TOKOH PERUBAHAN (CATATAN “DIALOG DR. IBG DHARMA PUTRA”)
“Sungguh berat ya menjadi Tokoh Perubahan !”
Oleh : Robensjah Sjachran
SCNEWS.ID-MALANG. Saya termasuk orang yang tergolong lambat mencerna makna yang tersembunyi dalam sebuah gagasan. “Dialog”, tulisan Dr. IBG Dharma Putra 27 Okt 2021, saya baca berulang-ulang untuk mencari sasaran bidiknya, tak ketemu jua, mungkin hanya sang penulis yang tahu. Tak pelak lagi, “Dialog” adalah tulisan IBG Dharma Putra yang cerdas dan filosofis, berspektrum luas, karenanya tak mudah menelusuri alur akhirnya. Pemahaman saya yang cekak hanya menangkap rangkaian kata: “Mulut tak bertelingga menjadi semakin pandir karena tak berisi hati sehingga bicaranya yang dipenuhi keakuan, seolah berhak memonopoli kebenaran, diucapkan tanpa perasaan hormat serta penghargaan pada sesama”. Pada bagian lain ada kata: “ Tokoh perubahan merupakan tangan kanan sang panutan, orang yang bertindak sebagai katalis, pemicu terjadinya sebuah perubahan dan dengan demikian tokoh tersebut harus kompeten, konsisten, kredibel, dapat dipercaya ……”.
Kata yang sekaligus saya underline, bold, dan kemudian dibuat italic dalam tulisan itu adalah “tokoh perubahan”. Tokoh perubahan selalu mendapat tentangan, apalagi bagi mereka yang sudah ada pada zona nyaman. Status quo musuh utama reformasi. Itu sudah menjadi rumusnya, dari zaman baheula hingga kini. Dalam perjalanan waktu, dapat kita lihat bagaimana Socrates, filsuf Yunani yang hidup 4,5 abad sebelum Nabi Isa lahir. Ia berkeliling kota tanpa alas kaki mengajak warga Athena untuk berdiskusi soal “kebijakan”. Namun penguasa menganggap Socrates mengajarkan bid’ah, meracuni kaum muda dengan ajaran sesat, mengenalkan agama baru. Sontak penguasa mengadili Socrates dengan tuduhan berat tersebut. Hukuman dijatuhkan; Socrates harus mati dengan meminum racun. Dalam penjara sebenarnya ia bisa melarikan diri memanfaatkan bantuan teman-temannya, tapi apa katanya ? “Jam keberangkatan telah tiba, dan kami pergi dengan cara kami. Aku mati, dan kamu hidup. Yang lebih baik, hanya Tuhan yang tahu.
Lain lagi dengan Jan Huss atau Yohanes Hus, dikenal juga sebagai Juan Huss, tokoh reformator dari Bohemia (kini dalam wilayah negara Ceko). Jan Huss seorang pemikir dan reformator agama Kristen yang hidup di tahun 1369 – 1415 adalah rektor pertama Universitas Ceko. Ia mengkritik kebijakan Gereja Katolik di masa itu, dan khotbah-khotbahnya di gereja Bethlehem Praha mengkritik doktrin gereja Katolik Roma berdasarkan ajaran-ajaran John Wycliff dosen Universitas Oxford & pengkhotbah dari Inggris, antara lain tentang transsubtansiasi, indulgensi. Hukuman mati bagi Jan Huss adalah …..dibakar hidup-hidup di alun-alun kota Konstanz, Jerman 6 Juli 1415. Kini tanggal itu diperingati di Praha sebagai hari Jan Huss, sang pembaharu. Tragis, mati dibakar, namun semangatnya tak pernah padam.
Siapa yang tak kenal Galileo Galilei, filsuf dan astronom asal Italia. Ia pendukung Copernicus yang meyakini peredaran bumi mengelilingi matahari, dan matahari sebagai sistem tata surya, pendapat yang Ketika itu bertentangan dengan Gereja Katolik Roma. Ia dianggap melenceng dari ajaran gereja, dan dihukum dalam tahanan rumah hinggal wafatnya. Empat abad lebih, baru gereja menyadari kesalahannya, dan pada tahun 1992 Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi penghukuman itu salah. Tahun 2008 Paus Benediktus XVI atas nama gereja Katolik Roma merehabilitir nama baiknya sebagai ilmuwan.
Sungguh berat ya menjadi Tokoh Perubahan !.
Bens, Malang, 18 Nov 2021.


