KEPATUHAN KREATIF (SERI OPINI IBG DHARMA PUTRA)

KEPATUHAN KREATIF

Sedangkan kepatuhan kreatif merupakan kepatuhan cerdas yang berani mengambil risiko tapi tetap pada aturan, menyerempet aturan untuk mengolah setiap konflik secara produktif. Dengan begitu, merupakan kepatuhan yang berpotensi menjadi awal dari perkembangan serta kemajuan. Kepatuhan kreatif akan mendapatkan puncak prestasinya pada pendekatan partisipatif dan tidak terlalu banyak direpotkan perintah yang berubah setiap saat. Kondisi yang kurang partisipatif bisa menjerumuskan kepatuhan ini pada kemungkinan terburuknya, menjadi racun pemantik kekacauan dalam kehidupan bersama.

Oleh : IBG Dharma Putra

SCNEWS.ID-BALI. Kepatuhan sebagai konsepsi yang mempunyai arti mengikuti setiap peraturan dengan sebaik baiknya dan sebenar benarnya, ternyata bisa berbeda penerapannya dalam kehidupan sehari hari. Kepatuhan sebagai pengalaman emperis itulah yang hendak diceritakan dalam tulisan ini.

Sebuah pengalaman bergaul dengan banyak orang, termasuk dengan orang yang selalu berupaya menjalani kehidupan dengan mematuhi aturan. Dan melihat kepatuhan itu dalam kenyataan, yang ternyata bisa berujung akhir yang sangat berbeda. Artinya semua yang diawali dengan kepatuhan, berproses secara patuh, diujung akhirnya ternyata memperlihatkan hasil berbeda.

Ujung akhir yang berbeda itu, jika diobservasi secara retrospektif ke masa lalunya, ternyata bisa memperlihatkan dengan jelas, adanya dua jenis kepatuhan, yang sekilas tampak serupa padahal nyatanya berbeda. Kepatuhan yang satu tampak bodoh dan berhenti pada ritual rutinitas yang sangat membosankan, dilain sisi kepatuhan yang lain berisi keliaran nakal yang lebih sering berujung sukses.

Kedua kepatuhan tersebut sebenar benarnya berbeda karena didasari oleh cara berpikir dan cara bertindak yang tidak sama. Yang pertama didasari oleh rasa takut sedangkan yang kedua didasari oleh kesamaan pandang. Kedua kepatuhan itu saya namanya sebagai kepatuhan dogmatis dan kepatuhan kreatif.

Kepatuhan dogmatis dimiliki oleh pemikiran mencari aman, menghindari konflik secara pengecut dan pada ujungnya akhirnya akan sumber dari kegagalan bahkan bukan tak mungkin berujung kejahatan karena pada dasarnya cara berpikirnya sangat bodoh. Saya meyakini akar dari kejahatan adalah kebodohan bukan kenakalan.

Kepatuhan dogmatis kurang berdampak buruk jika berada dalam sistem dengan tata kerja yang baku, dibawah kontrol sangat ketat dan pembinaan masif yang dilakukan dengan cara teratur dan terus menerus.

Sedangkan kepatuhan kreatif merupakan kepatuhan cerdas yang berani mengambil risiko tapi tetap pada aturan, menyerempet aturan untuk mengolah setiap konflik secara produktif. Dengan begitu, merupakan kepatuhan yang berpotensi menjadi awal dari perkembangan serta kemajuan. Kepatuhan kreatif akan mendapatkan puncak prestasinya pada pendekatan partisipatif dan tidak terlalu banyak direpotkan perintah yang berubah setiap saat. Kondisi yang kurang partisipatif bisa menjerumuskan kepatuhan ini pada kemungkinan terburuknya, menjadi racun pemantik kekacauan dalam kehidupan bersama.

Dalam pengalaman saya, kepatuhanlah yang lebih ditekankan oleh para guru kepada setiap murid yang sedang belajar di semua sekolah. Semakin patuh sang murid, semakin berempati guru gurunya dan semakin baik nilai prestasi si murid dan akhirnya bisa meraih predikat siswa terbaik.

Kemampuan akademik biasanya, agak dikebelakangkan tanpa disadari, karena siswa yang patuh umumnya rajin belajar, perhatian terhadap pelajaran dan pembicaraan guru di kelas sehingga dengan sendirinya menjadi lebih pandai dibandingkan siswa lain. Seolah kepatuhan berakibat nilai akademiknya juga baik dan nilai akademik cuma faktor ikutan dari kepatuhan.

Cara berpikir dan kenyataan diatas menjadi masuk akan dan memang terjadi karena nilai akademik diambil dari nilai ujian yang hanya menilai siswa dari kemampuannya mengingat informasi yang diberikan guru didepan kelas.

Dengan penilaian akademik model begitu, maka prestasi anak yang patuh, selalu berada disekolah dan dengan bersungguh sungguh mendengarkan ocehan gurunya akan lebih menyerap informasi dibandingkan dengan anak yang sibuk melakukan kebandelannya.

Anak bandel akan selalu kalah jika dihadapan pada pola uji yang semacam itu. Dan anak patuhlah yang mendominasi perolehan nilai terbaik disekolah sekolah. Padahal tanpa disadari, model kepatuhan yang dimikinya berbeda. Dan hal seperti inilah yang akan membuatnya berbeda setelah berada di masyarakat.

Mungkin karena kondisi itulah maka saya tidak pernah melihat anak bandel, usil dan nyebelin menjadi siswa terbaik disekolahnya. Saya lebih suka menulis nyebelin dan bukan menyebalkan, karena nyebelin memberi kesan bahwa bandel pada anak adalah kecerdasan yang sangat lucu serta menyenangkan, bahkan bisa memancing rasa sayang. Bandel pada anak tak layak dikatakan menyebalkan yang punya kesan menimbulkan benci serta antipati.

Karena kepatuhan menjadi syarat penilaian maka akan terjadi lomba patuh, perlombaan untuk semakin mengikuti aturan di semua sekolah. Dan jika tidak diawasi dengan sangat jeli berbau personal maka kepatuhan dogmatis tak akan terlihat berbeda dengan kepatuhan kreatif.

Tetapi melalui sentuhan kepedulian disertai kasih sayang pembinaan maka kedua kepatuhan tersebut akan jelas tampak berbeda. Kepatuhan domestik (dogmatis) akan patuh tanpa bertanya sedangkan kepatuhan kreatif selalu mencari jawab tentang perlunya kepatuhan itu.

Siswa dengan kepatuhan dogmatis, akan terlihat lebih diam tetapi sebenarnya jika diamati dari kedalaman karakternya, anak dengan kepatuhan dogmatis, semakin lama semakin tidak mandiri, semakin merasa paling unggul sendiri, semakin tidak pernah bisa percaya pada kebenaran pendapat teman bahkan pendapatnya sendiri, sebelum ada kata dan simpulan akhir dari sang guru.

Sementara kepatuhan kreatif akan tampak berbicara, berargumentasi, melawan pendapat teman temannya, aktif bertanya pada guru sehingga kepercayaan dirinya tampak mendominasi kehidupan bersamanya. Kepatuhan kreatif terlihat bandel tapi tetap sopan, tidak terlihat patuh seperti halnya kepatuhan dogmatis.

Lomba kepatuhan bahkan bisa melewati garis normal perlombaan karena menjadi patuh bukan pada ajarannya tapi lebih pada sosok gurunya dan bisa diduga kepatuhan dogmatis yang akan memenangkan perlombaan. Mereka menang karena tampak diam dan lebih bisa mengambil hati guru, membuat guru senang, membuat anak istri dan seluruh keluarga gurunya senang.

Jika sudah seperti itu maka cara penilaian semacam itu, akan berpotensi menghasilkan para penjilat yang hanya ingin nikmat dalam situasi aman dan tidak akan mempunyai nyali untuk berani bertindak dan tentunya juga miskin terobosan kreatif dalam kegiatannya serta gagap bertindak jika tertekan di masa sulit.

Kepatuhan dogmatis hanya bisa ditangkal dengan kejelian cerdas yang membedakan kenakalan dan kejahatan. Pada umumnya anak yang bodohlah yang punya kepatuhan dogmatis, bodoh karena kurang diajar atau kurang ajar dan kurang ajar itu sumber dari kejahatan.

Sedangkan kepatuhan kreatif dimiliki oleh anak cerdas yang karena cerdas mempunyai kecendrungan ingin tahu, bertanya dan mencoba sehingga tampak nakal dan memusingkan kepala. Jika kurang sabar membuat kita kehilangan empati kepadanya dan semakin menjadi jadilah ulahnya.

Salah menilai kepatuhan dan memberi nilai terbaik pada kepatuhan dogmatis berpotensi menghancurkan masa depan anak anak secara keseluruhan dan tentunya berpotensi menghancurkan bangsa ini dengan terpilihnya pejabat yang bukan petarung yang pemberani tetapi pejabat yang hanya mau enaknya saja.

Pengalaman mengamati kepatuhan, melihat prosesnya dan merasakan hasil akhirnya, juga memberikan optimisme karena ternyata kepatuhan dogmatis dapat diubah menjadi kepatuhan kreatif dan sedikit pesimisme karena ternyata kepatuhan kreatif bisa berubah menjadi ketidak patuhan dan menjelma menjadi seorang pembuat keributan.

Dan pengalaman emperis juga menunjukkan bahwa optimisme potensial terjadi bersamaan dengan tercegahnya pesimisme diatas, karena adanya kepedulian orang tua, guru dan semua masyarakat. Kepedulian membuat semua anak memiliki kepatuhan kreatif.

Kepedulian kepada anak adalah hadiah bagi dunia karena prosesnya mesra bahagia yang tak ternilai dan tak mungkin terbeli karena tidak digantungi label harga dengan akhir yang sejahtera. Bahagia melihat sorot mata polos anak anak bandel, usil dan nyebelin yang segera menjadi pemimpin harapa bangsa untuk meraih cita, adil makmur berdasarkan Panca Sila.

Akhirnya ada lintasan potongan kalimat persis berbunyi seperti yang tertulis dibawah ini,

Patuhku pancarkan inspirasi
Tentang gunungan hati
Tempat mengolah siksa dan caci
Kerendahannya timbulkan peduli
Ketinghiannya lahirlah benci
Dan lerengnya adalah polarisasi
Kehidupan ini

Bali Barat
22102021

Terbaru

spot_img

Related Stories

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini