
LAW OF VIBRATION
“…Dialah Zat yang mengetahui masa lalu kita, maka sekarang dan masa depan kita, tugas kita hanyalah berikhitar dan hasilnya serahkan perubahan tersebut kepadaNya yang membuat hukum kehidupan ini. Tangkap dan renungkanlah vibrasi reaksi kami ini dan Mari kita doakan sahabat muda kita ini dalam menjalani kehidupannya”.
Oleh : Syaifudin
SCNEWS.ID-BANJARMASIN, Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, terdapat “lirihan” dan” jeritan” hidup yang dialami oleh sahabat muda kita, dan cerita kali ini berbeda dengan yang pernah saya tulis saat sahabat muda Lena Hanifah ini bercerita tentang “perasaan cinta bertumbuh” pada saat menempuh pendidikan Ph.D di Australia. Oleh karena itu saya secara khusus mau menanggapi dengan tulisan ini, agar sahabat muda ini lebih “wise” dalam memandang jalannya kehidupan yang memang mempunyai hukum-hukum kehidupan tersendiri, seperti ditulis oleh William Walker Atkinson “The seven cosmic laws”, yang juga pernah dibahas oleh Fahrudin Faiz dalam Ngaji Filsafat dan Tulisan di Kompasiana.
Sahabat ! saya mulai dengan salah satu dari hukum kehidupan itu yaitu “law of vibration” yang menyebutkan bahwa “hakikat kehidupan itu memiliki getaran yang divibrasikan oleh seseorang, baik itu pada diri mereka sendiri maupun terhadap orang lain”.
Vibrasi terhadap diri sendiri dikomandani oleh fikiran sebagai pusat getaran, sehingga apa yang digetarkan oleh fikiran akan mempengaruhi perasaan dan tindakan seseorang, jadi hukum kehidupan dalam vibrasi jenis ini tergatung bagaimana kita melakukan pilihan pada respon kita pada kehidupan, singkatnya kalau kita berfikir baik atau positif, maka perasaan kita akan nyaman dan tindakan kitapun akan baik pula, sebaliknya kalau berfikir negatif maka geratan negatif itu akan menyebar pada perasan dan tindakan kita.
Begitu juga setiap individu juga memancarkan vibrasi pada orang sekitarnya, sehingga keberadaan seseorang akan membawa suasana tertentu tergantung vibrasi yang dipancarkannya. Manakala vibrasi itu berupa keceriaan, kegembiraan, kebahagiaan, kehangatan, kesantunan dan vibrasi positif lainnya, maka akan mempengaruhi dan membawa suasana yang dirasakan juga oleh orang-orang yang ada didekatnya. Sebaliknya kalau Susana yang divibrasikan adalah kesedihan, kemalangan, keputus-asaan, maka hal tersebut akan juga dirasakan oleh orang disekelilingnya.
Respon dari orang disekelilingnya tersebut sering terlihat dalam wujud simpati atau turut merasakan walaupun belum pernah merasakan yang dialami oleh vibrator, atau berupa emphatic atau turut merasakan karena pernah merasakan hal yang sama atas kejadian yang juga pernah dialaminya. Dari sinilah saya bisa memahami terhadap “curahan hati” sahabat muda kita dalam judul MENGAKUI DIRI SEBAGAI MANUSIA.
Vibrasi curahan hati tersebut telah juga kita rasakan baik dalam bentuk simpati maupun empati, maka yang menjadi masalah selanjutnya “vibrasi” apa yang kita berikan terhadap sahabat muda ini, apakah cukup dengan bersimpati atau ber-empati ? Secara relative vibrasi empati dan simpati itu sudah bisa membangkitkan semangat sahabat muda kita, namun vibrasi mesti kita tingkatkan dengan menginternaslisasi “hukum kehidupan” lainnya, yaitu yang disebut “law of relativity”, “law of gestation” dan “law of transmutation”.
Internalisasi “law of relativity” adalah menyadarkan pada diri vibrator bahwa hukum kehidupan itu selalu membandingkan dengan sesuatu untuk menemukan makna kehidupan tersebut, karena itu saat kita membandingkan dengan orang yang lebih baik nasibnya dari kita, maka kita merasa dalam posisi bernasib sial, namun saat kita membandingkan dengan orang nasibnya lebih buruk dari pada kita, maka kita akan merasakan beruntung. Oleh karena itu dengan hukum kehidupan ini, sahabat muda kita tinggal dengan siapa membandingkannya ?, bukankah lebih banyak anugerah Allah yang diberikan kepada kita, dibandingkan dengan orang yang jauh lebih buruk kehidupannya dari kita. Maknanya kita masih bisa bersyukur atas “musibah” atau “kemalangan” yang menimpa kita.
Internalisasi “law of gestation” akan menyadarkan kita bahwa “semua ada waktunya” atau semua hal dalam hidup itu perlu proses waktu, seperti yang sering disebutkan oleh orang bijak “semua hal pasti berlalu” dan silih berganti. Ada saatnya hidup kita sedih namun tidak ada hidup yang terus-terusan sedih atau sedih selamanya, begitu sebaliknya tidak ada hidup yang terus terusan Bahagia, karena ada saatnya sedih dan ada saatnya Bahagia. Sekarang mungkin sahabat kita merasa sedih, namun yakinlah nanti ada saatnya sedih itu berubah menjadi Bahagia dengan anak dan keluarganya.
Sahabat ! Terakhir kita juga mesti harus menyadari adanya hukum kehidupan “law of transmutation” yang mengajarkan bahwa dalam kehidupan ini terus berubah, tidak ada yang tidak berubah atau semuanya berubah. Perubahan itu sendirilah yang menjadi pasti dalam kehidupan ini, oleh karena itu saat kita berada pada kondisi tertentu atau keadaan tertentu, ingatlah ia akan berubah. Hal inilah yang membuat hidup kita optimis, opstimis bisa sembuh dan optimis dalam genggaman takdir Yang Maha Kuasa yang selalu memberikan terbaik, karena Dialah Zat yang mengetahui masa lalu kita, maka sekarang dan masa depan kita, tugas kita hanyalah berikhitar dan hasilnya serahkan perubahan tersebut kepadaNya yang membuar hukum kehidupan ini. Tangkap dan renungkanlah vibrasi reaksi kami ini dan Mari kita doakan sahabat muda kita ini dalam menjalani kehidupannya.
Salam secangkir kopi seribu inspirasi.







