“BICARA DENGAN DIRI (BAGIAN 1)” (SERI SECANGKIR KOPI SERIBU INSPIRASI)

BICARA DENGAN DIRI (Bagian 1)

“Saat hidup terus berjalan dan telah memproses kesempurnaan wawasan dari waktu kewaktu, ucapak kakek “bicara dengan diri sendiri” ini terus bergulir, namun ditahapan ini mengarah pada perenungan untuk menemukan jati diri  “siapa sesungguhnya saya ini”. Dan seiring melakukan kajian-kajian “perenungan diri” serta banyaknya warna kehidupan yang dirasakan dan diamati, maka perenungan makna bicara dengan diri sendiri ini semakin mendapatkan tempat dalam fikiran, jiwa dan qalbu untuk menemukan jawaban siapa sesungguhnya saya ini”

(Syaifudin)

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, saat saya masih kecil sempat tinggal sebentar dengan kakek di sebuah Kampung yang terletak di Hulu Sungai Selatan, akses jalannya sepertiga perjalanan dilewati dengan jalan kaki, dikelilingi oleh perbuktitan anak gunung Meratus, suasana kampung yang sangat kental yang di dalam masa itu terdapat moment  sangat berkesan dan selalu tersimpan dalam ingatan saya, terlebih saat-saat sekarang sayapun sudah menjadi kakek dari dua orang cucu.  Moment bersama kakek tersebut saya tuliskan disini dengan harapan semoga nanti cucu saya bisa menelusuri jejak digital Secangkir Kopi Seribu Inspirasi ini, untuk juga bisa memahami, merenungkannya sebagai “kenangan sepanjang masa” untuk dijadikan “guru” dalam kehidupan.

Moment hidup di Kampung yang hampir semua kebutuhan hidup dipenuhi dengan bertani dengan dikerjakan sendiri, sehingga mugkin moment ini terasa biasa bagi kita yang pernah hidup secara alami menyatu dengan alam, namun dialog saya dengan kakek justeru yang menjadi luar biasa dalam kehidupan kampung tersebut, beliau berpesan “cucuku sering-seringlah bicara dengan diri sendiri” (cu rancangi bepanderan sama diri saurang). Pesan yang awalnya pada anak-anak tersebut membuat saya bingung “kok bisa bicara dengan diri sendiri ?” mestinya kan kalau berbicara itu dengan orang lain. Tentu saat itu saya memahaminya sesuatu yang tak lazim.

Pesan itu kemudian saya pahami dan coba amalkan, sesuai dengan tingkat kemampuan berfikir saya dari waktu-kewaktu, sampai pada kehidupan sekarang ini.  Saat semula saya menganggapnya aneh, namun sejak usia remaja saya sudah mulai mencernanya, kejadiannya saat saya bercermin menanyakan kepada diri saya “apakah saya ini termasuk orang yang cerdas atau sedang atau biasa-biasa aja ?, jawaban yang aku dapatkan adalah  “aku termasuk orang yang biasa-biasa saja” lantas kataku “apakah saya bisa menjadi orang yang luar biasa’ jawabannya bisa, asal kamu rajin.  Sejak saat itu saya selalu berusaha rajin belajar, rajin membantu orang tua mengerjakan pekerjaan rumah, pergi ke kebun untuk mencangkul dan menanam pohon cengkeh ataupun sekedar membantu ayah menanam sayur dipekarangan rumah, dan rajin mengerjakan tugas sekolah dan  ikut membaca buku dan majalah punya ayah yang jumlahnya relatif sedikit namun terasa banyak bagi kami yang tinggal di Kampung, akhirnya saya tumbuh menjadi sosok yang “tidak bisa diam” yang selalu ingin melakukan sesuatu.

Sekarang ternyata perilaku “rajin” ini banyak diceritakan oleh orang-orang terkenal dan sukses dalam kehidupannya dengan kalimat pendek yang solah sebagai rumus kesuksesan, katanya “BANYAK ORANG SUKSES KARENA RAJIN, TAPI TIDAK ADA ORANG SUKSES KARENA MALAS”. Peribahasa lamapun mengatakan “RAJIN PANGKAL PANDAI”.

Pada masa usia transisi dari remaja ke lebih dewasa, bicara dengan diri sendiri itu terus saya lakukan dengan menanyakan lagi saat bercermin “siapa diri saya ini dari sisi kepribadian?” dari sisi sifat dan karakter pribadi, hasil dari bicara ini saya menemukan jawaban yang mengarahkan saya kepada siapa saya bergaul dan kemana mau melanjutkan sekolah ? dan bahkan kemudian punya keasadaran bidang pergaulan mana yang sesuai dengan sifat dan kepribadian tersebut. Dari sinilah kemudian saya menemukan jalan untuk menjadi seorang yang menekuni dibidang hukum, psikologi dan ilmu sosial.

Sahabat ! saat hidup terus berjalan dan telah memproses kesempurnaan wawasan dari waktu kewaktu, ucapak kakek “bicara dengan diri sendiri” ini terus bergulir, namun ditahapan ini mengarah pada perenungan untuk menemukan jati diri  “siapa sesungguhnya saya ini”. Dan seiring melakukan kajian-kajian “perenungan diri” serta banyaknya warna kehidupan yang dirasakan dan diamati, maka makna perenungan bicara dengan diri sendiri ini semakin mendapatkan tempat dalam fikiran, jiwa dan qalbu untuk menemukan jawaban siapa sesungguhnya saya ini.

Ternyata ditahapan ini apa yang pernah kakek katakan kepada saya, bukanlah hal yang mudah untuk menjawabnya saat bicara dengan diri sendiri tersebut, karena menjadi lebih rumit tetapi kok malah lebih “asyik”. Asyik, karena jawabannya lebih kompleks tapi menarik untuk menemukan jati diri kehidupan yang hakiki.

Aku ini adalah aku fisik, aku jiwa, dan aku qalbu atau bahkan aku ruh yang selama ini bersemayam dalam totalitas tubuh dan kehidupanku, lantas kemudian siapakah aku tersebut ? (bersambung)

Salam Secangkir Kopi Seribu Inspirasi.

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini