ILMU ILMIAH DAN ILMU AMALIAH (SERI SECANGKIR KOPI SERIBU INSPIRASI)

ILMU ILMIAH DAN ILMU AMALIAH

“… saya ucapkan selamat kepada Universitas Lambung Mangkurat yang telah melahirkan doktor “Ilmu Amaliah” disamping telah melahirkan “doktor ilmu ilmiah” yang selama ini dilahirkannya…” (Tuan Guru Wildan)

Oleh : Syaifudin

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, pada saat saya menghadiri “Penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan Honoris Causa (Dr.H.C) dari Universitas Lambung Mangkurat kepada H.Sahbirin Noor, S.Sos.,M.H. pada tanggal 28 Oktober 2021 yang lalu, terdapat suatu “kalam” yang sangat berkesan pada diri pribadi saya. Kalam ini bukan datang dari Tim Promotor dan Orasi Ilmiah dari Promovendus yang menurut saya “sangat layak” dan penuh pertimbangan matang atas putusan Senat ULM dan Rektor dalam memberikan penganugerahan gelar Dr.H.C ke-dua dibidang Ilmu Pertanian ULM tersebut, akan tetapi datang dari pengantar doa yang disampaikan oleh Tuan Guru Wildan.

Tuan Guru Wildan kurang lebih mengatakan “… saya ucapkan selamat kepada Universitas Lambung Mangkurat yang telah melahirkan doktor “Ilmu Amaliah” disamping telah melahirkan “doktor ilmu ilmiah” yang selama ini dilahirkannya…”.

Tuan Guru Wildan bersama Sahbirin Noor beserta Keluarga

Kalam guru ini memberikan  legitimasi yang sangat kuat terhadap kewenangan dan kewibawaan Perguruan Tinggi dalam melahirkan ilmuan, dalam dua katagore, yaitu ilmuah ilmiah dan ilmuan amaliah, namun karena “keterpicikan” kita pada sisi “ilmu ilmiah” semata, sehingga  mengabaikan dimensi dibaliknya yang sama pentingnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Bahkan dalam posisi tidak ingin mengungkapkan mana yang lebih penting diantara keduanya tersebut, terdapat ungkapan “ilmu tanpa diamalkan ibarat pohon yang tidak berbuah” untuk menunjukan suatu “step” saat ilmu ilmiah hanya untuk ilmu ilmiah, akan berada pada “menara gading” yang tidak bisa difahami dan dinikmati oleh masyarakat.

Keberadaan Perguruan Tinggi dalam melahirkan tokoh atau figur yang bergulat pada ilmu ilmiah memang sudah menjadi tugas utamanya , sebagaimana tertuang dalam  tridharma Perguruan Tinggi dalam bidang penelitian. Dari hasil penelitian inilah bisa mengungkapkan segala sesuatu yang masih “tersembunyi” yang kemudian muncul dalam bentuk penemuan ilmiah, atau memodifikasi temuan yang sudah ada, ataupun juga memperkuat temuan-temuan yang sudah ada tersebut.  Dalam pergualatan penelitian inilah, terlahir seorang ilmuan dalam katagore ilmuan ilmiah dari “rahim” Perguruan Tinggi.

Tanpa mengenyampingkan peran ilmuan ilmu ilmiah tersebut dalam perkembangan peradaban kehidupan manusia, kita juga tidak bisa memungkiri adanya karya-karya ilmiah yang hanya tergeletak pada “rak rak buku” hasil penelitian yang terdapat di Lembaga Penelitian ataupun di Perpustakaan, sehingga tidak teroperasionalkan atau tidak terakses kebermanfaatannya oleh masyarakat. Sementara disisi lain Tridharma yang menyangkut “pengabdian kepada masyarakat” sering diterjemahkan menjadi kegiatan sosial yang terpisah dari kegiatan penelitian tersebut, walapun kemudian muncul program menggabungkannya, yang disebut “action riset”.

Kesadaran hasil-hasil riset secara ilmu ilmiah itu kemudian disadari keterbatasan “radiasi” bermanfaataannya, maka kemudian lahir riset atau penelitian yang sudah “berbungkus” terapan, artinya hasil riset itu bisa langsung diterapkan dalam kehidupan masyarakat yang salah satunya dalam bentuk “action riset” tersebut.  Namun demikian riset terapan inipun ternyata menemui banyak kendala dan keterbatasan jangkauannya kepada masyarakat, karena keterbatasan sumber daya dan sumber dana yang dimiliki suatu Perguruan Tinggi.

Menyadari keterbatasan itulah, maka pemikiran “kalaborasi” atau dalam istilah lain yang disebut “hybrid” antara ilmuaan ilmu ilmiah dengan ilmuan amaliah menemukan “pembenaraannya” dalam rangka memaksimalkan kebermamfaatan ilmu ilmiah yang yang dilahirkan oleh Perguruan Tinggi.

Siapa saja mereka tergolong mempunyai kemampuan ilmuan amaliah tersebut ? paling tidak mereka baik itu perorangan atau pun kelompok yang mempunyai tugas atau kegiatan yang menyentuh langsung pada kehidupan masyarakat, seperti Pengusaha yang Intrepreneur, Tokoh Pers, Kepala Daerah, Pegiat LSM, Pegiat Kemanusiaan dan lain-lain yang dari karya “amaliah”nya sejalan dengan visi Perguruan Tinggi.

Tentu hal ini bisa saja masih menjadi perbedaan pendapat dikalangan kita, apalagi kalau dibandingkan secara “aple to aple” posisi dan karya ilmuan ilmiah dan ilmuan amaliah ini, yang sesungguhnya cara berfikirnya bukan membandingkan “derajar atau bobot” keilmiahannya, akan tetapi bobot saling memerlukannya dalam mensejahterakan dan memajukan masyarakat.

Terimakasih Guru Wildan yang membuat “kegalauan saya” melihat perdebatan sekitar pemberian gelar honoris causa ini telah mendapatkan “pencerahan”, ada baiknya kita saling menghargai masing-masing perbedaan dan mengukur diri kita masing-masing tentang apa yang sudah kita lakukan unuk masyarakat banua dan bangsa kita sekarang ini.

Salam secangkir kopi seribu inspirasi.

Foto Foto Penganugerahan Gelar Dr.H.C kepada Sahbirin Noor (Gubernur Kalimantan Selatan) oleh Senat ULM dan Rektor ULM Prof. Dr. Sutarto Hadi, M.Si.,M.Sc.

 

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini