HIKMAH MENYANTAP DURIAN DI DESA TERBERSIH (SERI 2 WISATA BALI SECANGKIR KOPI SERIBU INSPIRASI)

HIKMAH MENYANTAP DURIAN DI DESA TERBERSIH DI DUNIA (SERI 2 WISATA BALI)

“…”Kita ambil yang kecil ya mah” kata saya pada isteri dan langsung disetujui dan langsung pula kami minta kupaskan, setelah itu kamipun menyantapnya dengan rasa nikmat yang khas durian “Bali” sehingga dalam waktu singkat tentu habis. Kamipun saling menatap dengan tatapan yang bisa dimengerti maknanya…”

Oleh : Syaifudin

SCNEWS.ID-DENPASAR. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, siapa sih yang tidak mengenal buah yang satu ini, Insyaallah kita semua mengetahuinya si Kulit Berduri yang bernama Durian dengan aroma baunya yang khas serta rasanya yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, karena memang bagi penikmat durian yang penting adalah sensasi merasakan rasanya yang bikin ketagihan. Lantas apa uniknya cerita menyantap durian ini saya ceritakan ? Sesuatu yang biasapun dalam pandangan “wisdom” bisa dimaknai yang unik untuk menjadi renungan pembelajaran hidup, karena itulah saya tetap tergerak untuk menceritakannya, terlebih inspirasi ini didapat dari perjalanan wisata rombongan Alumni Fakultas Hukum 83 yang dikordinir oleh Kordinator kami yang Energik Jamilah Yunus, bersama KARITA TRAVEL dengan guide dari Bali Putu Agustina D Putra (Bli Agus) dan Rohidin Eka Mumin (Yudi) pendamping robongan KARITA TRAVEL dari Banjarmasin.

Kali ini tujuan kami adalah Desa Penglipuran yang pernah masuk katagore Desa Terbersih di dunia dan sampai sekarang tetap berada pada tiga besar sebagai desa terbersih tersebut, rombongan kami meluncur dari Denpasar ke Arah Kabupaten Bangli yang jaraknya kurang lebih 45 kilometer dengan berbagai kondisi jalan berkelok dan terkadang sempit, sehingga suasana perjalanan terasa unik terlebih dari celotehan para sahabat (dangsanak) yang sudah membayangkan akan sampai di tempat Makan Durian, karena sebelumnya guide sudah memberitahu sekarang pada Musim Durian dan Banyak yang jual durian di rumah penduduk desa penglipuran tersebut.

Dalam perjalanan kurang lebih satu setengah jam, rombongan kamipun telah sampai, dan benar bagi sahabat yang pertama kali mengunjungi Desa ini, memang terlihat unik dan sangat bersih, terdapat bangunan khas bali yang berjejer dikiri kanan jalan yang tidak lain adalah rumah penduduk setempat. Menurut beberapa sumber deretan bangunan dan atau rumah tersebut adalah bagian dari konsep Tri Mandala, yaitu Utama Mandala, Madya Mandala dan Nista Mandala, pada bagian utara terdapat pura sebagai bagian Utama Mandala, di bagian tengah pemukiman penduduk sebagai Madya Mandala dan makam di Nista Mandala pada bagian sebelah selatan. Konon keunikan desa Penglipuran ini tercipta dari hadian Raja bangli kepada masyarakatnya yang ikut bertempur melawan kerajaan Gianyar dimasa lalu.

Cerita desa ini tentu terdengar seperti dongeng bagi kami yang sambil berjalan menelusuri desa tersebut karena mata sebagian besar kami benar benar tertuju pada tumpukan Buah Durian, Jeruk dan Salak yang dijual dirumah penduduk setempat tersebut, seperti yang jadi niatan dan ajakan guide kita berbagi rejeki di tempat ini dengan membeli dan menyantap buah tersebut. Saat mata berkeliaran melirik dari tumpukan buah durian tersebut itulah saya bersama isteri sengaja memisahkan diri dari rombongan untuk melihat dan menuju satu rumah yang menjual berbagai buah tersebut.

“Kita ambil yang kecil ya mah” kata saya pada isteri dan langsung disetujui dan langsung minta kupaskan, setelah itu kamipun menyantapnya dengan rasa nikmat yang khas durian “Bali” sehingga dalam waktu singkat tentu habis. Kamipun saling menatap dengan tatapan yang bisa dimengerti maknanya untuk sama-sama merasa perlu nambah, karena sebiji kecil ini belum merasa puas, terlebih kami adalah penggemar durian. Keheningan pun terjadi di tikar terhampat tempat kami duduk, namun kemudian disadari dengan sesadar-sadarnya harus berhenti menambah, kenapa ya ?

Seminggu sebelum ke Bali ini saya diajak oleh Sahabat Mawadan 87 di Jakarta dalam rangkaian kegiatan menghadiri Pengukuhan Guru Besar Tjipto Sumadi dan oleh sahabat di Jakarta dibawa ke PIK 2 makan malam dan setelah itu diajak ke tempat makan durian sepuasnya (all you can eat duren), walapun berusaha untuk menahan diri, namun karena rame-rame sayapun larut menyantap yang jumlahnya lumayan banyak. Ternyata secara subjektif (pengalaman subjektif yang tidak bisa digeneralisasi) setelah pulang dari jakarta kepala saya terasa pusing dan ternyata setelah dibawa ke dokter tekanan darah saya berada pada posisi 195/120, tentu saya dan isteri lumayan kaget atas kondisi ini.

Dari peristewa inilah kemudian saya memaknai  saat menyantap durian desa Penglipuran tersebut, yaitu : (a) bahwa saat kita berkemampuan atau berkelimpahan, ternyata alam memberikan pembatasan, sehingga kita harus mengukur dengan kemampuan diri terhadap hal apapun dikehidupan ini; (b) bahwa saat berada  ditengah-tengah orang banyak atau berada dalam kerumunan sahabat, kita sering lupa diri akan batas kemampuan kita, sehinga orang bijak sering memberi nasihat “menyendiri” ketempat yang tidak ada orang lain akan lebih membawa suasana kepada penyadaran diri. Karena itu tidak heran para nabi dan Kaum Sufi sering bertapa kegua atau tempat sepi saat menerima atau mendapatkan wahyu atau instuisi; (c) bahwa konsep “halalan thayyiban” menjadi “hukum” bagi diri saya, karena makanan yang halal  artinya tidak dilarang oleh syariat agama, ternyata mesti diikuti oleh “hukum” thayyiban” yaitu sesuatu yang baik yang tidak membahayakan tubuh dan fikiran kita. Artinya durian tersebut adalah halal bagi saya namun tidak thayyib bagi saya.

Sahabat ! cerita menyantap durian di Desa penglipuran ini menjadi pembelajaran yang baik bagi saya, karena Allah itu maha baik telah memberikan perangkat kesadaran untuk mengkur kondisi fisik, emosi dan spritual kita, agar kita bisa selalu mengambil hikmah pada setiap pengalaman kehidupan, karena kita sesungguhnya makhluk spritual. (Bersambung)

Salam secangkir kopi seribu inspirasi.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini