STRATEGI OPOSISI
“Saat perilaku kita sudah terwujud secara otomatis melaksanakan kebalikan itu atau dengan kata lain telah menyatunya kebaikan pada niat, proses dan tindakan, hal ini berarti kita telah melakukan hal yang baik untuk fisik dan hal yang baik untuk fikiran, dan inilah yang disebut HASIL DARI METODE OPOSISI.”
Oleh : Syaifudin
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, terkadang ada pertanyaan yang muncul dan menggelitik fikiran dan perasaan saya, seperti berapa persen dalam satu hari kita “memikirkan” dan “merenungkan” tentang diri kita sendiri ? bukankah ini pertanyan sekilas sangat sederhana dan apakah perlu ditanyakan ? Namun setelah saya renungkan lebih mendalam, ternyata ini sebuah pertanyaan yang sangat penting untuk kita tahu dan mengenal apa saja yang sudah kita fikirkan dalam menjalani kehidupan ini.
Disatu sisi pertanyaan tersebut seolah-olah dalam diri kita sendiri ada jarak antara “aku” nya diri dan “aku” nya aku dalam fikiran, perasaan dan bahkan nurani kita, sehingga pada saat menyebut “aku” tersebut maka yang dimaksud akunya yang mana, aku fisikku kah ?, aku fikirankukah ?, aku nuraniku kah ?
Disisi yang lain apakah aku aku aku itu terpisah atau sebenarnya menjadi satu kesatuan aku yang tidak terpisahkan, lantas kenapa terkadang saat kita menunjuk ke diri sebagai aku dalam melakukan perujudan aku itu pada kenyataan (eksistensi) terjadi pergumumulan. Adanya pergumumulan ditataran eksistensi atau mewujudkan dalam tindakan inilah, kemudian saya coba lihat dan batasi dari dua aku saja , yaitu akunya fisik dan akunya fikiran.
Kondisi Pertama, suatu ketika aku fisik bertanya kepada atau fikiran, apakah pada setiap keberadaanku pada suatu waktu dan tempat tertentu, ikut hadir bersamaku ?
Pertanyaan ini menjadi pembahasan menyatunya aku fisik dengan aku fikiran, dan mari kita lihat kesadaran yang ada dalam diri kita apakah saat kita berada pada suatu tempat itu dikuti juga oleh fikiran kita pada tempat itu. Umpama sekarang kita sedang berjalan naik kendaraan, lantas apakah fikiran kita hadir juga dikekinian naik kendaraan tersebut, sehingga kita bisa menikmati indahnya berkendara, atau fisik kita ada ada dikendaraan tapi fikiran kita tertinggal dirumah atau sudah berada ditempat tujuan ? contoh ini dapat diteruskan dalam berbagai aktivitas kehidupan kita, sehingga terkadang menyadarkan kita akan fakta adanya kondisi fisik dan fikiran itu bisa menyatu dan bisa juga tidak, lantas coba kita renungkan berapa banyak moment keseharian yang bisa menyatukannya dan tidak menyatukannya.
Konon mereka yang mampu menyatukan kehadiran aku fisik dan aku fikiran pada satu waktu dan tempat itulah yang bisa menikmati kehidupan.
Kondisi kedua, pada suatu saat posisi aku fisik berdialog dengan aku fikirannya, yaitu “berapa banyak waktumu dalam sehari memikirkan tentang aku?” untuk ini mari kita telusuri juga dalam fikiran kita, apakah yang ada dalam fikiran kita itu tentang diri kita atau diri orang lain atau benda-benda lain yang belum kita miliki?
Ada banyak kegelisahan hidup yang terjadi menimpa kita, yang disebabkan oleh banyaknya fikiran kita justeru memikirkan orang lain atau benda benda yang belum kita punyai, pesannya “perbanyaklah memikirkan tentang diri kita dan yang sudah kita peroleh dalam kehidupan agar kita mampu bersyukur dalam menjalani kehidupan.
Kondisi ketiga, yaitu kita mengajak aku fisik, aku fikiran itu mengembara ke dalam dirinya masing-masing untuk menemukan kekurangan dan kelebihannya, seperti apakah aku fisik sudah menjaga makanan dengan jumlah dan jenis yang tepat untuk aku fisik ?, apakah aku rajin bergerak atau malas bergerak ?, apa aku fikiran sudah mampu berfikir posisitif atau malah berfikir negatif ?, atau apakah aku sudah menggunakan fikiran untuk hal-hal yang bermamfaat atau sebaliknya ?
Dari proses mengembara kedalam aku nya masing masing itu, mari temukan sisi sisi atau hal-hal yang “kurang baik” bagi aku fisik dan fikiran tersebut. Dan setelah menemukannya, maka terdapat cara “mudah” untuk mengobati hal-hal yang tidak baik yang kita temukan dalam diri kita tersebut, yaitu dengan cara lakukan atau melakukan hal yang sebaliknya dari sisi negatif itu (bertolak belakang), dan terus lakukan hal tersebut sampai menjadi kebiasaan.
Saat perilaku kita sudah terwujud secara otomatis melaksanakan kebalikan itu atau dengan kata lain telah menyatunya kebaikan pada niat, proses dan tindakan, maka berarti kita telah melakukan hal yang baik untuk fisik dan baik untuk fikiran, inilah yang disebut HASIL DARI METODE OPOSISI.
SALAM SECANGKIR KOPI SERIBU INSPIRASI.



