GERAK KEHIDUPAN ITU LURUS ATAU MELINGKAR ?
“Gerak melingkar tidak mendikotomikan antara kesuksesan dengan kegagalan, penderitaan dengan kebahagiaan, semuanya menyatu dalam predaran pergerakan. Disinilah esensi hidup yang kita sebut penderitaan atau kegagalan sesungguhnya menyatu pada kandungan kebaikan, begitupula yang kita sebut kesuksesan dan kebahagiaan itu terkandung juga menagandung kebaikan, karena kita tidak mungkin bisa merasakan dinamika peredaran kalau tidak merasakan antara kondisi yang satu dengan yang lainnya”.
Oleh : Syaifudin
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, isue tentang eksistensi kita di alam kosmos selalu menjadi renungan saya, terlebih manakala berada di alam terbuka memandang ke langit yang bertaburan bintang-bintang, sehingga pendekatan-pendekatan holistik dalam melihat ayat-ayat yang bertaburan di alam semesta ini “menggelitik” nalar dan qalbu untuk menceritakannya. Tentu cerita dari renungan ini sangat personal (subjektif) namun saya coba menuliskannya dengan harapan menyadarkan diri saya sendiri, dan alhamdulilah kalau juga bisa mengispirasi sahabat.
Sahabat, beranjak dari realitas kehidupan sejak dahulu saya diperkenalkan dengan gerak hidup yang bersifat lurus, artinya kalau diibaratkan sebagai garis lurus, maka manakala kita membentangkan dengan posisi berdiri maka terdapat gerak naik dan turun atau ke atas dan kebawah dan sebaliknya, sehingga dalam konteks kehidupan sering dipadankan pula dengan turun naiknya kehidupan yang disebut dinamika hidup sukses dan terpuruk, bahagia dan derita, tawa dan tangis. Kristalisasi dari gerak hidup yang bersifat lurus tersebut telah membuat sikap dan perjuangan kita selalu ingin mendaki ke atas atau pada kesuksesan hidup, yang tentu dalam proses mencapainya telah mengalami jatuh bangun.
Begitupula saat garis lurus itu kita bentangkan secara mendatar, maka terdapat gerak yang lurus daru satu titik ke titik lainnya yang membentuk gerak kedepan dan kebelakang atau maju dan mundur. Dan kalau kemudian kita padankan dengan kontek kehidupan, maka terdapat dinamika maju dan mundur dalam mencapai jarak dari titik awal ke titik akhir dengan tekad terus bergerak maju.
Sahabat !, sekilas tida ada yang salah dari gerak kehidupan berdasarkan garis lurus ini, karena realitas hidup terkadang naik dan jatuh serta maju dan mundur, namun pada saat kita rasakan secara mendalam dampak dari gerak hidup yang lurus ini terdapat semacam “beban” untuk mencapai ke arah yang tinggi atau terus maju, sehingga pada saat jatuh atau mundur maka hidup seolah menjadi gagal, yang akhirnya seluruh aktivitas menjalani kehidupan seperti layaknya ditukan pada keberhasilan atau kesuksesan dengan parameter yang kita buat sendiri. Payahnya saat terus berjuang ke arah kesuksesan itu kita merasa terus belum puas dan lupa menikmatinya, akhirnya muncul sikap hidup yang ambisius atau sebaliknya “bosan”, yaitu ambisius saat terus merasa kurang dan “bosan” dalam keberlimpahan (baca keberhasilan).
Sekarang saya mengajak sahabat untuk melihat garis kehidupan yang diajarkan atau tepatnya dicontohkan oleh alam semesta, benda-benda di ruang angkasa (planet) ini melakukan gerak “melingkar” yang berputar pada porosnya masing-masing, seperti yang tergabung dalam galaksi bimasakti saja, bumi yang kita pijak sekarang ini tersus berputar mengitari atau mengelilingi matahari, seperti juga Planet-planet dalam Tata Surya kita lainnya Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.
Dengan garis melingkar tersebut, kita melihat hal yang berbeda dengan garis lurus, yaitu pertama, dalam garis melingkar tidak menunjukan adanya titik awal dan akhir, karena semua berada pada lingkaran, kedua tidak mengenal adanya titik atas dan titik bawah, karena semuanya sama berputar mengiringi irama perputaran, sehingga atas dan bawah itu hanya ditentukan oleh sudut pandang pada posisi mana kita melihatnya.
Begitulah kalau kita padankan dengan gerak kehidupan, maka gerak melingkar tidak mendikotomikan antara kesuksesan dengan kegagalan, penderitaan dengan kebahagiaan, semuanya menyatu dalam predaran pergerakan. Disinilah esensi hidup yang kita sebut penderitaan atau kegagalan sesungguhnya terkandung kebaikan, begitupula yang kita sebut kesuksesan dan kebahagiaan itu terkandung kebaikan, karena kita tidak mungkin bisa merasakan dinamika peredaran kalau tidak merasakan antara kondisi yang satu dengan yang lainnya.
Sahabat ! bukankah sangat mustahil semua orang akan kaya sesuai doa, keinginan dan perjuangannya, lantas siapa yang mau melayani si kaya tersebut ?, kalau semua orang sukses dan bahagia, lantas siapa yang bisa menunjukan bahwa itu adalah sukses dan bahagia ?
Jadi rumus kehidupan itu sesungguhnya bergerak melingkar, ikutilah irama peredarannya dalam lingkaran itu, karena yang dituntut kekita hanyalah proses menselaraskan atau mempersiapkan diri untuk diselaraskan atau dipersiapkan oleh Yang Maha Kuasa untuk merasakan apa yang kita sebut kesuksesan dan kegagalan hidup dan apapun labelnya yang dilekatkannya, asalkan kita menyadari bahwa kita berada dalam lingkaran takdir hidup, maka Insyaallah semuanya bernilai kebaikan sampai nantinya kita dikeluarkan dari lingkaran peredarannya di dunia dan menuju pada peredaran di alam lainnya yang kita yakini keberadaannya.
Salam secangkir kopi seribu inspirasi.
