
MENUA DAN ILMU TUA
Oleh : IBG Dharma Putra
“Ilmu tua itu ilmu olah rasa, kesadaran, kepekaan panca indra dan pengalaman hidup sampai bisa membaca gejala tubuh seperti membaca cuaca langit, menyadari bahwa kebersihan mulut perlu dijaga agar bau mulut karena susunan gigi yang mulai renggang dipenuhi sisa sisa makanan tak mengganggu lawan bicara.”
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Menua bukanlah hal yang sulit bagi si penyuka keheningan karena kesulitan utama dari menjadi tua memang disukainya, yaitu belajar menikmati sepi di kesendirian keseharian. Bangun pagi tak tergesa, menuntaskan fajar tanpa tersisa lelah bekas kesibukan hari kemarin adalah perasaan langka yang jarang dinikmati di masa sebelum tua. Dalam kelambatan itu, usia tua menemukan caranya sendiri untuk memuliakan waktu.
Berdiri di beranda depan, lantai dua rumah kita, memandang keheningan subuh sampai tembus ke ufuk timur, menikmati kesegaran udara pagi, yang masih perawan dari hiruk pikuknya dunia, sambil menunggu waktu sembahyang, sekaligus berdoa adalah pengalaman yang tidak sekedar indah melainkan mencengangkan. Betapa saat belum tua, kesibukan telah menutup pintu bagi nikmat yang demikian sederhana, sehingga kini, setiap helaan napas terasa bak pelajaran yang dulu terlewatkan.
Mungkin karena dulu, kesibukan dirilah menjadi sumber ketergesaan, berlari mengejar berbagai tugas dan tanggung jawab seolah waktu selalu kurang, sehingga membuat tak sempat berpikir matang dan terjadi kenyataan lucu itu, menyia nyiakan keindahan dan kenikmatan sederhana di sekitar diri serta mencarinya ke tempat jauh berharga mahal. Usia tua mengajarkan ironi itu dengan senyum yang tidak mengejek, tetapi mengingatkan.
Mungkin karena pengaruh kearifan yang dapat tumbuh spontan bersamaan dengan bertambah usia, bak tumbuhnya lumut di batu yang basah oleh pengalaman. Waktu yang dulu terasa tersia sia, di masa kini, tak menyisakan sesal, bahkan menjadi cerita seru beraroma komedi, tentang kebodohan diri yang pernah begitu yakin pada kesibukan. Petualangan yang konyol berubah menjadi sumber tawa serta hikmah bagi anak cucu.
Dari sanalah lahir kearifan penerimaan, menjadi bahagia hingga fisik yang menua dan gangguan pendengaran,katarak, kelainan refraksi, linu dan nyeri sendi, agak sulit bernafas, mulai pikun dan cepat lelah bahkan kantuk yang mudah datang, tak lagi dianggap musuh. Semua wajib diterima sebagai bagian perjalanan yang wajar, belajar mengakui bahwa tua memang membawa sepi, kadang hambar, bahkan perlahan dijauhi, tapi penerimaan menjadikannya ringan untuk dipikul.
Bahwa bahagia tersebut bukan tentang mana, apa, kapan, bagaimana, bahkan bukan tentang dengan siapa tetapi berada dalam diri dan tidak bergantung pada keramaian atau pengakuan. Bahagia adalah kemampuan menerima hidup tanpa membandingkan, berdamai dengan takdir tanpa kehilangan cinta. Dalam kompromi yang matang, kehidupan menemukan kestabilannya.
Kesadaran itu menenangkan dan menempatkan gangguan, bukan lagi sebagai penderitaan tapi keseharian yang normal. Begitulah kondisi yang normal orang berusia lanjut. Dari kedamaian itu, lahir suatu pengetahuan yang tak tertulis dalam buku, pengetahuan rasa, dari pengalaman, dari kejujuran diri, yang pantas disebut ilmu tua.
Ilmu tua itu ilmu olah rasa, kesadaran, kepekaan panca indra dan pengalaman hidup sampai bisa membaca gejala tubuh seperti membaca cuaca langit, menyadari bahwa kebersihan mulut perlu dijaga agar bau mulut karena susunan gigi yang mulai renggang dipenuhi sisa sisa makanan tak mengganggu lawan bicara.
Minum yang cukup bukan lagi anjuran remeh, melainkan disiplin kasih pada diri. Air kencing yang pekat, kulit yang kering, lidah yang panas, apalagi jika disertai dengan bau badan asam dan menyengat adalah tanda bahwa kehidupan di dalam tubuh memerlukan air lebih banyak. Air yang kurang, menjadikan metabolisme lemah, makanan kehilangan makna, dan sakit mudah datang. Ilmu tua menuntun kita untuk mencegah sebelum menyesal.
Demikian pula ketika buang air tidak lagi teratur, bisa encer atau keras seperti kotoran kambing , disertai bau menyengat, merupakan peringatan dari tubuh yang sedang radang oleh racun yang berlebihan. Kandungan pengawet, penyedap, pewarna, bahkan pestisida wajib diteliti untuk dihindari. Ilmu tua mengajarkan kesederhanaan, makan secukupnya, memilih yang alami serta menghormati tubuh sebagai teman perjalanan.
Nyeri dada dengan keringat dingin merupakan bahasa pembuluh tersumbat, sakit lutut adalah teguran bagi tubuh berat, wajib dijawab dengan kesadaran berolahraga serta menata pola menu makan. Ilmu tua menolak kesembronoan, sebab mengetahui bahwa penyembuhan terbaik sering lahir dari perubahan sikap hidup.
Tengkuk yang berat dan tekanan darah tinggi merupakan alarm yang tidak boleh diabaikan. Olahraga, olah fleksibilitas serta angkat beban sesuai kemampuan otot, layak segera dilakukan sebagai bentuk penghormatan pada kesehatan.
Disikapi dengan tenang dan tak berupa keluhan, bahkan wajib disertai kegembiraan menjaga diri sebagai cara mensyukuri waktu yang diberi.
Pada akhirnya, menua bukan kemunduran tapi proses pendewasaan utuh, selayaknya dijalani dengan sadar, diterima dengan lapang, supaya berujung bahagia dan sejahtera, sedang ilmu tua bukan sekadar pengetahuan tentang tubuh, melainkan kearifan jalan damai agar masa tua menemukan jati dirinya.
Banjarmasin
14022026







