KOMUNIKASI TAK LENGKAP
“Dikatagorikan sebagai komunikasi kurang lengkap karena pada umumnya, generasi sebelumnya, terlalu asyik dalam memberi kebanggaan kepada anak cucunya, sehingga alfa untuk bercerita tentang kesalahan di masa lalu yang pernah dibuatnya dan lupa memesankan agar segala salah itu wajib dihindari untuk tidak terulang kembali”.
Oleh : IBG Dharma Putra
SCNEWS.ID-Banjarmasin. Berhenti menulis dan menggunakannya untuk merenung, mungkin mencerahkan tetapi tidak bermanfaat karena kecerahan itu menghilang dalam keterbatasan ingatan manusia. Cerah yang ada tidak terabadikan serta hilang oleh kepikunan. Perenungan, seberapa dangkalpun hanya bisa abadi jika dituliskan.
Pencerahan yang menjadi abadi dan tak lagi digerus waktu maupun kepikunan manusia, akan semakin berguna jika tidak hanya memenuhi musium pribadi semata tetapi juga tersajikan dalam bacaan yang mudah dicerna, dipahami dan menjadi inspirasi bagi sesama manusia.
Untuk itulah diperlukan gaya tulisan yang tepat, tidak hanya memuaskan keegoisan rasa penulisnya saja tetapi diisi juga dengan berbagai ekspresi serta emphaty sehingga bisa bahkan enak dibaca dan mudah dipahami oleh orang lain. Menulis adalah berkomunikasi.
Kali ini, marilah mengabadikan renungan dan sekaligus membuatnya sederhana agar mau dibaca serta mudah dicerna tentang masa lalu yang seharusnya dipersembahkan untuk sebuah masa depan. Tentang potensi evolusi antar generasi, yang tidak berjalan sempurna sebagai akibat dari kurang lengkapnya komunikasi antar generasi. Sebuah ketidak lengkapan komunikasi antar generasi yang berakibat banyak waktu terbuang berulang untuk mencari pengalaman yang sebenarnya sudah dimiliki.
Dikatagorikan sebagai komunikasi kurang lengkap karena pada umumnya, generasi sebelumnya, terlalu asyik dalam memberi kebanggaan kepada anak cucunya, sehingga alfa untuk bercerita tentang kesalahan di masa lalu yang pernah dibuatnya dan lupa memesankan agar segala salah itu wajib dihindari untuk tidak terulang kembali.
Komunikasi yang kurang paripurna itu, menjadi awal kesalahan kolektif kemanusiaan. Sebuah kesalahan yang membuat generasi penerus terperangkap dan terlena dalam meraih keinginan dengan cara yang serba mudah dan cendrung tidak tahu cara cerdas menyikapi kehidupan terutama jika kehidupannya sedang memperlihatkan wajah yang tidak ramah kepadanya.
Keinginan untuk hidup enak dengan cara serba mudah, berpotensi membuat generasi penerus menjadi tidak tahu sekaligus tidak mau tahu, bahwa kehidupan pada hakekatnya bersifat up and down serta tidak selalu bersahabat. Disaat wajah garang kehidupan, muncul dihadapannya, mereka menjadi gamang tanpa solusi, padahal jalan keluar untuk membuat wajah kehidupan menjadi ramah kembali, mutlak untuk dimiliki.
Solusi cerdik dan semangat juang sangat diperlukan untuk mengarungi kehidupan, tetapi kemampuan untuk memaksakan diri untuk bangkit serta menjadikannya sebagai kebiasaan dan kemampuan mengenali situasi terkini serta menyikapinya secara dini dengan menambah literasi itulah yang alfa dari persentuhan generasi sebelumnya kepada generasi penerusnya.
Sebuah kealfaan karena generasi sebelumnya seolah menyembunyikan kegagalan sedangkan generasi penerusnya sungkan bertanya atas nama etika. Sebuah alfa yang mengakibatkan generasi penerus harus mulai belajar dari awal lagi. Belajar mandiri, mencari solusi untuk segala peristiwa yang sudah, sedang dan akan dihadapinya.
Contoh kecil kealfaan persentuhan itu, dapat terlihat dalam peristiwa, belajar berkelompok. Ternyata jika diamati untuk perenungan, cara belajar berkelompok generasi penerus sama dengan cara belajar berkelompok generasi sebelumnya. Sama sama tidak bersungguh sungguh tapi tetap sangat monoton dan amat membosankan, sehingga akan cendrung berubah, menjadi obrolan kecil tentang hal menarik lain dan belajar berkelompok akan terabaikan.
Belajar berkelompok tetap berjalan dulu, bak belajar sendiri yang dilakukan berramai ramai ditempat yang sama. Belajar berkelompok tak berubah dan tetap berjalan seperti itu dari waktu ke waktu, karena generasi sebelumnya tak pernah merenungi cara yang salah ini. Tanpa perenungan tak akan ada pencerahan untuk penyempurnaan. Dan itu berarti tak ada persentuhan perbaikan diri dari generasi sebelumnya kepada generasi berikutnya.
Belajar kelompok adalah sebuah kolaborasi sehingga semua unsurnya harus ada padanya dan tak satu unsur kolaboratifpun yang boleh absen pada saat belajar berkelompok berlangsung. Dan perenungan itu tak pernah terjadi karena seolah tak penting untuk perbaikan sebuah era.
Itu hanya sebuah contoh kecil, yang membuat tidak bermanfaatnya generasi sebelumnya bagi generasi berikutnya. Selalu terjadi peristiwa kehilangan pengalaman masa lalu karena tiadanya penulisan perenungan dengan cara yang enak dibaca. Karena komunikasi yang tidak berhasil guna serta sekaligus tidak berdaya guna dan tidak tepat guna.
Banyak lagi yang bisa digetuk tularkan kepada generasi penerus untuk kebaikan kehidupan manusia, jangan ada lagi toleransi bagi waktu dan pengalaman yang tersia sia.
Banjarmasin
4 Maret 2022
