THAWAF KEHIDUPAN (SERI OPINI IBG DHARMA PUTRA)

THAWAF KEHIDUPAN
Oleh : IBG Dharma Putra

“Thawaf itu melelahkan tapi sarat makna, berisi jeda kontemplasi dan introspeksi, saat berhenti sejenak, menepi dari hiruk kebersamaan, untuk berdialog dengan diri sendiri, ditemani Pencipta. Jeda itu, amat penting, seperti napas di antara langkah, supaya kebersamaan tidak kehilangan makna.”

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sayup sayup terdengar lagu, “no women no cry”, dari TV yang sedang terhubung dengan salah satu jejaring media sosial. Judul lagu membuat tersenyum geli sekaligus membayangkan, yang menangis, perempuan atau lelakinya. Akankah semesta selalu menangis karena pertemuan tak terhindarkan penghuni lelaki dengan wanitanya. Bukankah silaturahmi yang paling intim adalah pernikahan.

Menjadi suami, bukanlah pekerjaan mudah bagi kebanyakan lelaki yang tertantang mengerjakan semua jenis larangan di dalam hidup, sekaligus enggan bergerak jika disuruh. Itu yang mungkin menjadi isi pesan arif seorang ibu mertua untuk menantu tercinta, larang suamimu jika kau ingin dia mengerjakannya.

Ikatan pernikahan dipastikan akan menyediakan daftar larangan yang panjang tak berjeda untuk para pesertanya, sebagai suami atau istri, yang mungkin tidak punya pengaruh bagi perempuan sebagai istri karena sudah terbiasa begitu tetapi akan sangat membuat sibuk para lelaki sebagai suami karena terbiasa melawan larangan.

Tidak ada salahnya jika pernikahan diserupakan dengan petualangan mencicipi kuliner di tempat baru, yang wajib diawali dengan niat kuat untuk tak kecewa jika ternyata aroma dan rasanya,tak sesuai selera, karena nikmat berjalan beriringan dengan kebiasaan lidah sehingga tidak nyaman menjadi sedap bersama berjalannya waktu.

Semua itu memerlukan komunikasi, tak semata saling bicara tapi saling mendengarkan secara utuh menyeluruh. Komunikasi berseni, dipenuhi onak dan duri tetapi tetap wajib dijalani dengan sepenuh hati. Komunikasi yang lahir dari sebuah komitmen akan melahirkan kesabaran, berujung kompromi.

Kompromi pada hakekatnya berbagi sehingga harus disadari sebagai hal yang tidak ciptakan kepuasan paripurna. Seni berbagi, hakekatnya kerelaan tak dapat semua demi keutuhan serta tak boleh dipandang pada dimensi menang dan kalah. Karenanya pernikahan memerlukan cinta, berperan melengkapi kurang, menyempurnakan timpang.

Kepuasan dalam sebuah pernikahan, tak hanya karena terpenuhi keinginan pribadi, tetapi justru menjadi lengkap, disempurnakan oleh perasaan puas karena mampu memuaskan pasangan dan memandang rona kepuasan itu di wajahnya.

Pernikahan adalah keputusan asimetris, seperti melakukan thawaf di tanah suci, lelah nan wajib dijalani supaya bisa lebih mengetahui eksistensi. Perputaran anti gravitasi melawan arah putaran jarum jam, melepas radikal bebas terperangkap dalam tubuh kembali ke alam agar tubuh yang lelah akibat suasana asam menjadi bersuasana basa dan segar kembali.

Thawaf itu melelahkan tapi sarat makna, berisi jeda kontemplasi dan introspeksi, saat berhenti sejenak, menepi dari hiruk kebersamaan, untuk berdialog dengan diri sendiri, ditemani Pencipta. Jeda itu, amat penting, seperti napas di antara langkah, supaya kebersamaan tidak kehilangan makna.

Dari kesendirian dalam hening, diharapkan bisa muncul kesadaran baru, untuk siap melanjutkan putaran hidup bersama dalam ritme yang lebih selaras, sistemis dan sistematis, untuk sebuah cita kehidupan, kebahagiaan dunia dan akhirat.

Pada akhirnya, pernikahan merupakan thawaf kehidupan, berputar dalam dinamika antara aku dan kita, antara memberi dan menerima, antara lelah dan bahagia. Pernikahan tak menjanjikan kemudahan, tetapi menawarkan makna, bahwa yang mampu menjalaninya dengan kesadaran, kesabaran disertai cinta, akan menemukannya, bahwa setiap siklusnya tak hanya pengulangan, tapi pendalaman menuju dewasa sehingga jiwa mampu memaknai keutuhan hidup bersama.

Banjarmasin
28042026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini