PARADIGMA SUBJEK DAN OBJEK SEBUAH RENUNGAN DARI BUNGA DAN KUMBANG
“… renungan saya menunjukan sebaliknya kumbang itu hinggap dan mengambil mamfaat madu dari bunga itu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan sehingga saat ia pergi dari bunga itu, sang bunga tetap utuh dan indah”.
(Syaifudin)
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, kebiasaan saya di waktu pagi hari mengamati dan merawat tanaman yang tumbuh disekitar halaman rumah saya lebih instens saya lakukan di bulan suci Ramadhan ini, dengan aktivitas ini saya bisa menghirup udara segar, bergerak olah fisik yang ringan dan sering sekali meimbulkan inspirasi dari perenungan apa yang saya lihat pada tanaman dan makhluk yang berinteraksi dengan tanaman tersebut.
Coca sahabat perhatikan gambar di atas, se ekor kumbang menghapiri dan hinggap di bunga tanaman liar yang biasa saya sebut “karamunting”, maka saat itu saya teringat akan banyak cerita tentang bunga dan kumbang yang umumnya bertemakan simbolik dimana kumbang sebagai simbol lelaki dan bunga sebagai simbol perempuan, yang kemudian dimaknai bahwa kerjaan kumbang itu tertarik pada bunga tak lebih hanya sekedar “menghisap” madunya dan setelah itu ditinggalkan.
Makna seperti itulah yang menjadikan kumbang dianggap sebagai “playboy” yang tidak sesungguhnya mencintai dan menyayangi bunga, karena bagi dia bunga hanya dijadikan sasaran untuk menghisap madunya saja dan setelah madu itu habis dihisap, maka iapun pergi kebunga lainnya.
Sahabat ! beranjak dari sini, setelah saya merenungkan, apakah tidak salah kita memaknai simbolik perilaku kumbang dan bunga tersebut ? karena saya perhatikan bagaimana kumbang itu sebelum hinggap dibunga, maka ia terbang secara pelan-pelan dan berhati hati kemudian hinggap dibunga itu dan setelah menghisap madunya iapun pergi dan saya perhatikan tidak ada kerusakan sedikitpun yang terdapat pada bunga yang ditinggalkannya itu. Dari sinilah kemudian saya berspekulasi, jangan-jangan pemaknaan negatif pada hubungan kumbang dengan bunga itu lantaran CARA PANDANG KITA YANG MEMPERLAKUKAN ALAM PADA POSISI SUBJEK DAN OBJEK.
Mari kita perhatikan dan renungkan di era sekarang, bagaimana cara pandang kita terhadap alam ini ? atau dalam bahasa lugasnya adalaah “bagaimana cara kita memperlakukan alam ?”. Entah terpengaruh oleh metode berfikir positivisme dalam suatu kajian atau penelitian yang menempatkan manusia sebagai subjek (peneliti) sedangkan gejala sosial dan alam sebagai objek yang diteliti, akibatnya segala sesuatu terpola dalam fikiran kita (paradigma) hubungan kita dengan alam juga seperti subjek dan objek, dimana manusia menjadikan alam untuk kesenangan dan mengambil mamfaat ekonominya dengan cara mengeksploitasinya.
Perhatikanlah, bagaimana kita merekayasa alam kita ini untuk yang kita sebut kemajuan teknologi dan sumber ekonomi utama, yang hasilnya kita nikmati dengan kegembiraan, sementara dampaknya terhadap alam ini telah terjadi kerusakan, bahkan kerusakan itu kemudian dibiarkan saja tanpa peduli bagaimana nasib alam ini selanjutnya. Untuk ini silahkan sahabat melihat fakta dan gejalanya pada pemanasan global, mencairnya es di kutub, kerusakan hutan, kelangkaan dan bahkan kepunahan fauna dan flora, sampai bermunculannya virus-virus seperti yang kita alami sekarang dan seterusnya.
Kondisi masyarakat di era yang kita sebut modern atau bahkan post modern ini, ternyata memperlakukan alam seperti subjek dengan objek, dimana alam hanya dipandang sebagai objek, dan barangkali hal inilah mengapa kita memaknai saat kumbang hinggap pada bungan dianggap sebagai eksploitasi untuk kesenangan belaka. Padahal renungan saya menunjukan sebaliknya kumbang itu hinggap dan mengambil mamfaat madu dari bunga itu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan sehingga saat ia pergi dari bunga itu, sang bunga tetap utuh dan indah.
Pola hubungan kumbang dan bunga yang seperti inilah yang saya sebut PARADIGMA SUBJEK DENGAN SUBJEK, keduanya tercipta harmonis, simbiosis mutualisme, kasih sayang dengan tidak merusaknya, bahkan memelihara kelangsungan kehidupan tamanan dengan kumbang menikmati madu telah terjadi pertemuan antara “putik” dengan “benang sari” yang justeru melestarikan eksistensi tanaman.
Lihat bagaimana kearifan orang tua kita dulu berinteraksi dengan alam, alam dipandang sebagai subjek yang dirawat dan dipelihara, walaupun juga mengambil manfaat darinya, tapi sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup yang saling ketergantungan, seperti layaknya bunga dan kumbang versi simbolik yang saya ungkapkan tersebut. Mari jadikan alam kita sebagai sahabat.
Salam secangkir kopi seribu inspirasi.
