PEARL HARBOUR (“SERI CATATAM TJIPTO SUMADI”)
“Menang Jadi Arang Kalah Jadi Debu”
Pesan apa yang dapat dipetik dari kisah memilukan di atas? Pertama, perang tidak akan pernah menyelesaikan masalah, bahkan hanya melahirkan masalah baru, yaitu kesedihan, kekacauan, kehancuran, bahkan kematian yang tragis. Kedua, dalam peperangan, yang menang akan seperti arang, tetap luka terbakar dan mengalami penderitaan, apa tah lagi yang kalah, ia akan jadi debu, dan luluh lantak. Peperangan bukanlah solusi terbaik, tetapi justru lebih berorientasi pada menonjolkan kekuatan, keangkuhan, dan kedigdayaan.
(Oleh Tjipto Sumadi*)
SCNEWS.ID-JAKARTA. Berkisah tentang Perang Dunia II, bukan saja ada di Jerman, Italia, atau di negara dunia ketiga yang menjadi “barang jarahan” bagi negara adidaya penguasa perang di era itu. Akan tetapi, peperangan selalu menyisakan kesedihan, kedukaan, dan kesengsaraan yang tiada tara. Jangan tah, peperangan yang melibatkan antar-sejumlah negara seperti pada Perang Dunia II, perang Iraq – Iran, Perang Korea Utara dan Korea Selatan yang berhenti namun bukan dalam damai, atau peperangan di jazirah timur tengah yang tiada henti. Seolah negara-negara di kawasan timur tengah memang dibuat agar warganya tidak nyenyak tidur dan tidak enak makan, sebab bila mereka hidup tenang, dapat dipastikan dunia akan mereka kuasai dengan modal basis penguasaan minyak dunianya.
Kisah pertumpahan darah bukan saja terjadi nun jauh di luar negeri sana, sebut saja kisah duka di negeri yang kita cintai ini, sejarah perjalanan bangsa kita, tidak sedikit mengalami peperangan, apa tah itu, di era kerajaan nusantara, atau di masa pendobrak dalam merebut kemerdekaan dari cengkeraman penjajah, atau bahkan di masa-masa awal kemerdekaan negeri ini, hingga masalah Timor Timur. Bahkan saat ini pun masih terjadi gejolak di Papua Barat, ada sekelompok orang bersenjata yang menginginkan mendirikan negara yang terpisah dari NKRI.
Tulisan ini, tidak bermaksud mengurai peperangan yang terjadi di hampir seantero belahan dunia. Tulisan ini, secara konsisten akan berkisah tentang perjalanan penulis ke mancanegara, dan berupaya untuk berbagi kepada Pembaca yang Budiman. Sebagaimana judul di atas, tulisan ini akan mengilustrasikan sisa-sisa peperangan yang terjadi di Pearl Harbour. Pearl Harbour merupakan pelabuhan yang diperuntukkan bagi Pangkalan Militer Amerika Serikat yang terletak dekat Honolulu di Hawaii. Kepulauan Hawaii sendiri merupakan negara bagian ke 50 dari Amerika Serikat. Hawaii bergabung menjadi negara bagian Amerika Serikat setelah hampir 15 tahun Perang Dunia II berakhir, tepatnya yaitu pada 21 Agustus 1959.
Pada saat di Eropa sudah berkobar peperangan dahsyat yang dipicu oleh Jerman dan Italia, sesungguhnya di Asia Pasifik masih relatif tenang. Namun rupanya ketenangan itu tidak bertahan lama, sesaat setelah Jepang menyerbu Pearl Harbour, maka Amerika Serikat pun terseret ke kancah Perang Dunia II. Dengan komando kamikaze, Jepang meluluh-lantakkan Pangkalan Amerika Serikat di Pearl Harbour. Dalam bahasa Jepang, kami-kaze memiliki arti ‘angin dewa’ atau ‘angin ruh’. Dalam penyerbuan ke Pearl Harbour, kamikaze dimaknai oleh Jepang sebagai “Unit Khusus Angin Ilahi”, yang bertugas untuk melakukan serangan bunuh diri ke Pearl Harbour. Sejarah mencatat, tidak kurang dari 3.800 pilot kamikaze yang gugur, dan lebih dari 7.000 personel marinir Amerika Serikat kehilangan nyawa. Bahkan tiga kapal induk AS, yaitu USS Arizona, USS Oklahoma, dan USS Utah pun ditenggelamkan oleh pasukan kamikaze ini. Perang ini memang diilustrasikan amat sangat dahsyat, setidaknya itulah yang diabadikan di World War II Valor in The Pacipic National Monument di Hawaii.

Pembaca yang Budiman
Pesan apa yang dapat dipetik dari kisah memilukan di atas? Pertama, perang tidak akan pernah menyelesaikan masalah, bahkan hanya melahirkan masalah baru, yaitu kesedihan, kekacauan, kehancuran, bahkan kematian yang tragis. Kedua, dalam peperangan, yang menang akan seperti arang, tetap luka terbakar dan mengalami penderitaan, apa tah lagi yang kalah, ia akan jadi debu, dan luluh lantak. Peperangan bukanlah solusi terbaik, tetapi justru lebih berorientasi pada menonjolkan kekuatan, keangkuhan, dan kedigdayaan.
Semoga bermanfaat.
Salam Wisdom Indonesia
*) Mahasiswa Teladan Nasional 1987
Dosen Universitas Negeri Jakarta

Setuju bahwa perang hanyalah menimbulkan masalah baru,maka kompromi dan berdamailah untuk menyelesaikan persoalan persoalan yang ada Damai itu Indah.Tks