KOPI BAHAGIA
“Ternyata biasa itu adalah keseharian sangat istimewa dan jika dinikmati akan menjadi amat istimewa. Sebuah istimewa yang benar benar istimewa karena biasa dan menjadi rendah hati serta tidak meminta untuk diistimewakan”.
Oleh : IBG Dharma Putra
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Setiap mengingat kopi, saya akan ingat pada kebun kopi milik kakek dan ingat juga pada kebiasaan ngopi ayah dengan frekuensi yang luar biasa.
Ayah sangat sering ngopi karena selalu ikut ngopi jika ada tamu datang ke rumah, dan tamu yang datang ke rumah dalam sehari, tak akan pernah kurang dari sepuluh kali.
Artinya, ayah akan ngopi setidaknya sepuluh kali dalam seharinya. Sehingga menjadi amat wajar jika ayah jarang menghabiskan kopi di cangkirnya.
Dan kebiasaan ayah, menyisakan kopi di cangkirnya itu, sudah merupakan rahasia umum dikalangan anak anaknya. Dan kopi sisa di cangkir ayah akan selalu menjadi rebutan.
Perjuangan untuk memenangkan perburuan kopi sisa di cangkir ayah, akan segera dimulai setelah kepulangan tamu. Siapa yang paling cepat dan paling bersiaga maka dialah yang akan dapat menikmati kopi sisa di cangkir ayah.
Kopi sisa di cangkir ayah adalah kopi paling nikmat yang pernah saya dan adik adik saya rasakan sehingga sering menjadi nostalgia bagi keluarga besar kami, sampai saat ini.
Cerita tentang kopi sisa di cangkir ayah, tentunya ikut didengarkan oleh cucu cucu generasi berikutnya. Dan pola didik demokratis membuat mereka tak jarang ikut nyeletuk.
Celetukan anak dan ponakan, yang bercuriga bahwa ayah ibunya, pernah salah meminum kopi sisa, sering terdengar. Karena terburu buru, yang terminum adalah kopi sisa di cangkir tamu dan bukan kopi sisa di cangkir kakeknya.
Cucu lain akan ikut nyeletuk, bahwa walaupun salah dan terminum kopi sisa di cangkir tamu, tetap terminum kopi sisa manusia dan bukan sisa hewan.
Celetukan untuk bahan guyon semata, karena mereka bukan penyuka kopi serius yang bisa merasakan nikmatnya kopi karena telah mengalami fermentasi di perut kucing hutan yang dinamakan kopi luwak.
Merekapun tak tahu bahwa penyuka kopi hasil fermentasi, sedang mencoba mengganti luwak sebagai fermentator kopi dengan gajah. Kopi hasilnya dikenal dengan kopi gajah.
Kopi gajah dan kopi luwak, didapatkan dengan cara yang sama, yaitu menunggu kopi dipilih dan dimakan oleh kedua binatang dan di perut binatang akan diproses tapi tetap tak tercerna sehingga tetap utuh dan bisa ditemukan pada faeces binatang itu
Tapi jangan coba coba memberi informasi serius tentang fermentasi kopi kepada ponakan bungsu saya. Dia cukup bandel untuk menjadikannya sebagai bahan guyonan.
Seperti hari ini, si usil bandel, membual dan menyuguhkan kopi dengan promosi sebagai kopi hasil temuannya. Dan memohon agar sepupunya memberi penilaian terhadap aroma kopi temuanya itu.
Menurutnya kopi yang disuguhkannya itu merupakan kopi dengan proses fermentasi paling sempurna, sehingga mungkin saja akan terasa paling nikmat jika dibandingkan dengan kopi jenis lain.
Semuanya menikmati dengan gembira, sajian kopi yang bukan kopi luwak yang sudah kuno, bukan juga kopi gajah yang sedang populer, tetapi kopi kucing, begitu dia memberi nama untuk kopi temuannya.
Bagi saya, rasa kopi suguhannya itu sama saja dengan kopi biasa. Dan tidak pernah saya lihat dia melakukan kegiatan penelitian masa liburan, selain tidur.
Dan saya semakin yakin akan kebohongannya karena saya tak pernah melihat kopi lain, selain kopi simpanan neneknya di dapur kami. Kopi yang sebenarya disuguhkannya adalah kopi simpanan nenek.
Sepupunya dengan antusias mencicipi rasa kopi sambil bertanya, tentang cara membuat kopi kucing dan dijawabnya bahwa proses membuatnya, sama seperti proses pembuatan kopi luwak ataupun kopi gajah.
Biji kopi dimakankan ke pada kucing, untuk bisa difermentasi di perut kucing dan hasilnya dipanen didalam faeces kucing. Namun karena kucing bukan pengkonsumsi kopi alamiah, maka untuk bisa di makan kucing, kopi harus digerus halus sebelumnya.
Nantinya, gerusan kopi itulah, yang dicari dan dipisahkan dari faeces kucing. Lalu dijemur dan setelah kering sudah bisa diseduh serta disuguhkan ke sepupunya.
Mendengar cara pembuatan kopi kucing, cucu termuda tapi paling cerdas, langsung muntah sambil mengumpat sepupunya, “ berarti saat ini, kita bukan minum kopi, tetapi meminum seduhan tahi kucing “
Begitulah kopi, banyak penggemarnya,dipakai sebagai filosopi kehidupan, punya nilai sosial, untuk silaturahmi dan dipakai sebagai simbol eksistensi karena cukup bergengsi dengan harga mahal.
Kopi pada posisinya yang sangat serius dengan martabatnya yang tinggi, menjadi netral dan normal dalam guyonan cucu cucu ayah saya. Yang sangat seriuspun ternyata punya sisi yang dipenuhi humor.
Dan tempelan santai pada keseriusannya, menjelmakan kopi menjadi biasa biasa saja. Seperti kehidupan yang tak melulu istimewa tapi juga berisi kekonyolan. Keseimbangan alamiah untuk menjadi normal.
Selayaknya kehidupan dibuat biasa biasa saja seperti kopi dari kebun kakek, yang dipanen biasa, diproses biasa, diseduh biasa, dan disuguhkan biasa. Yang biasa itulah yang lebih dekat kepada Tuhan.
Tuhan saya simpulkan lebih menyenangi orang biasa karena pada kenyataannya terlihat dan terbukti, lebih banyak diciptakan manusia biasa. Yang tidak biasa jumlahnya sangat sedikit.
Secara akal sehat, ada kemungkinan yang cukup besar, untuk mendapat rahmat serta nikmatNya, dapat dicoba untuk hidup biasa biasa saja, jangan berlebihan, tidak mudah kaget, tidak mudah heran dan tidak mentang mentang
Hal lain yang terlintas, semua yang biasa, akan berproses menjadi luar biasa tergantung cara pandang dan cara berpikir kita. Seperti kopi biasa yang bisa beraroma sangat enak, senikmatnya kopi sisa di cangkir ayah.
Nkmatnya terasakan sampai kini karena rasa sayang ke ayah dan bukan karena fermentasi di perut luwak atau gajah serta sangat jauh dari khayalan bandel kopi kucing.
Dan nikmatnya rasa kopi, mulai dari kopi biasa, kopi luwak, kopi gajah sampai kopi kucing, membawa pada kesadaran bahwa bahagia itu mudah, biasa dan sederhana saja. Dan bahagia tergantung pada cara pandang kita saja.
Ternyata biasa itu adalah keseharian sangat istimewa dan jika dinikmati akan menjadi amat istimewa. Sebuah istimewa yang benar benar istimewa karena biasa dan menjadi rendah hati serta tidak meminta untuk diistimewakan.
Bukankah istimewa yang rendah hati, yang tak meminta untuk diistimewakan itulah bahagia yang paling hakiki
Kota Kelahiran
12062021
