
BERPURA PURA
Oleh : IBG Dharma Putra
“Logika tanpa rasa adalah kepura puraan cinta, yang dipastikan berujung hampa karena hanya cinta khususnya ketulusan yang mempunyai kemampuan untuk mengabadikan pertemuan cinta di tempatnya yang semestinya berupa sebuah ruang sakral bernama pernikahan. Cinta itu, mempertemukan nasib yang diupayakan dengan takdirnya.”
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Kata orang cinta berunsur gairah, penerimaan, dan ketulusan, yang dapat berarti potensial bisa dilakukan dengan berpura-pura. Itulah mungkin yang disebut dengan logika cinta, sebuah logika yang sering kali berseberangan dengan rasa cinta dan kerap membuat cinta, tidak pernah merasakan damainya kemurnian pertemuan dua jiwa seperti yang seharusnya, tapi menjadi arena sandiwara antara nalar serta getar hati yang sama sama ingin menang.
Logika cinta pastilah memilih si kaya berkuasa, karena cinta harus aman, terlindung, sekaligus menjanjikan masa depan. Tanpa pedulikan rasa, cinta pun berubah menjadi sandiwara panjang, panggung kepura puraan karena tak lagi berisi getaran cinta sejati. Menerima kekayaan serta kekuasaan sangat mudah, bahkan bisa terlihat sebagai ketulusan, selama belum lulus diuji oleh pasang surut semesta raya. Di kondisi tersebut,
gairah, yang semestinya menjadi percikan cinta, hanya bersifat fisik dan bisa didramakan dalam waktu yang lama.
Kenyataan itu, tidak mustahil hidup di sanubari seorang perempuan serta terlontarkan spontan dalam kata dari alam bawah sadarnya, jika ada yang kaya, apalagi berkuasa, maka cinta tidak lagi penting baginya, sebab lamarannya pasti diterima. Kalimat getir bak pisau berkarat yang menorehkan luka di dada yang orang mencintai dengan tulus. Lontaran kata yang menjadi lebih tajam karena diiringi kalimat amat pedas,bahwa hidup tak bisa disandarkan pada cinta semata, karena perlu makan dan memenuhi kebutuhan.
Kalimat itu, mungkin sering terdengar di telinga murid papa, hina dina dan belum bekerja, yang hanya mengandalkan kiriman orang tua. Sakit itu, menembus jiwa, mengendap di pojok diam, dan suatu hari bisa meledak menjadi inspirasi tulisan yang menolak dunia yang menuhankan logika dan menertawakan ketulusan.
Logika tanpa rasa adalah kepura puraan cinta, yang dipastikan berujung hampa karena hanya cinta khususnya ketulusan yang mempunyai kemampuan untuk mengabadikan pertemuan cinta di tempatnya yang semestinya berupa sebuah ruang sakral bernama pernikahan. Cinta itu, mempertemukan nasib yang diupayakan dengan takdirnya
Pernikahan adalah perjuangan bersama antara dua hati yang berpadu, disertai ketulusan yang menjadi pelita di jalan panjang nan melelahkan, membawanya perlahan menuju bahagia. Rasa bahagia terasakan di keheningan damainya hati serta bukan dalam senyuman atau tawa berisi pelukan narasi romantis yang di unggah media sosial.
Hati yang tulus menjadi dasar ringan memberi, selalu bersyukur dan berpikir positif dan berani mengambil keputusan serta tidak mudah baper, sebuah ketulusan yang menuntun pernikahan pada komunikasi, komitmen dan komprominya yang hakiki sehingga tidak mudah terombang ambingkan badai rasa.
Logika membawa pertemuan cinta bukan pada pernikahan tapi pada persetubuhan dilegalkan, memutar balikkan makna, menjadikan gairah sebagai pembenaran dan melupakan benarnya rasa padahal rasa dan ketulusan itu, membuat pertemuan berada dalam rahmat Tuhan. Rasa cinta membuat pernikahan menjadi harmoni komplementer pria dengan perempuannya.
Tanpa rasa cinta, keharmonisan hanyalah tonil belaka, yang berarti, tanpa adanya rasa cinta serta hanya mengandalkan logika, harmonisnya perkawinan tergantung kepandaian sandiwara, semakin tampak harmonis jika semakin pandai bersandiwara.
Bersandiwara memerlukan bakat dan tentu saja sangat melelahkan, hingga hidup yang mestinya ringan tanpa beban, menjadi sangat melelahkan dan berpotensi menimbulkan tekanan jiwa yang kuat serta berkelanjutan. Kehilangan rasa cinta, membuat pernikahan dipenuhi keruwetan hidup dan jika tak mempunyai bakat bersandiwara, akan membosankan bahkan bisa mengganggu orang lain di sekitarnya.
Tanpa rasa cinta dan hanya bergantung pada logika semata, tidak akan ada bahagia. Yang tersisa hanyalah kelelahan tiada tara, lelah nan mengikis makna, karenanya pilihlah rasa cinta, walau sering tak berlogika, sebab cinta adalah satu-satunya karunia Tuhan yang menjadikan hidup terasa hidup dan manusia tetap menjadi manusia.
Banjarmasin
31102025







