ANTARA SALAH PAHAM DENGAN BEDA PAHAM  BAGIAN 2 (SERI SECANGKIR KOPI SERIBU INSPIRASI)

ANTARA SALAH PAHAM DENGAN BEDA PAHAM  (BAGIAN 2)

Perhatikan pula pada setiap simbol sosial, gerak, kata-kata, foto, lukisan, suatu keadaan, sering kita memahaminya   tanpa menggali terlebih dahulu apa maksud sebenarnya dibalik semua itu, namun kita sudah terlanjur menyimpulkannya yang menyebabkan kita “salah paham”

(Syaifudin)

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, pada bagian 1 saya memaparkan secara sederhana ilustrasi tentang “beda paham”, yang intinya terdapat dua hal penting dalam beda pam itu, yaitu adanya pilihan yang berbeda dan perbedaaan itu didasari oleh pertimbangan atau dasar pemikiran tertentu. Lantas bagaimana dengan istilah “salah paham” ?

Salah paham beranjak dari  penilaian terhadap dari subjek kepada suatu “objek” yang ingin dipahami, namun dengan keterbatasan informasi terhadap objek yang ingin dipahami tersebut, kemudian dipahami secara salah, yang maksudnya pemahamannya tidak sesuai dengan fakta yang dinilai.

Seperti saat kita menafsirkan suatu “senyuman” yang diberikan oleh seorang wanita, maka lantas kita memahami senyuman itu sebagai bentuk “ketertarikan” kepada kita, padahal fakta sesungguhnya setelah ditelaah wanita tersebut adalah mahasiswi atau kerabat kita, sehingga senyumannya tidak lebih sekedar penghormatan kepada kita.

Begitu pula saat kita membandingkan suatu simbol sosial dari suatu masyarakat, seperti “anggukan” saat seseorang berbicara dengan kita, dan kemudian  anggunakan itu kita pahami sebagai suatu “persetujuan” terhadap apa-apa yang kita bicarakan.  Setelah ditanya kepada orang tersebut “apakah anda setuju terhadap pendapat saya tersebut?”, ia menjawanya “tidak”, tapi kenapa tadi anda menganggukan kepala ?, saya mengangguk kepala sebagai bentuk perhatian mendengarkan secara serius saat anda berbicara tadi. Nah berarti memahami anggukan sebagai pertanda persetujuan adalah salah paham.

Pengalaman hidup saya juga pernah adanya salah paham ini, yaitu ketika saya kontrak siaran radio bincang hukum dan bisnis” pada suatu station radio yang berlokasi di lantai 5 sebuah hotel yang jam siarannya pada jam 07.00 Wita pagi hari. Saya berangkat pagi pagi setelah sholat subuh ke Hotel tersebut, rupanya diseberang Hotel itu ada warung Nasi Kuning yang menjadi tempat langganan sahabat isteri saya sarapan pagi, lalu dengan seringnya melihat saya pada waktu subuh berada di dikawasan Hotel itu, lantas ia memahaminya saya “dugem” di Hotel yang memang terkenal dengan :”Pub” nya tersebut. Akhirnya ia merasa punya tanggungjawab melapor ke keluarga saya akan kelakuan saya yang dianggapnya “bejat” tersebut. Untungnya keluarga saya memang tahu apa kegiatan saya disubuh hari di kawasan Hotel tersebut, dan berapa banyak kita salah paham menyimpulkan suatu keadaan yang kita sendiri sebenarnya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Perhatikan pula pada setiap simbol sosial, gerak, kata-kata, foto, lukisan, sering kita memahaminya tanpa menggali terlebih dahulu apa maksud sebenarnya dari simbol sosial, kata-kata, foto dan lukisan tersebut, namun kita sudah terlanjur menyimpulkannya yang menyebabkan kita “salah paham”.

Didibang ilmu pengetahuan juga sering kita “salah paham” terhadap  istilah yang dipakai oleh , seperti saat bicara “hukum positif” sering diartikan sebagai “hukum yang berlaku pada suatu waktu dan tempat tertentu”, padahal hukum positif adalah “hukum yang dibentuk secara sadar”, namun saat dibedakan dengan hukum alam, maka muncul sifatnya yang berlaku pada suatu waktu dan tempat tertentu yang berbeda dengan hukum alam yang berlakunya lebih bersifat umum dari sisi waktu dan tempatnya.

Begitulah seterusnya ada banyak teori dan istilah yang terkadang kita salah memahaminya, lantaran kita tidak mengkaji secara cukup dilihat dari sisi ilmu tersebut, bahkan terkadang salah paham ini menjadikan keyakinan kita terhadap sesuatu juga keliru dan kita pertahankan terus dalam wawasan dan pandangan kita.

Seorang ahli “linguistik” pada suatu bahasa tertentu sering menjelaskan adanya pemahaman yang salah saat melakukan penterjemanahnnya, sehingga berdampak besar dalam peradaban kehidupan manusia, khususnya yang terkait dengan hukum-hukum yang bersumber dari kitab suci.

Sahabat ! saya berkesimpulan adanya “salah paham” ini diakibatkan oleh kelemahan atau kekurangan pengetahuan kita terhadap suatu objek yang ingin kita pahami, sehingga berakibat “salah paham”, oleh karena itu untuk menghindari salah paham ini, kita mesti melakukan cek dan recek atau tabayun untuk mengetahui makna atau arti sebenarnya dari suatu apapun yang ingin kita pahami.

Jangan buru-buru menyimpulkan sesuatu sebelum kita tahu apa sebenarnya yang terjadi, sehingga bisa mengindarkan diri dari adanya “salah paham”.

Salam secangkir kopi seribu inspirasi.

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini