ANTARA SALAH PAHAM DENGAN BEDA PAHAM BAGIAN 1 (SERI SECANGKIR KOPI SERIBU INSPIRASI)

ANTARA SALAH PAHAM DENGAN BEDA PAHAM  (BAGIAN 1)

(Syaifudin)

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, sekilas kedua istilah istilah ini mempunyai kemiripan, namun kalau ditelusuri lebih dalam akan terlihat perbedaan yang mendasar, baik itu dari sisi cara berfikirnya maupun dari sisi implikasinya. Kali ini saya akan mencoba mengungkapkannya secara sederhana untuk bisa membedakan kedua makna ini yang kemudian membangun kesapahaman dalam posisi mana kita harus menyatakan salah paham dan dalam posisi mana kita harus mengatakan beda paham tersebut.

Saya ambil perumpamaan terlehih dahulu dengan tujuan bepergian, seperti kalau kita mau ke-sebuah kota yang menjadi tujuan, maka untuk mencapainya kota tersebut kita memilih beberapa alternatif jalan yang akan membawa kita sampai kepada kota tersebut.  Perhatikanlah ada banyak alternatif jalan yang bisa kita tempuh dan lalui dan jalan mana yang kita pilih ditentukan oleh argumentasi dan pertimbangan kita masing-masing untuk memilihnya, namun apapun jalan yang kita pilih semuanya akan mengantarkan kita sampai kepada kota tujuan itu.

Pilihan yang berbeda terhadap jalan yang dipilih dengan berbagai macam pertimbangan, seperti jauh dekatnya, mulus tidaknya jalan, pemadangan indah sepanjang perjalanan, jalan kenangan, dan jalan yang menantang dan seterusnya, semuanya akan menjadi kesadaran kita dengan segala akibat dan resiko yang kita tempuh pada jalan tersebut. Nah pemilihan jalan yang berbeda inilah yang saya perumpamakan sebagai BEDA PAHAM lantaran BEDA JALAN YANG DIPILIH.

Kandungan substantif dari beda paham ini, masing-masing didasari atas cara berfikir tertentu atau pertimbangan tertentu yang secara sadar telah kita pilih untuk memakai atau mempergunakannya, oleh karena itu segala putusan atau pilihan yang diambil benar-benar didasari oleh rationalitas dan kesadaran tertentu berdasarkan “order of logic” yang dibangun untuk menentukan pilihan itu.

Kalau ada yang bertanya, mengapa kita memilih cara atau jalan itu, kita dapat menjelaskannya, dan siapapun dapat menelusuri proses jalan yang diambil dan hasil dari proses jalan pemikirannya   Dititik inilah “jalan” yang telah dipilih atau “paham” yang dianutnya dapat dipertanggungjawabkan secara ontologis, epistimologis dan aksiologis.

Sahabat ! beda  paham pada jalan yang kita ambil inipun nantinya juga memungkinkan adanya “perkembangan” yang disebabkan oleh pandangan baru terhadap jalan yang kita ambil tersebut, inilah yang disebut rekonstruksi baru dalam proses kehidupan selanjutnya yang memilih jalan yang sama. 

Dengan konsep yang seperti ini, saya meyakini BEDA PAHAM semata-mata disebabkan oleh adanya beda jalan yang dipilih dan atau rekontruksi baru terhadap jalan yang kita pilih tersebut yang akan melahirkan dinamisasi kehidupan.

Saya tegaskan lagi adanya BEDA JALAN akan melahirkan dinamisasi pengetahuan, ilmu dan kehidupan, seperti suatu kebenaran yang terus disempurnakan sepanjang kehidupan peradaban manusia. Dan yang terpenting dalam prosesnya tersebut terjadi saling menghargai antara pilihan jalan yang mengakibatkan bedanya paham tersebut, karena hakikatnya setiap jalan itu adalah saling melengkapi seperti layaknya sebuah bangunan yang saling mengokohkan.

Pandanglah beda paham layaknya sebuah mozaik terlihat indah saat goresan tintanya berseleweran kesana-kemari namun menuju pada titik tujuan yang sama, bentuknya juga melukis warna warni pada setiap goresan yang menghiasi disekitarnya layaknya membuat sebuah pelangi, kilauan pada setiap sorotan cahaya pada jalan itu memantulkan beragam kilauan yang terang dan redup seperti layaknya gugusan bintang diangkasa yang nampak seperti tak beraturan, namun sesungguhnya berotasi secara teratur dalam lukisan kekuasan semesta.

Sahabat ! sayangnya keindahan mozaik itu terkadang tak dapat kita nikmati, lantaran kita terfokus pada jalan kita saja dan anehnya kita justeru merasa jalan kitalah satu-satunya jalan yang benar untuk mencapai sebuah kota tujuan itu.  Dan konteks inilah saya bertanya kepada para sahabat semua, dalam sebuah pengebaraan dialam raya kehidupan ini, apakah merasa jalan kita saja yang paling benar dan jalan orang lain salah ? saat menyalahkan jalan orang dan tidak menghargai jalan orang lain tersebut, ternyata itulah pertanda kita tersesat jalan lantaran kita “salah paham”.

Lantas apakah salah paham itu ? (bersambung)

Salam secangkir kopi seribu inspirasi.

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini