GREAT WALL : MEMANG THE GREAT (SERI CATATAN TJIPTO SUMADI)

Great Wall: Memang The Great

Makna apa yang dapat dipetik dari perjalanan ini? Pertama, Pertukaran seni budaya merupakan sesuatu yang memiliki nilai penting, karena seni mempunyai nilai universal (universal values). Seni budaya yang bermuatan positif cenderung lebih mengalunkan rasa kedamaian dan pemikiran non-rasisme bagi pelaku maupun penikmatnya. Kedua, dalam abad modern ini, kita perlu membangun jejaring dengan dan kepada siapapun juga, bukan hanya untuk kepentingan ekonomi semata, tetapi lebih pada untuk membangun rasa toleransi dan membina perdamaian. Ketiga, to enjoy legacy of the world merupakan salah satu model pembelajaran yang berbasis konstruktivisme, dengan demikian penikmat warisan dunia cenderung dapat lebih bijak menghargai peninggalan dan kerja keras para pendahulu, sekaligus akan terbangun di dalam dirinya nilai-nilai positif untuk menghargai warisan dari para leluhur. Untuk itu, yang perlu dikembangkan bukan hanya daya saing (rivalitaskontestasi), tetapi juga daya sanding (solidaritas-toleransi).

Oleh Tjipto Sumadi*

SCNEWS-JAKARTA. Pembaca yang Budiman, pada kesempatan kali ini, penulis berbagi pengalaman tentang perjalanan ke Beijing, Tiongkok. Beijing termasuk wilayah belahan bumi yang beriklim subtropik. Pada saat penulis bertugas ke sini, Beijing sedang memasuki musim dingin, namun belum turun salju. Beijing adalah ibu kota Republik Rakyat Tiongkok dan merupakan salah satu kota terpadat di dunia, dengan populasi lebih dari 21 juta jiwa. Kota metropolis yang terletak di Tiongkok utara ini merupakan munisipalitas di bawah kendali langsung pemerintah pusat Tiongkok.

Sebagai sebuah megakota, Beijing merupakan kota terbesar kedua di Tiongkok setelah Shanghai, tentu ini ditinjau  dari segi jumlah populasi perkotaan. Di samping itu, Beijing merupakan pusat politik, budaya, pendidikan nasional dan sekaligus kota megapolitian. Dengan kombinasi arsitektur modern dan tradisional, Beijing tumbuh menjadi salah satu kota tertua di dunia yang kaya akan khazanah bersejarah, sejak tiga milenium yang lalu. Di Beijing pun banyak perguruan tinggi yang berkualitas, termasuk yang penulis dan tim kunjungi, yaitu Central Conservatory of Music China (CCMC). Kunjungan ini dalam rangka membangun kerjasama dalam pengembangan musik tradisional antara Indonesia dengan China. Indonesia diwakili oleh Institut Seni Karawitan Surakarta atau ISI Surakarta, sedangkan dari Tiongkok diwakili oleh Central Conservatory of Music China (CCMC).

Foto Bersama Rektor ISI Surakarta dan President of CCMC and His Vice President di Beijing, China.

Tulisan ini tidak akan mengurai tentang tugas yang diemban ke Negeri Tiongkok, tetapi lebih berkisah tentang kunjungan ke Great Wall atau Tembok Raksasa. Tembok Raksasa China sering dinyatakan sebagai satu-satunya bangunan karya manusia yang terlihat dari luar angkasa. Namun demikian, terlepas dari terlihat atau tidaknya dari luar angkasa, tentu tembok ini memang menggambarkan suatu keperkasaan. Tembok Raksasa China menjadi benteng kuno yang memiliki panjang lebih dari 21 ribu kilometer yang menjadikannya sebagai tembok terpanjang di dunia, situs ini terletak di China bagian utara. Tembok Raksasa ini pun sudah dinyatakan sebagai salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO. Pengunjung yang datang ke sini dapat berfose dengan menggunakan seragam pasukan perang China masa lalu. Biayanya pun relatif terjangkau oleh anggaran wisatawan.

Fenomena Tembok Raksasa China saat ini bukan lagi berfungsi sebagai benteng pertahanan, tetapi lebih sebagai sebuah situs peninggalan yang menjadi obyek wisata, baik untuk Wisman maupun Wisdom (wisatawan domistik). Sebagaimana yang terjadi pada menara N Seoul Tower di Korea Selatan, maka di sini pun dijadikan salah satu tempat memadu kasih bagi muda-mudi. Saat berkunjung ke sini, para muda-mudi membawa kunci gembok untuk dilekatkan pada salah satu bagian dari tembok, lalu anak kuncinya pun dibuang. Dari sini mereka mengikrarkan janji untuk setia sampai akhir hayat.

Pembaca yang Budiman

Makna apa yang dapat dipetik dari perjalanan ini? Pertama, Pertukaran seni budaya merupakan sesuatu yang memiliki nilai penting, karena seni mempunyai nilai universal (universal values). Seni budaya yang bermuatan positif cenderung lebih mengalunkan rasa kedamaian dan pemikiran non-rasisme bagi pelaku maupun penikmatnya. Kedua, dalam abad modern ini, kita perlu membangun jejaring dengan dan kepada siapapun juga, bukan hanya untuk kepentingan ekonomi semata, tetapi lebih pada untuk membangun rasa toleransi dan membina perdamaian. Ketiga, to enjoy legacy of the world merupakan salah satu model pembelajaran yang berbasis konstruktivisme, dengan demikian penikmat warisan dunia cenderung dapat lebih bijak menghargai peninggalan dan kerja keras para pendahulu, sekaligus akan terbangun di dalam dirinya nilai-nilai positif untuk menghargai warisan dari para leluhur. Untuk itu, yang perlu dikembangkan bukan hanya daya saing (rivalitaskontestasi), tetapi juga daya sanding (solidaritas-toleransi).

Semoga Bermanfaat

Salam Wisdom Indonesia

*) Mahasiswa Teladan Nasional 1987

    Dosen Universitas Negeri Jakarta

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini