DAMAI (SERI OPINI IBG DHARMA PUTRA)

DAMAI
Oleh : IBG Dharma Putra

“Senyum kecil bernuansa lucu di hati setiap anak bangsa sebagai akibat dari tercubit mesra oleh perbedaan, diharap mampu menyatukan karena tidak ada lagi beribu argumen berwajah tegang yang terucapkan dan semua orang, berbekal rendah hati sehingga mudah saling memahami. Dengan begitu, perdamaian dipastikan datang bersama dengan rasa kehangatan di kalbu.”

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Keributan kecil setelah lebaran di hari berbeda, membawa benak pada pemikiran bahwa damai terasa lebih sering melintasi pikiran santai, unik dan lucu dibanding pikiran yang terlalu serius. Perdamaian sering datang dalam diam, ketika sedang duduk minum teh hangat, bukan di saat kening berlipat menghitung jumlah pasir pantai.

Semakin berusaha terlalu serius, maka semakin ruwet masalahnya sehingga setiap perbedaan sebaiknya dipandang seperti menonton drama atau sinetron di layar kaca, seolah setiap tokoh memegang naskah yang paling benar, padahal sutradaranya hanya ingin tontonan suguhannya sekaligus bisa menjadi tuntunan, menginspirasi bahwa harmoni tidak selalu lahir dari kesamaan nada, tapi dari kesediaan untuk mendengarkan nada orang lain tanpa terburu menutup telinga.

Pemimpin yang bijak barangkali adalah mereka yang mampu menahan senyum ketika melihat perbedaan menjadi bahan perdebatan panjang, sambil berharap rakyat tahu dan tetap percaya bahwa perahu bersama lebih mudah dan enak didayung dibanding berlomba membuat perahu sendiri sendiri. Artinya, pemikiran tekstual wajib dilengkapi dengan konstektual dan disesuaikan dengan situasi masyarakat awam. Begitulah manusia, punya solitaritas dan solidaritas.

Pandangan tentang pentingnya kearifan untuk kebersamaan diatas, tentu akan dibaca dengan tafsir atau opini berbeda hingga dapat menjadi bahan perdebatan baru karena setiap manusia memang diciptakan berbeda, sehingga saran untuk membaca beda dengan santai, komedis dari sisi kelucuannya tetap berlaku. Mungkin kearifan lucu mampu menurunkan gengsi soliter sekaligus membangun semangat solidaritas.

Fenomena keseriusan dengan kelucuan tersebut akan sering terjadi jika tidak disikapi secara arif, contohnya dalam penentuan awal puasa serta saat berhari raya. Tentu banyak contoh yang lain. Menjadi lucu jika kehendak bareng dengan seluruh masyarakat penghuni bumi membuat tak bersama tetangga sebangsa dan semakin terasa lucu karena semata hanya berani ditahan dihati tak sedikitpun terkeluarkan dalam narasi.

Tidak ada yang salah, hanya saja terasa sedikit lucu, mendekati kejauhan dengan meninggalkan yang dekat. Keduanya jelas tak hanya berdasar iptek tetapi bernuansa kesepakatan. Jika begitu, lebih arif mengutamakan jiran dibanding kawan jauh yang hampir tak saling kenal. Karena jika tidak begitu, berdampak pada ketidakjelasan datangnya malam seribu bulan disertai segala kelucuan serta keruwetannya. Malam ganjilnya dalam satu RT terjadi setiap hari bergiliran.

Harus diakui, bahwa Iptek merupakan pemberi cahaya, membantu lihat arah dengan lebih jelas tapi harus diingat bahwa kesepakatan, memberi kehangatan, bahkan kemesraan jalan bersama, hingga lebih arif jika mengutamakan persatuan anak sebangsa sebelum keseragaman dunia. Sebaiknya perbedaan yang sudah terjadi, bisa menjadi hikmah bersama, membuat tersenyum lucu di saat tersadar bahwa ternyata tujuannya dan dasar substansinya sama saja.

Senyum kecil bernuansa lucu di hati setiap anak bangsa sebagai akibat dari tercubit mesra oleh perbedaan, diharap mampu menyatukan karena tidak ada lagi beribu argumen berwajah tegang yang terucapkan dan semua orang, berbekal rendah hati sehingga mudah saling memahami. Dengan begitu, perdamaian dipastikan datang bersama dengan rasa kehangatan di kalbu.

Banjarmasin
22032026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini