi karena dasar berpikirnya adalah penghasilan dikurangi dengan pengeluaran adalah sisa yang bisa menjadi tabungan. Dan dengan begitu, tidak akan pernah ada sisa untuk ditabungkan karena pengeluaran selalu menyesualkan dirinya dengan penghasilan. Sedangkan rumus dari pola hidup sederhana, tidaklah demikian adanya. Ada modifikasi ekstrim dalam rumusan itu menjadi jumlah penghasilan dikurangi target tabungan adalah sisa yang dicukupkan untuk pengeluaran. Dengan demikian, tabungan akan bertambah setiap saat untuk nantinya bisa diubah menjadi investasi.

Pola hidup sederhana akan memotong circulus vetiosus ( lingkaran setan ) kemiskinan dan si miskin akan bisa melaksanakan hidup sederhana sebagai sebuah akronim yang berarti sesuai kebutuhan, dermawan, hati hati dan nabung.

Begitulah pola hidup sederhana bagi saya, tentunya sangat berbeda dengan pola hidup sederhana dalam guyon idola saya yang lain, yang secara amat santai dan sebenar benarnya tidak serius, telah menulis, “ bahwa di Jakarta, Sederhana itu identik dengan Highclass, karena itu nama Rumah Makan SEDERHANA, sehingga kalau ada yang mau traktir makan, saya bilang yang “SEDERHANA” saja ya (Artinya makan enak dan mahal saja ya).

Ada ada saja tapi sangat lucu dan membuat ngakak menambah imun…

Bali Barat
09102021

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini