MENGAPA PERHATIAN LEBIH TERTUJU PADA TITIK BESAR KETIMBANG TITIK KECIL
“Masalah itu layaknya api, maka saat api itu kecil akan mudah dipadamkan, tapi kalau api itu besar akan sulit dipadamkan, bahkan kalaupun dapat dipadamkan sudah membuat kondisi hangus dan membawa kerugian yang besar”.
(Syaifudin)
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, memperhatikan titik besar ketimbang titik kecil sepertinya bersifat alamiah, karena apapun itu namanya sesuatu yang besar itu pasti menarik perhatian kita dan bahkan saat melakukan tatapan saja yang nampak jelas dimata kita adalah objek yang besar. Oleh karena itulah dalam tamsil kehidupan umumnya kita lebih tertarik pada yang berkelimpahan, rumah yang besar, uang yang banyak, pengikut yang besar, kekuasaan yang besar dan seterusnya.
Obsesi orientasi kepada yang besar inipun pernah menjadi “jargon” saya saat memotivasi kemajuan lembaga atau perusahaan, dengan menukil kata-kata seorang pebisnis yang sukses, bahwa kalau anda mengajak orang lain ikut usaha anda sampaikanlah “mimpi” yang besar, karena orang akan tertarik untuk ikutan kalau “mimpi” kita besar.
Terasa bersemangat memimpikan yang “besar” tersebut, betapa tidak bersemangat kalau visi kita akan menjadi “leading and comanding position” di daerah, nasional dan international. Lalu untuk mencapai raihan yang besar itu kemudian kita lakukan action setahap demi setahap ibarat untuk dapat memakan daging gajah, tentu kita akan memotongnya sepotong-demi sepotong, yang nantinya kita akan bisa habis melahap seekor gajah tersebut. Atau ibarat berlari jutaan kilometer, maka kita akan melakukannya selangkah demi selangkah.
Sahabat ! ada banyak hal lagi yang bisa kita ungkapkan tentang kesukaan kita melihat yang besar itu, karena sifat alamiah kita ikut pergerakan alam yang bergerak tumbuh dan terus bertumbuh, atau terus berproses menuju titik yang besar. Sehingga dalam hal apapun sifat manusia telah disindir sebagai “tidak pernah puas” sampai mata dan mulutnya diisi dengan tanah.
Naluri melihat dan menyukai yang berkelimpahan ini tentu tidak salah, kalau semakin berlimpah ia mengalirkannya juga kepada orang lain atau memberi kebermamfaatan pada manusia dan alam serta meningkatkan rasa sykur dan ibadahnya kepada Yang Maha Kuasa. Namun sering juga kehidupan bertutur keadaan besar atau berkelimpahan ini menjadikan ia “pelit” berbagi dan bahkan membawa sikap sombong atas peraihan yang diperolehnya itu.
Sahabat ! naluri lebih memperhatikan hal-hal yang besar atau berkelimpahan ini ternyata menjadi sikap kurang tepat kalau dikaitkan dengan “masalah” atau “sengketa” dalam kehidupan, terlebih kalau masalah itu menyangkut hubungan sosial dan hubungan keluarga.
Sebagai contoh, pada sesi Perkuliahan Hukum Penyeleseian Sengketa Bisnis, para pihak sering kurang memperhatikan “hal-hal” yang kecil dalam hubungan bisnis, sehingga membuat suatu perjanjian bersifat umum dan tidak detil, sehingga dalam pelaksanaan perjanjian sering menimbulkan multi tafsir yang berujung pada “sengketa”.
Begitu juga dalam hubungan keluarga, sering masalah komunikasi keluarga dianggap hal yang kecil dan diremehkan sehingga masing-masing anggota keluarga sibuk pada urusan dan gaget nya masing-masing yang seolah meremehkan saling menghargai dan pengertian serta saling memperhatikan, dan pada saat masalah itu membesar seperti munculnya disharmonisasi yang berskala besar, maka baru kemudian tersadarkan.
Sahabat ! masalah itu layaknya api, maka saat api itu kecil akan mudah dipadamkan, tapi kalau api itu besar akan sulit dipadamkan, bahkan kalaupun dapat dipadamkan sudah membuat kondisi hangus dan membawa kerugian yang besar. Oleh karena itulah mulai dari sekarang kita memperhatikan dan tertarik pada hal-hal kecil, karena sesuatu yang besar itu dibentuk dari hal-hal kecil, bukankah butiran butiran pasir dipantai itulah yang membentuk pantai pasir. Sehingga tidak berkelibahan seorang Jurnalis Timur Tengah Fahd Amir Ahmadi menulis buku “teori kacang” yang bertutur “kesuksesan itu dibangun dari hal-hal yang kecil”.
Dari sinilah saat menyampaikan kelas publik speaking saya menyampaikan, jangan ragu melakukan hal-hal kecil (titik kecil), seperti “memuji pasangan” atau “sahabat” saat ada perubahan sekecil apapun dalam dandanan atau pengetahuannya atau kerjanya. Setelah itu lihat dan perhatikan dan rasakanlah apa yang terjadi…
Salam secangkir kopi seribu inspirasi.
