DEWI TARA (SERI OPINI : IBG DHARMA PUTRA)

DEWI TARA

“Bahwa sebuah perang besar bisa berlangsung diantara mereka yang selayaknya saling menyayangi, hanya karena ada setitik kecurigaan”
(Oleh : IBG Dharma Putra)

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Dewi Tara, istri tercinta Subali sekaligus istri tercinta dari Sugriwa, saudara kembar Subali, adalah seorang dewi yang disunting oleh dua pangeran kembar dari kerajaan kera, karena situasi yang beraroma salah duga dan salah paham.

Dewi Tara tak punya pilihan, selain menerima karena tak punya kewenangan memutuskan dan harus pasrah pada nasib serta menjalani hidupnya akibat belum ada kesetaraan pria perempuan di zamannya.

Ceritanya dimulai dari tantangan bertarung, dari seorang raksasa sangat sakti kepada kerajaan kera, yang dipimpin oleh kera kembar ini. Sebuah tantangan yang tidak bisa ditolak ataupun dihindari.

Menghadapi tantangan itu, Subali, sebagai kakak yang sangat menyayangi Sugriwa, tidak membiarkan sang adik, berhadapan dengan musuh tangguh berwujud kerbau raksasa itu.

Subali memutuskan untuk maju menghadapi tantangan pertarungan dari Raksasa serta meminta Sugriwa untuk tidak ikut bertarung dan menunggu saja didepan gua tempat pertarungan.

Sebelum masuk kedalam goa, Subali berpesan agar Sugriwa, menutup dan meningalkan goa sesegeranya, jika terlihat tanda, kekalahannya dalam pertarungan melawan si Raksasa sakti.

Tanda kemenangan jika darah merah Raksasa mengalir keluar goa, sedangkan kekalahannya ditandai oleh mengalirnya darah Subali keluar goa. Darah Subali diceritakan berwarna putih.

Sebuah pesan dengan nuansa kasih sayang karena Subali ingin menikmati kemenangan bersama Sugriwa, tetapi jika dia mengalami kekalahan, Subali ingin agar adiknya tetap aman dari gangguan si raksasa.

Sugriwa dengan patuh mengikuti pesan Subali dan menutup pintu goa serapat rapatnya, setelah melihat darah yang mengalir keluar berwarna merah bercampur putih.

Sugriwa menyangka pertarungan berjalan seimbang dan berakhir dengan kematian kedua petarung, baik Subali maupun raksasa, padahal Subali memenangkan pertarungan dan hanya si raksasa yang menemui ajalnya.

Warna putih yang mengalir keluar goa, bukan darah subali tapi warna otak raksasa yang bercampur dengan warna getah pohon yang tumbuh dalam goa.

Kepala raksasa pecah berantakan dipukul Subali dan otaknya yang berwarna putih, berserakan mengalir keluar goa, tercampur dengan getah berwarna putih, dari pohon yang ikut terpotong saat pertempuran.

Inilah awal dari cerita panjang tentang salah duga dan salah paham antara kedua saudara hingga bisa mengubah rasa saling sayang diantara mereka menjadi perang saudara sebagai latar epos ramayana.

Itikad baik dan rasa sayang Subali dibalas dengan kecerobohan sang adik. Dan karena kebodohan, ketakutan serta berbagai alasan lain yang akan tetap misteri, Sugriwa telah bertindak berlebihan dengan menutup goa.

Dikatakan berlebihan karena seharusnya goa tak perlu ditutup. Menutup goa dipesankan agar raksasa tak bisa keluar goa walaupun memenangkan pertarungan, sehingga tidak mungkin mengganggu lagi.

Artinya bagaimanapun kondisi Subali, jika raksasa sudah mati, pastilah tak akan bisa menganggu lagi. Sehingga tak perlu menutup pintu goa. Kematian raksasa terkonfirmasi dengan adanya darah merah.

Dengan menutup goa, Sugriwa berhak untuk dicurigai, mempunyai agenda lain dengan memanfaatkan momentum pertarungan Subali dengan raksasa.

Kecurigaan masuk akal karena kebodohan atau ketakutan, yang sebenarnya sangat sulit dibedakan dengan kebodohan atau ketakutan yang dibuat dibuat dan hanya kepura puraan semata.

Kecurigaan pada Sugriwa semakin kuat, saat Sugriwa memutuskan untuk menyunting Dewi Tara. Seolah kematian Subali adalah sebuah kesengajaan, agar Sugriwa berkesempatan untuk menikahi janda Subali.

Seandainya Sugriwa bisa menahan nafsunya, dengan tidak mengawini Dewi Tara tetapi menjadikan Dewi Tara seorang ratu pengganti Subali dan Sugriwa puas hanya sebagai maha patih kerajaan, maka kecurigaan tidak akan pernah ada.

Berkecamuknya kecurigaan di masyarakat, tidak akan pernah terjadi jika saja Dewi Tara, menerima lamaran Sugriwa dengan syarat kejelasan penyebab kematian suaminya sudah didapatkannya.

Penerimaan lamaran tanpa syarat hanya mungkin terjadi karena kehidupan Dewi Tara tidak mandiri dan sangat tergantung kepada suami. Sebuah pola budaya patriakal yang menempatkan perempuan tak setara dengan para pria.

Ketidak setaraan membuat pola hubungan tanpa kedaulatan bagi perempuan dan akan berujung pada rendahnya mutu perempuan serta akan berpengaruh pada rendahnya mutu pengasuhan anak dan rendahnya kualitas generasi bangsa.

Kesetaraan wajib diperjuangkan karena membuat wanita semakin pandai, mandiri dan sanggup mendidik serta mengasuh anaknya untuk menjadi kader pemimpin masa depan.

Dan kondisi diatas, merupakan salah satu pembelajaran yang bisa didapat dari epos Ramayana. Bahwa sebuah perang besar bisa berlangsung diantara mereka yang selayaknya saling menyayangi, hanya karena ada setitik kecurigaan.

Rahwana ( murid kesayangan Subali ) punya kecurigaan pada Sugriwa. Sebuah kecurigaan berpotensi dendam yang bisa meledak serta sangat menakutkan bagi Sugriwa.

Dalam keadaan ketakutan itu, Sugriwa dengan mudah, menerima Rama untuk bekerja sama memerangi Rahwana, karena telah berbuat jahat, menculik istri Rama. Dan terjadilah perang.

Pelajaran lain yang bisa dipetik adalah sebab hakiki dari perang adalah kebodohan, kembali ke zaman purba dengan melupakan akal sehat serta kembali pada intuisi kebinatangan.

Perang ini, tak akan pernah terjadi jika tidak didahului oleh tindakan bodoh, ceroboh dan terlalu berlebihan dari Sugriwa. Juga tak akan terjadi jika Dewi Tara cukup cerdas menyikapi lamaran terhadap dirinya.

Epos Ramayana ternyata berlatarkan perang akibat salah duga dan salah paham yang ditiup menggelembung menjadi membesar dan gagal dikelola karena kebodohan para pemimpinnya.

Perang juga terjadi karena para pemimpinnya, punya kepentingan seolah misteri karena tak disosialisasikan. Sehingga dipenuhi persepsi dengan berbagai tafsir berkerangka pemikiran negatif.

Setiap kepentingan, khususnya kepentingan para pemimpin, selayaknya diupayakan dapat dicapai secara berimpitan dengan pencapaian kepentingan bersama.

Untuk itu diperlukan keterbukaan bagi semua, sehingga yang kaya bisa memahami untuk ikut berpartisipasi dan yang miskin mengerti untuk menyumbangkan aspirasi.

Begitulah, sebuah perang bisa terjadi karena kepentingan yang tak tersosialisasi maupun kebodohan berujung curiga berkepanjangan. Sebuah perang yang sengaja ditulis untuk dipahami, sehingga tidak terulang di masa kini, juga nanti.

Banjarmasin
17062021

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini