KEPERCAYAAN DAN KEHATI-HATIAN
“Dari kejadian-kejadian tersebut, saya meyakini ternyata, kepercayaan, perhatian, kasih sayang, bantuan yang kita berikan secara ikhlas mesti juga harus diikuti oleh “kehati-kehati-hatian” yang diwujudkan dalam bentuk kewaspadaan, atau dengan kata lain “janganlah kita menganggap kebaikan yang kita berikan dapat menjamin sepenuhnya akan tidak adanya serangan yang menyakitkan kepada kita” dan hal ini menyadarkan kepada kita perbuatan orang terhadap kita itu bukanlah dikendalikan oleh perbuatan kita semata, melainkan oleh kekuasaan Yang Maha Kuasa”.
Oleh : Syaifudin
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, menceritakan kebiasaan menyapu halaman setiap pagi barangkali sesuatu yang usang dan tidak bernilai “news”, namun saya tetap menceritakannya dengan penambahan “kejadian” yang tidak saya sangka-sangka sehingga menginspirasi saya untuk menulis “kepercayaan dan kehati-hatian” seperti judul tertera di atas.
Se-ekor kucing berwarna kuning yang oleh isteri saya dikasih nama “oyen” sebenarnya sosok kucing yang biasa biasa saja bagi keluarga kami, karena sudah menjadi “tradisi” di rumah kami disinggahi kucing liar dan disuguhi makanan (makanan yang khusus kucing) dan salah satu diatara kucing itu yang “mengkapling” areal rumah kami tersebut menjadi daerah kekuasaannya, sehingga setiap pagi saat saya menyapu halaman itulah ia datang dan tentu me “meong” sebagai pertanda mau minta makan.
Kedatangan “oyen” pagi itu memang sedikit berbeda dari kebiasaan sebelumnya, karena satu hari sebelumnya “oyen” tidak nongol sebagaimana biasanya sehigga isteri saya merasa heran “kok si oyen tidak datang”. Dari itulah saat saya menyapu halaman itu kedatangan si oyen melegakan, karena ia tidak terjadi apa-apa seperti yang kami takutkan seperti kalau-kalau tertabrak mobil.
Saat menghampiri saya dengan meongannya itu disertai mendekatkan tubuhnya ke-kaki saya dengan mengeluskan bulunya dengan lembut dengan tetap sambil meong. Saya tetap menyapu tanpa menghiraukan meongannya karena memang jam makan pagi kucing belum sampai. Tapi lantas apa yang kemudian terjadi saat saya cueki tersebut ?, dia malah menerkam kaki saya dengan sebegitu kuat, sehingga kaget bukan kepalang saya berusaha melepaskan gigitan dan cakarannya pada kaki saya. Dan setelah saya pukul agak keras, baru kemudian ia melepaskan dan hasilnya ada dua luka mata gigitan gigi dan dua cakaran menghiasi kaki bagian bawah saya, dan langsung membengkak, tiga enam jam kemudian kaki tidak bisa digerakan dan nyerinya sakit sekali dan sore harinya kami bawa ke UGD untuk mendapatkan perawatan.
Sahabat ! dari kejadian ini menjadi renungan saya, bahwa kepercayaan saya kepada kucing ini sangat tinggi, sehingga tidak ada terbersit dalam fikiran saya kalau dia akan melakukan penyerangan terhadap saya, karena selama ini “anteng” atau bahkan “manja”, namun ternyata dia juga bisa melakukan “penyerangan” terhadap orang yang menyayangi dan mengasihnya makan. Dari sini kemudian bisa merumuskan “tips” yang tentu sebagai “tesa subjektif” berdasarkan pengalaman saya, Bahwa “kepercayaan harus diikuti dengan kehati-hatian dan waspada” tak terkecuali terhadap orang yang kita percaya”.
Seorang pimpinan perusahaan dimana saya ikut berada dalamnya pernah mengatakan “bahwa kewaspadaan dan kehati-hatian tetap dilakukan dengan cara melakukan pengawasan terhadap jalannya roda perusahaan” tak terkecuali terhadap orang yang kita percaya sekalipun, karena kewaspadaan ini bukan diartikan tidak mempercayai orang yang kta percaya, melainkan sebagai “moral force” untuk memastikan semua berjalan dengan aturan main yang sudah ditetapkan, atau paling tidak sebagai bagian dari saling mengingatkan sesama manusia yang tetap mempunyai potensi “menyimpang”.
Implementasi dari pengawasan sebagai wujud dari kehati-hatian ini pernah menjadi “polemik” berhadapan dengan fleksibelitas, seperti adanya pengeluaran yang mendadak untuk keperluan mendesak sekalipun oleh bagian keuangan mesti dilakukan dengan tertib atau mestinya sudah direncanakan, artinya kondisi mendadak itu adalah kondisi yang sudah mesti diprediksi dalam pengajuan anggaran perusahaan atau lembaga. Kekakuan ini semula saya anggap kurang bijak, namun sejak saya diterkam si oyen tersebut, saya memahaminya.
Kejadian di atas juga mengingatkan saya pada kondisi beberapa tahun yang lalu, salah seorang anak buah kepercayaan saya yang saya bina sejak mahasiswa, juga pernah “menyerang” saya dengan serangan melontarkan “tuduhan” seolah-olah saya mengeksploitasinya selama ini. Ia kemudian mengajak anak buah saya lainnya keluar dari Lembaga saya. Namun belakangan setelah mengetahui kondisi yang sebenarnya terjadi pengikutnya anak buah saya yang “memberontak” itu balik kepada saya. Setelah kejadian itu saya tetap mendoakan agar setelah ia lepas dan keluari dari saya dapat meraih kesuksesan secara mandiri, dan saya anggap sebagai “jalan” hidup bagi yang bersangkutan untuk meniti karir yang lebih baik lagi ketimbang selama ini ia bersama saya.
Dari kejadian-kejadian tersebut, saya meyakini ternyata, kepercayaan, perhatian, kasih sayang, bantuan yang kita berikan secara ikhlas mesti juga harus diikuti oleh “kehati-kehati-hatian” yang diwujudkan dalam bentuk kewaspadaan, atau dengan kata lain “janganlah kita menganggap kebaikan yang kita berikan dapat menjamin sepenuhnya akan tidak adanya serangan yang menyakitkan kepada kita” dan hal ini menyadarkan kepada kita perbuatan orang terhadap kita itu bukanlah dikendalikan oleh perbuatan kita, melainkan oleh kekuasaan Yang Maha Kuasa.
Salam secangkir kopi seribu inspirasi.


