
GELAR PALSU
Oleh : IBG Dharma Putra
“…gelar palsu, banyak yang tak ingin tetapi ada sedikit atau mungkin lebih banyak yang mau dan berupaya mendapatkannya. Gelar palsu merupakan kombinasi harmonis antara kebutuhan, struktur masyarakat dan adanya celah yang bisa dimanfaatkan”.
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Banyak orang yang memilih untuk membeli dan memakai barang tanpa tempelan merek yang menonjol karena takut mereknya tiruan. Sikap seperti itu, dilakukan karena malu memakai barang tiruan walaupun mungkin tampak sama tapi batinnya tahu bahwa barang itu palsu.
Ada sedikit orang, atau mungkin lebih banyak lagi, yang sengaja memilih barang tiruan karena lebih bergaya dan menjadikannya kebih dihargai di lingkungan sosial. Pilihan pada barang palsu menjadi marak karena bentuknya tidak berbeda dan ada yang menjualnya.
Kemungkinan seperti itulah yang terjadi pada gelar palsu, banyak yang tak ingin tetapi ada sedikit atau mungkin lebih banyak yang mau dan berupaya mendapatkannya. Gelar palsu merupakan kombinasi harmonis antara kebutuhan, struktur masyarakat dan adanya celah yang bisa dimanfaatkan.
Struktur masyarakat yang menyuburkan adanya gelar palsu adalah struktur masyarakat yang memberikan nilai simbolik dan administratif amat yang tinggi terhadap gelar, sehingga akan membuat semakin kuatnya motivasi anggota masyarakat untuk mendapatkan gelar,termasuk gelar palsu
Motivasi tersebut terjadi karena terdorong oleh kebutuhan praktis, terperangkap dalam budaya status atau sengaja memanfaatkan gelar untuk kepentingan oportunistik. Secara rinci karena kepentingan praktis, status, identitas diri sendiri, kelancaran manipulasi serta memanfaatkan celah sistem.
Untuk kebutuhan praktis, gelar digunakan untuk akses ke peluang sosial dan ekonomi. Sebagai status, gelar menjadi topeng sosial yang dapat memberi gengsi instan, sebagai identitas diri ( psikologis ), gelar menjadi penopang ego atau pembenaran identitas yang ingin ditampilkan sedang jika ada celah, motivasi muncul karena sistem membuka peluang, ditandai oleh adanya kelemahan verifikasi serta banyaknya lembaga abal abal.
Perlu diingat bahwa gelar yang asli memberikan kepuasan karena bisa menunjukkan perjuangan, kedalaman pengetahuan, dan pengakuan sah, sedang gelar palsu memberi kepuasan hanya karena pengakuan luar, simbol status, dalam bentuk keuntungan instan, yang berarti rasa puas dari gelar palsu tak akan bisa mendalam dan berjangka sesaat saja.
Kepuasan sesaat terjadi gelar palsu tidak lahir dari proses nyata. Artinya pada tipe yang masih memiliki hati nurani, kepuasan akan tergantikan oleh rasa malu, takut atau ketahuan sehingga akan menjadi sumber perasaan hampa. Hanya
pada tipe simbolik atau nihilistiklah kepuasan itu bisa bertahan lebih lama, meskipun superfisial.
Type manusia yang bisa terpuaskan oleh gelar palsu antara lain bertipe simbolik, instrumental, kompensasi, amoral dan mencari tempelan identitas. Itupun sangat dangkal dan segera sirna kecuali pada tipe amoral ( nihilistik ) yang memang sebenar benarnya jahat.
Bagi tipe simbolik yang terpenting gelarnya dan urusan benar atau tidaknya gelar yang dimiliki adalah nomor dua, sehingga kepuasan dangkal, karena bersandar pada reaksi luar, bukan pada isi dalam.
Bagi tipe instrumental, gelar cuma formalitas dan yang terpenting adakah bisa naik pangkat. Dengan begitu, kepuasannya bersifat kalkulatif pragmatis, bukan emosional atau moral.
Bagi tipe kompensasi, yang cuma ingin disebut bergelar seperti dengan teman temannya,dapat diduga bahwa kepuasannya dipenuhi bersifat emosional, hanya sesaat, lalu akan diikuti oleh gelisah batin yang tak terucapkan.
Bagi tipe amoral, yang berprinsip, jika sistem jelek, tidak salah jika ikut jelek, maka rasa puas akan sangat stabil tetapi juga paling berbahaya, bagi kehidupan bersama karena tidak berbasis nurani.
Bagi tipe mencari tempelan identitas, memakai gelar hanya merasa lebih keren kalau ada gelar di depan nama saya dan tidak peduli isinya, maka gelar itu akan memberi kepuasan semu dan menjadikannya tertawaan di masyarakat.
Maukah seperti itu, jika mau segera mendaftar di lembaga abal abal dan dapatnya gelar palsu, sebaiknya jangan terlalu banyak karena akan tampak sangat panjang dan mencolok di mata semua orang. Karena semua orang sebenarnya mengetahui kompetensi anda dan tertawa lebar oleh kepalsuan itu,
Banjarmasin
04102025.







