MENGAPA ADA JEDA BERBUNGA ? (SERI SECANGKIR KOPI SERIBU INSPIRASI)

MENGAPA ADA JEDA BERBUNGA  ? 

Seperti layaknya bunga bakung yang saya ceritakan di atas, saat jeda tidak berbunga, maka sungguhnya ia lagi menyerap nutrisi untuk kemudian memunculkan dan memekarkan bunganya yang indah.

(Syaifudin)

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, pagi ini terasa sejuk dan indah yang berbeda saat saya menikmati suasana disekitar halaman depan, mengapa bisa berbeda ya ? bukankan ini halaman rumah yang sama dengan kemaren, bukankah tanaman yang menghiasinya juga tanaman yang sama dengan kemaren, sejuk udaranya juga sepertinya sama saja dengan yang kemaren, terpaan sinar matahari paginya juga sama cerahnya dengan kemaren ?. Lantas apa yang membuat kok terasa berbeda ? Oh ternyata mata saya tertuju pada tanaman bunga bakung yang sedang berbunga dan ada juga aroma harum dari bunga melati yang tumbuh disekitar halaman.

Kembalinya saya memperhatikan suasana halaman rumah yang sebagian saya tanami tanaman, kali ini membawa renungan dari bunga bakung yang indah tersebut, secara perlahan saya amati dan ajak “bicara”, “kamu sangat indah dan teramat indah perpaduan warna merah mudanya disertai bentuknya yang khas dan jujur dalam di bayangan qalbu saya kamu tersenyum memancarkan cahaya Sang Maha Indah dan Maha Sempurna yang menembus sanubari…” Syukur Alhamdulillah pada anugerah pagi ini. Kilauan indahmu sesungguhnya saya nantikan kehadirannya dalam sanubari saya, karena sebagaimana sebelumnya cahaya indah bungamu itu akan redup dalam beberapa hari dan kemudian layu selanjutnya selang beberapa waktu kemudian bungamu muncul lagi. Hal inilah yang kemudian menjadi pertanyaan saya, mengapa ada jeda dalam berbunga ?

Sahabat ! ijinkan kali ini proses berbunga dan layu serta berbunga lagi yang memancarkan indahnya cahaya bunga bakung tersebut saya tamsilkan menjadi proses “mengumpulkan atau menyerap” dan “memberikan atau menyampaikan” dalam proses mengkaji dan menyampaikan ilmu.

Masa berbunga adalah masa “memberikan” keindahan kepada orang lain, oleh karena itu dalam pandangan ilmu, maka masa ini adalah masa saat kita menyampaikan hasil dari kajian kita terhadap ilmu-ilmu yang kita pelajari, sehingga saat kita menyampaikannya dengan “menuliskan” atau “menuturkan” pada orang lain, maka itulah saat orang bisa menikmati hasil hasil darikajian kita itu. Saya berasumsi semakin beragamnya ilmu yang kita pelajari dan seberapa dalam kajiannya (inter dan antar disipliner) ilmu tersebut, maka akan membuat beragamnya corak dan warna serta ke”berisian” warna yang mampu kita sampaikan atau pancarkan saat menuliskan atau menuturkannya.

Saat yang kita sebut berbunga ini, apakah setiap orang bisa menikmati keindahannya ? tentu hal ini bersifat relatif sesuai dengan kondisi orang yang memandang bunga itu, apakah ia termasuk jenis lebah yang mencintai bunga ? atau justeru termasuk lalat yang tidak menyukai bunga.  Oleh karena itulah sang bunga tidak pernah mempertanyakan apakah dipandang indah atau tidak, karena naluri bunga adalah “berbunga”.

Begitupula proses alamiah kehidupan bertutur, ada saatnya kita mendengar dan belajar untuk meningkatkan ilmu pengetahuan kita diberbagai bidang sebagai suatu proses untuk meningkatkan kesempurnaan yang tidak akan pernah  sempurna tersebut.  Dan kemudian ada saatnya kita mengeluarkan atau menyampaikan hasil dari kajian ilmu kita  untuk dibagikan kepada sesama, sehingga proses ini menjadi proses infut dan out-put yang terus bergulir sepanjang kehidupan. Dan perlu dicatat bahwa segala pendapat atau kalam dari out put itu terus bisa berubah sesuai dengan intensitas proses in-putnya, oleh karena itu apa apa yang kita ungkapkan kemaren atau hari ini, tentu bisa berubah besok dan seterusnya sesuai dengan kesempurnaan wawasan dan pengetahuan yang kita miliki.

Sahabat ! proses in-put dan out-out itu bisa dilakukan secara bersamaan atau dibatasi oleh jeda, maka umumnya rata-rata kita memerlukan jeda untuk mencari dan menemukan inspirasi dari berbagai sumber, baik itu fakta fenomena alam dan sosial, perenungan pengembaraan fikiran dan perenungan untuk menjemput intuisi.  Lamanya masa jeda bersifat relatif, bisa saja semakin lama jeda, maka akan mendapatkan banyak dan dalamnya inspirasi sehingga out-putnya akan semakin berkualitas, atau pada orang tertentu jeda sebentarpun sudah mampu melahirkan karya yang berkualitas. Seperti layaknya bunga bakung yang saya ceritakan di atas, saat jeda tidak berbunga, maka sungguhnya ia lagi menyerap nutrisi untuk kemudian memunculkan dan memekarkan bunganya.

Bagi saya dan bisa saja juga bagi sahabat, saat jeda itu adalah saat melakukan aktivitas membaca atau mendengarkan atau kontemplasi, yang kemudian muncul inspirasi untuk menuliskan atau menuturkannya. Saya sangat bersyukur kepada Allah masih memberikan anugerah kesadaran dan kekuatan untuk melakukan proses melingkar antara input-jeda-output dan seterusnya itu, sehingga tetap bisa menjalani kehidupan dalam kondisi “kebermaknaan”, walaupun saya sadar kualtas “bunga” yang dihasilkan masih sangat jauh dari kesempurnaan. 

Salam secangkir kopi seribu inspirasi.

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini