BERKENALAN DENGAN KESOMBONGAN (SERI SECANGKIR KOPI SERIBU INSPIRASI)

BERKENALAN DENGAN KESOMBONGAN

“Berteman” dengan kesombongan, menjadi kita bisa mengenalnya dan kalau ada kondisi-kondisi tersebut pada diri kita, maka kita dapat memverifikasinya itulah sifat sombong yang mesti kita “hilangkan” adanya dalam diri kita dengan cara membangun kesadaran “semua yang ada pada diri kita adalah Anugerah Allah” dan “semua yang ada pada diri orang lain juga anugerah Allah”.  Dalam posisi inilah sesungguhnya kita tidak punya apa-apa yang pantas disombongkan, dan saat sombong itu menghinggapi, ingatlah “Iblis yang makhluk yang berada di Surga pun telah diusir oleh Allah karena kesombongannya, apalagi kita yang belum pernah ke Surga”.

(Oleh : Syaifudin)

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, begitu banyak pembahasan masalah kesombongan ini, namun sebagaimana layaknya sesuatu yang banyak dibicarakan terkadang kita menganggapnya hal yang biasa atau lumrah, sehingga dapat menimbulkan sikap biasa yang kehilangan “makna’, yang berakibat kita kurang mengenalinya lagi keberadaannya pada diri kita. Dari sinilah kemudian ijinkan saya mengkaji ulang hanya sekedar untuk kita berkenalan lagi dengan “teman” kesombongan yang sesungguhnya ada dalam diri kita, dengan tujuan mengingatkan diri saya sendiri agar selalu kenal dengan “sosok” yang namanya “sombong” tersebut.

Istilah berteman dengan kesombongan tersebut tentu tidak bermaksud untuk menjadikannya sikap suka atau pegangan dalam menyikapi kehidupan, akan tetapi berteman dalam makna “mengenal” nya lebih dekat dan semakin kenal semakin kita bisa mencirikannya dengan sosok lainnya, sehingga kita bisa selalu waspada agar karakter sosoknya tersebut bisa kita hindari. Logikanya terkadang saat kita hanya bilang sesuatu itu “jahat” atau “tidak baik”, namun ternyata yang kita bilang sesuatu tidak baik itu ternyata ada dalam perilaku kita.

Sahabat ! saat dekat yang namanya “sombong” itu terdapat nuansa hati kita yang merasa lebih dalam berbagai hal dari orang lain, artinya saat kita merasa mempunyai kelebihan, maka ada perasaan tinggi hati dan menganggap kita lebih hebat dari orang lain tersebut. Merasa lebih dari yang lain inilah yang terasa sekali saat kita dekat dengan si sombong tersebut, sehingga sikap dan gestur serta mimik mukanya terlihat jelas memancarkan sikap dan nuansa merendahkan dan mencemoh kita yang dekat dengannya.

Suatu realitas adanya kondisi kemampuan kita yang beragam dan berbeda, sehingga kehidupan bertutur pada diri kita masing-masing terdapat kelebihan dan kekurangannya. Artinya selebih apapun seseorang akan terdapat sisi kekurangannya, dan sebaliknya sekurang-kurang apapun seseorang pasti mempunyai kelebihan.  Oleh karena itu bisa dipastikan tidak ada manusia yang sempurna, baik itu sempurna kelebihannya maupun sempurna kekurangannya. Kesadaran akan kelebihan dan kekurangan ini akan sangat terasa apabila kita berteman dengan si sombong, karena sisombong sangat sulit mengakui adanya kelebihan orang lain, dan kalaupun ia mengakuinya, maka ia tidak mengungkapkannya dan kalaupun diungkapkan akan selalu ada alasan bahwa kelebihan itu bukan karena usaha orang tersebut.

Kita mengakui dan menyadari sepenuhnya akan adanya kondisi dalam pergaulan yang tidak selalu benar, artinya ada saja perbuatan kita yang salah, baik itu disengaja ataupun tidak disengaja, ataupun karena adanya perbedaan karakter dan tatanan nilai kehidupan, atau karena berbeda kepentingan dan keyakinan sehingga timbul yang kita sebut pemaknaan terhadap salah dan benar. Kondisi kesadaran bahwa kita ini tidak luput dari keslahan itulah yang menyebabkan munculnya reaksi untuk “fair” atau “gentlement” yang jujur mengaku salah kalau berbuat salah dan diikuti dengan permintaan maaf, namun saat kita dekat dan berteman dengan sisombong, maka kita melihat sikapnya yang sangat sulit mengaku kalau ia berbuat salah, saat menyadari berbuat salahpun ia enggan meminta maaf atas kesalahan yang ia perbuat.

Kehidupan kita sering bertutur bahwa semua kita menyukai dan menghormati perbuatan baik yang ditujukan kepada kita, apapun dan dalam bentuk apapun, bahkan kita sangat menghargai mereka yang telah berbuat baik tersebut dengan mengucapkan terimakasih sambil mengingat kebaikan itu selama hayat kita.

Suatu hari saat saya duduk dengan seorang sahabat di warung kopi dan mau membayar ke kasir, ternyata seseorang yang duduk dimeja lain telah membayarkan terlebih dahulu, “oh” ternyata orang tersebut adalah pernah menjadi mahasiswa saya, sayapun menghampirinya dan mengucapkan terimakasih. Namun tak disangka sahabat ngupi saya malah bereaksi sebaliknya dan bertanya “mengapa membayarkan”, apakah kamu menganggap saya tidak mampu membayarkan (dengan menyebut nama saya).  Dengan kejadian ini sayapun tertegun, ternyata ada saja diantara kita yang susah menerima kebaikan orang lain, lantas apa yang menyebabkannya ?, yang menyebabkan sulitnya kita menerima kebaikan orang lain tersebut adalah “sisombong”.

Sahabat ! begitulah “berteman” dengan kesombongan, menjadi kita bisa mengenalnya dan kalau ada kondisi-kondisi tersebut pada diri kita, maka kita dapat memverifikasinya itulah sifat sombong yang mesti kita “hilangkan” adanya dalam diri kita dengan cara membangun kesadaran “semua yang ada pada diri kita adalah Anugerah Allah” dan “semua yang ada pada diri orang lain juga anugerah Allah”.  Dalam posisi inilah sesungguhnya kita tidak punya apa-apa yang pantas disombongkan, dan saat sombong itu menghinggapi, ingatlah “Iblis yang makhluk yang berada di Surga pun telah diusir oleh Allah karena kesombongannya, apalagi kita yang belum pernah ke Surga”.

Salam secangkir kopi seribu inspirasi.

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini