ANTARA TAKUT ISTERI DAN HORMAT ISTERI
“..saat kita disebut atau dicap sebagai suami takut isteri, maka sesungguhnya kita adalah suami hormat pada isteri. Hanya dengan mengormati isteri itulah kita akan memuliakannya dan dengan kemuliannya itulah kita akan mendapatkan ketenangan dan kedamaian hidup. Jadi stop takut pada isteri, yang ada hormat pada isteri”.
Oleh : Syaifudin
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, dalam kondisi masih isolasi mandiri akibat saya dan isteri terpapar covid 19, gejala pusing masih menghinggapi dan terkadang demam, saya meraih kembali keyboard untuk mengetikan rangkaian kata dalam melukiskan “ayat-ayat” yang terhampar dalam gelanggang kehidupan yang melintas dan terparkir dalam benak saya. Terlebih pada suasana berminggu-minggu hidup “berdua” di rumah saat menjalanai isolasi ini, suasananya menunjang untuk melukiskan tema “TAKUT ISTERI ATAU HORMAT ISTERI”.
Seorang sahabat yang memimpin berbagai perusahaan pernah bercerita tentang “cap” atau “label” yang dilekatkan kepadanya saat ngumpul-ngumpul dengan koleganya, bahwa saya katanya dikatakan sebagai seorang yang “takut sama isteri” karena kalau keluar malam hari sangat dibatasi waktunya, sehingga tidak bisa sampai larut malam, begitu juga aturan makan malam dan makan di luar rumah semuanya dijaga dan dijadwalkan oleh isterinya, dan satu lagi uang yang ada dalam dompetnyapun dibatasi oleh isteri.
Kondisi cerita sahabat tersebut menjadikan ia digolongkan kepada “suami takut isteri”, namun kata sahabat itu saya justeru menemukan kebaikan dan ketaraturan dalam hidup saya dengan adanya pengaturah yang diberikan oleh isterinya tersebut.
Selanjutnya sahabat bisa saksikan atau sudah menjadi rahasia umum ada terominologi “suami takut isteri” ini, bahkan sering dideklarasikan adanya oraganisasi SUAMI TAKUT ISTERI untuk memberikan cap kepada mereka yang “mematuhi” aturan-aturan yang dibuat oleh isterinya, sehingga terkadang pada kondisi tertentu ia harus berbohong kepada isterinya hanya karena ingin menunjukan bahwa ia juga “berani” melanggar aturan yang dibuat oleh isterinya, seperti nongkrong keluar malam dan merokok.
Cerita suami takut isteri ini kemudian terus berkembang di berbagai kalanaga, baik itu pengusaha, pejabat, profesional, ustad dan seterusnya yang seolah-olah menjadi kondisi yang terkadang mesti dilawan walalupun secara diam-diam dengan cara “berbohong” atas aktivitas yang dilakukannnya, seperti biang ada urusan bisnis atau kerjaan, padahal hanya sekedar kumpul-kumpul dengan kawan-kawan mereka.
Sahabat ! mengapa mesti “TAKUT ISTERI ?”, KALAU KITA RENUNGKAN LEBIH DALAM DAN BIJAK CARA PANDANG AKAN KITA GESER KEPADA “HORMAT ISTERI”, lantaran isteri sesungguhnya pasangan hidup kita, kawan dan sahabat dalam suka dan duka, sosok yang paling dekat dengan kita, memberikan kasih sayang kepada kita, menjaga kehormatan kita dan keluarga, melahirkan anak-anak kita. Oleh karena itu “pepadah” atau nasihat atau yang sering kita sebut “aturan” yang dibuat dan disampaikan oleh isteri kita itu sesungguhnya bentuk kasih sayang dia kepada kita dan keluarga kita.
Dengan cara pandang yang demikian, maka saat kita disebut atau dicap sebagai suami takut isteri, maka sesungguhnya kita adalah suami hormat pada isteri. Hanya dengan mengormati isteri itulah kita akan memuliakannya dan dengan kemuliannya itulah kita akan mendapatkan ketenangan dan kedamaian hidup. Jadi stop takut pada isteri, yang ada hormat pada isteri.
Salam secangkir kopi seribu inspirasi.
