
ISRA MIKRAJ
Oleh : IBG Dharma Putra
“Isra Mikraj diam diam, memberi tambahan ilmu tentang menjaga keteguhan ataupun ketaatan alam semesta kepada kebenaran dengan penuh bijaksana secara terbuka dan masuk akal”.
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Isra Mikraj dapat dipahami sebagai perjalanan mistik yang dikehendaki Tuhan bagi ciptaanNya yang paling peka, seorang Nabi yang mampu mendengar suara Ilahi bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk seluruh umat manusia. Nabi, tidak semata sebagai penerima keistimewaan, menjadi utusanNya sekaligus penyambung lidah kebenaran tetapi sekaligus sebagai pemegang amanah dan penanggung jawabnya.
Isra Mikraj secara substantif bukan perjalanan personal semata tetapi juga sebagai perjalanan publik yang berujung pada menempatkan Nabi terakhir pada posisi yang semakin kokoh,secara tegas dan jelas, sekaligus memisahkan secara halus antara keteguhan iman dengan keraguan yang berujung penolakan. Tidak hanya peristiwa luar biasa, tetapi sekaligus merupakan penanda kedewasaan spiritual.
Perjalanan Isra Mikraj bukan untuk menjadikan manusia lebih tahu, tetapi menjadikannya lebih taat, karena semua yang sepatutnya diketahui dan dipahami sudah diperdengarkan, akhirnya ditulis dan dihafalkan. Perjalanan spiritual yang berupaya mendudukkan nilai langit di bumi yang dipenuhi keingintahuan dan keraguan. Dua hal yang mempunyai potensi sebagai gangguan ketaatan, padahal sejatinya jika dikelola dengan arif, bisa menjadi bagian dari proses pencarian makna kebenaran.
Keraguan muncul dari ketakpastian dikala dasar pengetahuan memang tidak cukup atau belum kuat, sedangkan keingintahuan muncul karena ketidaktahuan. Artinya keberadaan keduanya bukan karena ketidakpercayaan, dengan begitu, selayaknya dihadapi memakai cara yang tepat, melalui pemberian ilmu pengetahuan.
Tambahan ilmu merupakan tindakan awal yang akan sangat mencerahkan bagi keraguan atau keingintahuan. Keraguan yang bersifat kritis dan membongkar atau keingintahuan yang memiliki sifat memperluas pemahaman, akan tunduk dan takluk oleh pemikiran benar berlogika baik.
Wajib disadari bahwa ragu atau keingintahuan, sering sering muncul dalam narasi negatif dan tidak selalu bernarasi positif, munculnya seolah menantang dan melawan sehingga memancing emosi pendengarnya, mengundang resistensi, bahkan antipati.
Kemunculan yang wajib diatasi dengan sabar bahkan dipenuhi syukur karena dapat menjadi momentum pencerahan bagi semua jika kondisi ini dihadapi dengan niat luhur disertai panjatan doa untuk selalu memohon rahmatNya. Kondisi seperti ini, tak boleh dihadapi secara sembrono melalui persekusi atau tindakan barbar lainnya, tetapi wajib dihadapi dengan berpedoman pada nilai luhur perjalanan Isra Mikraj.
Kondisi ini, wajib dilihat substansinya sebagai proses pemantapan untuk menjadi lebih teguh secara keimanan dengan ketaatan spiritual nan solid. Keduanya dipertemukan di dalam harmoni indah yang produktif. Bukankah keraguan tanpa keingintahuan akan melahirkan skeptisisme dan keingintahuan tanpa keraguan bisa berujung di keyakinan sangat dangkal.
Keingintahuan yang disertai keraguan menjadi awal pencarian berujung ketaatan yang serius dan cerdas, tidak dogmatis, berakal sehat dan mencerahkan serta penuh kedamaian sedang keraguan yang dipandu oleh keingintahuan bisa melahirkan kearifan reflektif. Membuat lebih taat sesuai dengan salah satu hakekat Isra Mikraj.
Dalam kerangka mendudukkan nilai langit pada tanah dan bumi itulah, substansi Isra Mikraj bisa dihadirkan sebagai jawaban simbolik, sekaligus menegaskan bahwa ketaatan cerdas tidak akan meniadakan pertanyaan tapi menuntunnya dan keraguan yang dihadapi serta diolah secara pas dan benar bukan ancaman iman, tetapi sebuah gerbang menuju pemahaman yang lebih dalam.
Isra Mikraj diam diam, memberi tambahan ilmu tentang menjaga keteguhan ataupun ketaatan alam semesta kepada kebenaran dengan penuh bijaksana secara terbuka dan masuk akal.
Banjarmasin
10012026







