KAKU ITU ADALAH BEKU
Oleh : Syaifudin
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, secara populer kata beku sering disebutkan saat kita memperhatikan korelasi antara benda cair dengan benda padat, seperti air yang wujudnya sebagai benda cair ternyata dalam kondisi cuaca atau udara dingin 0 decarajat celsius dia kan berubah menjadi padat yang kita sebut “es”, dan pada saat dipanaskan sampai 100 derajat celsius, maka air tersebut justeru mendidih dan menguap. Oleh karena itu wujud air sebagai benda cair sesungguhnya kalau bertemu dengan dingin dan panas, maka ia akan dinamis, baik itu menjadi beku, mencair dan mendidih atau bahkan menguap. Gambaran sederhana ini ingin saya padankan dengan sifat pada sikap atau karakter berfikir seseorang dalam kehidupan.
Pada saat menyifatkannya dengan sikap atau karakter berfikir, maka beku adalah kondisi yang statis atau kaku dalam memandang atau merespon adanya pemikiran baru, perkembangan baru, saran yang berbeda dari apa yang dipandangnya sebagai suatu kebenaran yang selama ini difahami atau bahkan diyakininya. Oleh karena itu masalah utama menghadapi “kebekuan” yang seperti ini adalah bukan terletak pada informasi baru yang akan disampaikan atau didiskusikan, melainkan bagaimana caranya agar orang tersebut “memecah kebekuan” berfkir yang disifatinya tersebut.
Sahabat ! yang sering menjadi renungan saya adalah, mengapa kita mengalami kebekuan dalam berfikir ini ? (1) ada kemungkinan kita memang ahli dibidang yang kita yakini kebenarannya tersebut, sehingga kita tidak memerlukan adanya informasi baru dari orang lain, (2) ada kemungkinan informasi baru tersebut datang dari orang yang kita anggap secara keilmuan dan struktur sosial beada di bawah kita, (3) ada kemungkinan kita sudah merasa puas dengan informasi dan keyakinan yang selama ini kita anut telah berhasil membuat kita sukses, (4) ada kemungkinan kita sudah merasa cukup atau bahkan melimpah pengetahuan yang dimiliki, sehingga tidak mau dan tidak bisa lagi memasukan hal-hal yang baru, (5) ada kemungkinan kita merasa gengsi atau tersaingi pada orang yang memberikan informasi baru tersebut… dan seterusnya yang bisa sahabat butiri apa sesungguhnya alasan kita menjadikan “kekakuan” dalam berfikir tersebut.
Dari berbagai kemungkinan tersebut, saya menarik diri dari memberikan penilaian “baik dan buruknya” sikap berfikir beku ini, akan tetapi pandangan yang “kekeh” atau tidak mau mendengarkan atau merubah cara fikir dengan sesuatu yang baru, tau mendengarkan pendapat rang lain sama seperti es yang selalu membeku, sehingga tidak bisa berkembang dan asyik dengan kebekuannya tersebut. Sementara disisi lain, alam dan kehidupan ini mengalami perubahan atau menjadi keniscayaan alam adanya perubahan tersebut, bahkan ilmu pengetahuan itu sendiri terus berkembang yang dari tingkat perkembangan mengalami tersus penyempurnaan ke arah yang lebih sempurna sampai pada batas kesempurnaan kehidupan dunia.
Kebekuan itulah yang melahirkan sikap kaku dan kaku itu sendiri adalah sesungguhnya kondisi beku, karenanya ibarat sebuah benda, maka benda yang kaku kalau dihempaskan akan mudah pecah dan tidak mental, sementara menghadapi seseorang yang berfikir kaku menjadi sulit untuk diajak diskusi dan tukar fikiran, dan cenderung kurang menghargai pendapat orang lain. Manakala kekakuan itu lahir dari seseorang yang memang pintar dan cerdas, maka masih bisa dimaklumi, walaupn terkesan ada sikap sombong di dalamnya, namun manakala kekakuan itu ada pada diri seseorang yang hanya “merasa pintar dan cerdas”, maka akan nampak kebodohannya.
Sahabat ! kehidupan sering bertutur, seseorang yang sudah mencapai derajat ilmu pengetahuan tinggi justeru semakin merasa banyak kekurangan, karena semakin ia menggali, maka semakin banyak hal yang belum diketahuinya. Oleh karena itu “mencair” atau dinamis atau menerima sesuatu hal yang baru, menghargai pemikiran dan pendapat adalah karakter bijak dalam menjalani kehidupan ini.
Salam secangkir kopi seribu inspirasi
