TANGAN (SERI OPINI IBG DHARMA PUTRA)

TANGAN

Berhati hatilah menjadi tangan kanan, karena tangan kanan itu dominan dan bermartabat sehingga perlu dibekali oleh kompetensi serta etika. Tangan kanan bukan sekedar tempat bertanya tapi tempat untuk mencari jawab. Jika tidak bisa begitu cukuplah menjadi orang dekat seperti kebanyakan orang dan bukan tangan kanan.

Oleh : IBG Dharma Putra

SCNEWS.ID-BALI. Secara evolusi, tangan manusia sebenarnya telah mengalami perubahan fungsi dari fungsi awalnya untuk berjalan kearah fungsi saat ini, untuk kegiatan kehidupan yang lebih produktif yaitu menyiapkan peralatan untuk membantu kerja manusia. Fungsi awalnya untuk berjalan, terjadi pada saat manusia masih merangkak seperti kera dan berfungsi produktif setelah manusia berjalan tegak diatas kedua kakinya.

Bersamaan dengan evolusi cara berjalan dan perubahan fungsi tangan, otak juga menjadi semakin berfungsi. Berjalan tegak membuat fungsi otak manusia semakin optimal dibawah kordinasi bagian otak yang dinamakan pre frontal cortex. Pada saat seperti itu, sifat liar memudar dan memunculkan etika manusia.

Selanjutnya, ilmu pengetahuan dan teknologi mulai bisa melihat aktivitas otak manusia dan menemukan bahwa kegiatan otak manusia, secara umum meliputi dalam dua urusan yaitu urusan rutin oleh otak bagian kiri dan urusan khusus tidak terduga oleh otak bagian kanan.

Ditemukan juga bahwa ada persilangan saraf di leher manusia yang membuat urusan otak manusia bersilangan dengan gerak tubuhnya. Artinya kehendak otak kiri dikerjakan melalui gerakan tubuh sebelah kanan dan sebaliknya kehendak otak kanan dikerjakan oleh tubuh bagian kiri.

Disanalah ada jawab tentang dominannya tangan kanan. Karena kehidupan keseharian dipenuhi rutinitas maka yang lebih berfungsi adalah otak kiri dan karena persilangan saraf, berarti pula menggunakan tangan kanan. Hanya sedikit yang kidal, yaitu manusia yang bekerja dengan tangan kiri.

Dalam kenyataan keseharian, kegiatan yang dilakukan oleh tangan, mulai dari mengangkat hingga menggerakkan benda, memang terlihat pada hampir semua orang, dilakukan dengan tangan kanan. Tangan kiri hanya digunakan untuk mengerjakan pekerjaan minor yang tak penting, bahkan tangan kiri, sering digunakan cuma untuk membantu, menunjang pekerjaan tangan kanan.

Dalam kondisi paling ekstrim, dominasi fungsi oleh tangan kanan membuat tangan kiri canggung dan serba salah, seolah pemiliknya lupa akan tangan kirinya. Tangan kiri benar benar tak berguna dan hanya untuk penghias tubuh, agar tampak simetris.

Dan dominasi tangan kanan semakin tampak kuat sekaligus menganak tirinya tangan kiri, karena disertai dengan dominasi nilai luhur di tangan kanan. Seolah semua yang baik dilakukan oleh tangan kanan dan menjadi tidak baik jika diambil alih oleh tangan kiri. Karenanya, semua anak cucu dipaksa untuk berkegiatan dengan dominasi gerak pada tangan kanan.

Evolusi tangan dan dominasi tangan kanan, membawa tulisan ini keberbagai istilah yang menggunakan kata tangan. Dan ternyata istilah pertama yang bisa teringat adalah istilah tangan kanan. Begitu dominannya tangan kanan dalam pikiran saya.

Istilah tangan kanan diberikan kepada orang kepercayaan, orang yang biasanya dipercaya untuk mewakili atau menyelesaikan secara tuntas pekerjaan seseorang. Sebagai tangan kanan, seharusnyalah orang orang tersebut turun tangan untuk melaksanakan tugasnya dengan cermat, teliti disertai penuh kehati hatian, karena tangan kanan juga bernilai kehormatan.

Sayangnya, tidak semuanya bisa berjalan begitu, tentunya karena yang dijadikan tangan kanan bukanlah orang yang bermartabat serta layak diberi kepercayaan. Mereka cuma sekumpulan orang yang ingin populer serta ingin ikut menikmati kekayaan dan kekuasaan semata. Mereka menganggap remeh martabat dan kepercayaan, sehingga tak turun tangan.

Secara simbolis, bisa berarti bahwa jika kanan tak ada maka kiri akan mengambil alih dan itu berarti tangan kirilah yang turun tangan jika tangan kanan tidak bergungsi. Tangan kiri akan menyelesaikan kerja yang ditinggalkan.
Jika tangan kiri yang bekerja berarti kerjanya diangap minor serta tidak penting, tentunya tak sesuai dengan kehendak pemberi tugas. Diibaratkan ingin makan tapi diberi alat untuk cebok. Sungguh hal yang sangat tak pantas dilakukan.

Berhati hatilah menjadi tangan kanan, karena tangan kanan itu dominan dan bermartabat sehingga perlu dibekali oleh kompetensi serta etika. Tangan kanan bukan sekedar tempat bertanya tapi tempat untuk mencari jawab. Jika tidak bisa begitu cukuplah menjadi orang dekat seperti kebanyakan orang dan bukan tangan kanan.

Menjadi dekat dan mendekat itu sangat wajar karena semua masyarakat, umumnya suka mendekat dan menjadi dekat dengan orang kaya dan orang berkuasa. Mungkin dengan harapan dapat pembagian kekayaan dan kekuasaan.

Sebuah keinginan utopis karena dialam nyata, tak satu orangpun yang ingin berbagi kuasa, hingga dikatakan bahwa kekuasaan itu seperti air garam, semakin diminum berakibat semakin haus saja. Dan siapa pula yang mau berbagi kekayaan kecuali ditukar dengan hal lain yang berharga sama.

Disamping istilah tangan kanan, di kalangan birokrasi juga dikenal istilah populer lain yang berisi kata tangan, antara lain, buah tangan, tanda tangan, garis tangan. Kelakar serius sering terdengar tentang istilah ini di beranda, teras maupun pojok halaman kantor milik pemerintah .

Kelakar menjadi sinis menjurus sarkastik jika dikenyataannya dirasakan seperti itu. Bahwa sebuah mutasi dan promosi tidak akan bisa diharapkan terjadi tanpa adanya buah tangan, garis tangan dan tangan tangan. Sebuah kelakar diakhiri doa seluruh aparat birokrasi agar cepat ketahuan dan segera ditangkap KPK.

Seyogyanya, candaan sangat serius seperti diatas, wajib disikapi serius serta tidak hanya didiamkan saja, dengan taktik pura pura tidak tahu menahu. Selayaknya, dijadikan inspirasi untuk mulai merancang kembangkan model penilauan prestasi yang bermutu karena jelas, terbuka, lengkap dan benar.

Sebuah model penilaian yang dibuat dengan melibatkan seluruh pegawai yang akan dinilai.
Pelibatan akan mendapatkan Index Prestasi objektif yang disepakati dan dijadikan acuan dalam memberi nilai sehingga tak lagi ada kesan senang serta tidak senang.

Semua hasil penilaian berdasarkan kriteria yang disepakati selayaknya tercatat jelas, lengkap serta benar dan mendapat sentuhan dialogis sesuai hirarki institusi, sebelum menjadi ketetapan. Dengan demikian, dapat berfungsi juga untuk penikaian diri sendiri dan bisa diambil hikmah untuk perbaikan sekaligus tidak menimbulkan kecewa.

Pembenahan sistem penilaian prestasi dengan pelaksanaannya secara konsisten konsekuen, diharapkan berujung pada kepuasan kerja dan akhirnya bisa menampilkan birokrat ringan tangan. Kepuasan kerja merupakan salah satu perangsang bekerja dan berkinerja.

Di tempat yang sebaliknya, jika candaan sinis tersebut dibiarkan menjadi seolah benar akan merebak ketidak puasan. Pada saat yang sama, para pemimpin birokrasi yang terpilih tanpa acuan prestasi cendrung akan menjadi pejabat yang panjang tangan, uang suka cuci tangan jika ada masalah.

Suasana seperti itu wajib dihindari karena sukses seharusnya diraih dengan semangat membara dan perjuangan keras. Semangat yang dalam istilah keseharian dikenal dengan tangan terkepal.

Tetapi tangan tidak harus seharian terkepal, karena ada saatnya untuk menikmati hasil perjuangan sambil makan minum disertai melamun mesra dengan bagian tubuh yang relax santai. Bagaimanakah caranya menyuap makanan, menyeruput minuman, memainkan sendok garpu atau pisau jika tangan sedang terkepal.

Sukses juga selalu berbau sukses orang lain, apalagi dalam era global seperti saat ini. Suksed selalu mengedepankan kolaborasi dibandingkan dengan kompetisi. Dunia terlalu komplek dan masalahnya tidak mungkin ditangani sendiri, selalu diperlukan kerja sama untuk menuntaskannya. Untuk itu, kita juga akan sering berjabat tangan. Dan dipastikan bahwa jabat tangan tidak bisa dilakukan oleh tangan terkepal.

Dalam kegalauan oleh serangan istilah berisi kata tangan tersebut, sebaiknya tulisan ini dihentikan saja, karena mulai terbayangkan dunia akan menjadi kacau balau jika seorang tangan kanan tak pernah turun tangan karena percaya garis tangan telah diubahnya dengan buah tangan sehingga tanda tangan dapat menjadikannya panjang tangan untuk dapat mendapat buah tangan untuk tanda tangan bagi buah tangan dan kepusingkan lingkaran setan tanda tangan dengan buah tangan.

Khayalan yang belum pernah terjadi dalam kehidupan saya. Jika toh terjadi, sekali sekali bisa diacungkan tangan terkepal sambil berteriak, Merdeka !!!

Bali Barat
15102021

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini