MENYANDINGKAN REALITAS DENGAN INTUISI
“Intuisi sesungguhnya tidak lahir begitu saja, akan tetapi berproses dari hasil pengolahan potensi dan kemampuan analisa empirik dan nalar, spritual seseorang, sesuai dengan bidang keahlian yang digelutinya”.
Oleh : Syaifudin
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, secara sederhana pada saat kita mengkaji atau memberikan pendapat atau pernyataan atau mengemukakan suatu kesimpulan, maka paling tidak kita menggalinya secara epistemologi bersumber pada realitas, fikiran (nalar) dan intuisi. Oleh karena itu relativisme kebenarannya juga berbeda, kalau realitas itu bisa dibuktikan secara empirik berdasarkan fakta (order of fact), sedangkan nalar derajat kebenarannya didasarkan pada “order of logic”, adapun intuisi derajat kebenarannya tidak bisa difahami secara umum, melainkan hanya bisa di “tangkap” oleh mereka yang mempunyai ketajaman intuisi dari hasil “karamah” amalan atau keilmuan yang didalaminya.
Dari konsep itu saja memang agak sulit menyandingkan antara dunia realitas yang konkret dengan dunia intuisi yang masih bersifat abstrak, akan tetapi dunia realitas itu dapat menunjukan suatu “pola” tertentu yang kemudian lewat “nalar” seseorang mengolahnya dan semakin sering ia mengolahnya jadilah ia seorang yang ahli, dan dengan keahlian itu kemudian ia mempunyai kemampuan intiusi untuk “memprediksi” atau “meramal” apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, walalupun dalam kondisi saat hal tersebut diungkapkan, belum tahu apakah hal tersebut adalah “benar atau tidak”.
Sahabat ! kita ambil contoh saja pada seri tulisan sahabat kita IBG Dharma Putra tentang Endemis, secara empirik beliau sering meneliti dan memperhatikan tumbuh dan berkembangnya virus ini di masyarakat, kemudian berdasarkan latar belakang pendidikan beliau dibidang epidemologi secara nalar telah melakukan analisa berdasarkan karakter keilmuan epidemologi tersebut, sehingga saya punya keyakinan seperti yang sering kesimpulan beliau ambil tentang “bagaimana mengatasi tumbuh dan berkembangnya” virus ini dengan meramalkannya dimasa depan, akan adanya pergeseran pandemi ke endemi dan seterusnya dalam menangani dan mengantisipasinya, telah dilahirkan dengan “intuisi” beliau.
Dari sini saya berpendapat intuisi sesungguhnya tidak lahir begitu saja, akan tetapi berproses dari hasil pengolahan potensi dan kemampuan analisa empirik dan nalar, spritual seseorang, sesuai dengan bidang keahlian yang digelutinya. Sungguh tidak beralasan dan bisa dipercaya kalau kemudian orang seperti saya ikut memprediksi bagaimana proses pandemi ke endemi dan kalau ada “kalam” yang didasarkan atas intusi saya pada masalah pandemi ini, maka tingkat kepercayaan akan kebenarannya tentu akan sangat rendah kalau tidak dikatakan jadi omong kosong.
Begitulah juga yang terjadi pada “kalam” yang disampaikan oleh seorang yang mempunyai amalan yang banyak, hafal dan faham kitab suci, menguasai ribuan hadist, membaca ribuan kitab, ibadah wajib dan sunnatnya selalu terjaga, akhlaknya baik, maka “kalam” yang dikeluarkannya dari sumber intuisi orang tersebut, derajat kepercayaan (tingkat kebenaran) sangat tinggi. Seperti seorang Aulia yang bermimpi ketemu Nabi, dan karena mimpi ketemu nabi diyakini sebagai suatu kebenaran, maka petuah nabi dalam mimpinya tersebut dapat dikatagorekan sebagai “hadist” bagi Aulia tersebut, walaupun secara ilmu hadist (berdasarkan sanadnya) tidak pernah dirawikan sebelumnya, sehingga tidak dapat dikatagorekan sebagai hadist.
Sahabat ! berdasarkan hal tersebut, saya meyakini adanya “petuah” atau “kalam” yang bersumber pada intuisi, pertama-tama hanyalah ditujukan kepada diri kita sendiri atau orang yang berkalam itu, namun kemudian kalaupun kita sampaikan kepihak lain, sifatnya sangat terbatas dan manakala tersebar secara umum, maka mesti dimaknai sebagai “kebenaran” yang hanya melekat pada orang yang mengeluarkan “kalam” tersebut, sehingga bagi kita boleh percaya dan boleh pula tidak atas substansi dari kalam tersebut, karenanya tidak produktif kalau kita mempermasalahkan apa yang “dikalamkannya”, dan nanti seiring berjalannya waktu “kalam” itu bisa terbukti atau bisa juga tidak terbukti kebenarannya. Namun bagi saya pribadi “kalam” dari seseorang yang mempunyai katagore keluasan ilmu pengetahuan, ke dalaman dalam mengamalkan ajaran agama, kemuliaan akhlaknya, maka saya memandang tinggi derajat kebenarannya.
Petuah (alm) Guru Zuhdi pernah ber “kalam”, “jangan mudah menyalahkan orang lain, kalau-kalau orang itulah yang benar dan justeru kitalah yang salah”, karena bisa saja wawasan kita belum sampai maqamnya. Dan hal inilah yang menyadarkan kita perlunya memperhatikan dimensi intuisi ini.
Salam secangkir kopi seribu inspirasi.
