Desert Cruises di Bukit Tursina
“Hikmah apa yang dapat dipetik dari perjalanan ini: Pertama, seindah apapun negeri orang atau segersang apapun keadaannya, tetaplah Indonesia yang ada di hati. Pada akhirnya, benarlah kata penyair Ibu Sud… “walaupun banyak negeri kujalani yang masyhur permai dikata orang… tetapi kampung dan rumahku di sanalah ku rasa senang…”. Kedua, sepanjang perjalanan itu, penulis dapat melihat bagaimana Israel membangun pantai Laut Mati (Dead Sea) menjadi tempat rekreasi, hotel berbintang, dan memproduksi material bahan bangunan. Ketiga, pengalaman melakukan desert cruise amat berbeda dengan cruising on the water, seperti di Sydney, Amsterdam, atau Beograd”
Oleh Tjipto Sumadi*
SCNEWS.ID-JAKARTA. Pembaca yang Budiman, Perjalanan panjang dari Jakarta menuju Yordania, lalu ke Palestina, ke Tel Aviv di Israel, dan menuju Bukit Tursina untuk melihat situs peninggalan Nabi Musa adalah sebuah perjalanan yang melelahkan namun menyenangkan. Selepas itu, perjalanan dilanjutkan menuju Mesir melalui perbatasan Taba hingga melintasi Terusan Suez, dan tiba di Kairo, menginap di tepi Piramid Giza. Semua perjalanan dari Yordania ke Palestina, Israel hingga Mesir, ditempuh melalui jalan darat. Bukan ingin “ngirit” atau tidak punya “duit”, tetapi ini memang menjadi sedikit kebiasaan, sekaligus kesenangan penulis dalam menjelajahi bumi ini. Peristiwa serupa, pernah penulis alami dari Jakarta ke Singapura, lalu ke Malaysia, melalui Hat Yai, dan berakhir di Bangkok, semua perjalanan dilakukan via darat. Begitu juga saat di New York City menuju Buffalo, pergi naik pesawat kembalinya naik Amtrak, yaitu perusahaan perkerata-apian Amerika Serikat. Demikian pula perjalanan dari Seoul – Daigu di Korea Selatan, perginya menggunakan pesawat tapi kembalinya via darat. Menyenangkan, tapi sekaligus melelahkan. Begitu juga beberapa kali menempuh perjalanan di negara-negara di Eropa. Setidaknya, perjalanan itu dapat menambah pengalaman dan pengetahuan.
Kali ini, penulis akan berbagi pengalaman mengendarai mobil Jeep yang dipacu di padang pasir. Dalam perjalanan menuju Mesir, kami menyempatkan diri mengikuti Desert Cruises di Bukit Tursina, dekat Catherine Mountain, tepatnya di Janud Sina. Janud Sina adalah padang pasir yang menjadi bagian dari Bukit Tursina. Sesaat setelah tiba di Janud Sina, sejumlah kendaraan Jeep pun telah menanti. Sejenak bincang sana-sini, lalu disepakati berbagi penumpang pada kendaraan Jeep yang tersedia.
Satu kendaraan Jeep hanya ditumpangi 6 orang, seorang supir dan 5 penumpang. Kendaraan mulai bergerak melintasi hamparan pasir dan bukit bebatuan yang seolah “tak bertuan”. Betapa tidak terpikir demikian, karena sepanjang mata memandang hanya bukit terjal, padang pasir, dan gurun kering tandus yang tampak. Tak pernah terlintas di pikiran bahwa akan ada kehidupan di gurun yang sepanas dan segersang ini. Entah sengaja atau tidak, supir malakukan manuver di atas gurun pasir yang dilalui. Tentu hal ini menaikkan adrenalin dan sekaligus menyiutkan nyali.
Hormon adrenalin adalah hormon yang dihasilkan tubuh saat menghadapi situasi berbahaya. Melihat kami tegang, justru supir malah tertawa. Dia merasa “menang” karena telah “menaklukkan” penumpangnya. Di ujung jalan tak beraspal ini, kendaraan dihentikan, dan supir Jeep mulai bercerita. Katanya; “Di sinilah Nabi Musa pertama kali menginjakkan kaki saat menyeberang dari Mesir menuju tanah yang “dijanjikan”. Tanah yang dijanjikan itu menjadi daerah yang terus-menerus diperebutkan oleh penganut tiga agama samawi, hingga kini.

Pembaca yang Budiman
Hikmah apa yang dapat dipetik dari perjalanan ini: Pertama, seindah apapun negeri orang atau segersang apapun keadaannya, tetaplah Indonesia yang ada di hati. Pada akhirnya, benarlah kata penyair Ibu Sud… “walaupun banyak negeri kujalani yang masyhur permai dikata orang… tetapi kampung dan rumahku di sanalah ku rasa senang…”. Kedua, sepanjang perjalanan itu, penulis dapat melihat bagaimana Israel membangun pantai Laut Mati (Dead Sea) menjadi tempat rekreasi, hotel berbintang, dan memproduksi material bahan bangunan. Ketiga, pengalaman melakukan desert cruise amat berbeda dengan cruising on the water, seperti di Sydney, Amsterdam, atau Beograd.
Pengalaman memang tak dapat dirupiahkan, apalagi untuk memenuhi persyaratan menjadi Guru Besar, tetapi memiliki pengalaman adalah kepuasan hati dan ruhaniah, yang tak dapat dinilai semata-mata dengan rupiah. Meskipun disadari bahwa uang bukanlah segalanya, tetapi segalanya membutuhkan uang. Pada akhirnya, penulis sampaikan; selamat menabung agar dapat terbang menyaksikan indahnya dunia, walaupun akhirnya akan kembali ke kampung jua. Home sweet home, Baiti Jannati; rumahku adalah surgaku.
Semoga bermanfaat.
Salam Wisdom Indonesia
*) Mahasiswa Teladan Nasional 1987
Dosen Universitas Negeri Jakarta
