SUNGGUH-SUNGGUH (SERI SECANGKIR KOPI SERIBU INSPIRASI)

SUNGGUH-SUNGGUH

Disadari atau tidak kenapa kita berbeda mencapai raihan anugerah dalam menjemput “rejeki” dan “ilmu” serta “capaian” derajat apapun dalam kehidupan kita  selama ini, bisa diukur dengan faktor “kesungguhan” ini.

(Syaifudin)

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, ada banyak pengalaman kehidupan bertutur kunci kemudahan dan keberkahan dalam meraih cita-cita kehidupan adalah dengan “bersungguh-sungguh”, sehingga kita sering menyaksikan terdapat suatu kondisi yang sama dan perlakuan yang sama akan tetapi hasilnya bisa berbeda, salah satu penyebab utamanya adalah “kesungguhan” tersebut.

Sungguh-sungguh bermula dari sautu kesadaran untuk melakukan sesuatu dengan niat atau tujuan untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari suatu kegiatan apapun juga yang bersifat positif, sehingga ia berusaha mendapatkan atau memanfaatkan secara maksimal dari suatu kesempatan kegiatan yang dilakukannya.

Sungguh-sungguh memancarkan “aura” yang mampu menghubungkan frekwensi saat kita memperhatikan dan menerima suatu “pengetahuan” dari orang lain, dan selalu diikuti oleh gestur yang menunjukan sikap sungguh-sungguh tersebut, seperti memberikan reaksi berupa anggukan, tatapan dan mimik wajah terhadap setiap pesan pengetahuan yang diterimanya. Perhatikanlah bagaimana sikap dan perilaku sahabat atau mahasiswa atau murid kita atau saudara kita atau siapapun juga yang berkomunikasi dengan kita ? Kita akan dapat menilai “kesungguhannya”.

Sungguh-sungguh memancarkan sikap gerak fisik yang kita sebut “rajin”, rajin menyimak, rajin membaca, rajin mendengar, rajin menulis, rajin mempersiapkan dan seterusnya, sehingga orang yang sungguh-sungguh ini disebut orang yang “energik”.  Dalam konteks inilah salah satu kunci kehidupan sudah dimilikinya, sebagaimana pepatah mengatakan “rajin pangkal pandai”, kalau pandai berarti berkualitas, kalau berkualitas maka kita mempunyai daya saing dalam setiap moment apapun dalam kehidupan ini.

Sungguh-sungguh mewujudkan sikap “keseriusan” dalam menekuni apapun yang menjadi “pasion” atau “talenta” atau profesinya, atau bahkan saat melayani orang dalam kehidupan sosial dan saat mengemban profesinya tersebut.

Sungguh-sungguh mempunyai dimensi spirit yang mendorong pada tindakan terbaik atau mengerahkan kemampuan terbaik yang dimilinya saat berbuat atau melayani kepada sesama.  Bahkan pada kegiatan yang dianggap biasapun, karena ia melakukannya dengan kemampuan terbaiknya, maka akan selalu muncul hasil yang tidak saja memuaskan, namun juga berkesan.

Sahabat ! implementasi dari “sungguh-sungguh” inilah manakala dipasangkan dan diabstraksikan kedalam nilai-nilai spritual (ibadah), maka akan mempunyai dampak yang bersifat “tak terhingga” dalam menjalani kehidupan.

Pribadi yang bersungguh-sungguh dalam membantu orang lain, adalah pribadi yang ikhlas dan atau tanpa pamrih, sehingga ia menemukan kedamaian dan kebahagiaan saat membantu orang lain tersebut.

Pribadi yang sungguh-sungguh adalah pribadi yang menarik dalam pergaulan, karena ia selalu dapat menghargai orang lain hatta sekalipun ia berbeda pendapat dan pandangan dengan orang lain tersebut.

Pribadi yang sungguh-sungguh bukan berarti pribadi yang kaku, melainkan  pribadi yang dinamis, penuh canda dan gurauan yang bermakna, sehingga keberadaannya membawa kegembiraan.

Pribadi yang bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah, adalah pribadi yang sudah mampu merasakan nikmatnya ibadah, karena ibadahnya dilandasi oleh ilmu dan kekenalannya terhadap Yang maha Kuasa.

Pribadi yang sungguh-sungguh dalam zikir, adalah pribadi yang  melahirkan sikap atau watak tawadhu, sehingga ia rendah hati, tidak angkuh atau sombong. Dan meresapi betul posisi kehambaan nya dihadapan Yang Maha Kuasa.

Sahabat ! disadari atau tidak kenapa kita berbeda mencapai raihan anugerah dalam menjemput “rejeki” dan “ilmu” serta “capaian” derajat apapun dalam kehidupan kita  selama ini, bisa diukur dengan faktor “kesungguhan” ini.

Sayapun menyadari akhirnya “kesungguhan” ini adalah bagian dari rahasia dan hidayah dari Allah yang dianugerahkannya kepada kita, sehingga ia menjadi bagian dari doa keseharian “YA ALLAH JADIKANLAH HAMBAMU INI MENJADI PRIBADI YANG BERSUNGGUH-SUNGGUH, KARENA HANYA DENGAN KEKUATANMULAH YA ALLAH MAKA DIRI HAMBA INI AKAN MAMPU BERSUNGGUH-SUNGGUH DALAM IBADAH DAN MENJALANI KEHIDUPAN”. Amin….

Salam secangkir kopi seribu inspirasi.

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini