MAKNA BERBASAH-BASAH NAIK KAPAL CEPAT
“…indahnya pemandangan alam ini menusuk naluri keindahan kita sebagai “hambaNya” dan disaat saat yang seperti ini saya teringat peringatanNya “nikmat mana lagi yang kamu dustakan” karena seluruh alam ini dapat kamu nikmati atas anugerahNya”.
Oleh : Syaifudin
SCNEWS.ID-DENPASAR. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, cerita saya mulai dengan menanyakan kepada sahabat, apakah sahabat mau berbasah-basah saat bepergian ke suatu tempat ? saya yakin jawabannya bisa tidak dan bisa pula ya. Bagi yang menjawab “tidak” kemungkinan besar bepergiannya dengan tujuan urusan yang resmi memakai pakaian formal, sedangkan yang menjawab “ya” bisa dipastikan bepergiannya untuk urusan yang tidak formal seperti berwisata dengan pakaian santai. Rombongan tour wisata Kami Alumni Fakultas Hukum ULM 83 yang diorganaize oleh Karita Travel bersedia berbasah-basah karena memang sedang berwisata, namun menariknya berbasah-basahnya dengan suatu sebab diluar dugaan saya sebelumnya.
Sesuai Ittenary hari ke-tiga disebutkan pagi jam 07.00 WITA kami diminta tepat waktu untuk berangkat menuju Pelabuhan Sanur untuk mendapatkan Kapal Cepat dengan ukuran yang besar agar relatif lebih sedikit guncangan apabila ada omabk yang agak besar, tentu bayangan saya sebelumnya kami akan naik Kapal via Pelabuhan Sanur yang bangunannya sebagaimana layaknya sebuah Pelabuhan.
Sesampainya kami di Pantai sanur dan turun dari Bus, kamipun dipandu untuk mengikuti guide lokal … menuju Pelabuhan naik Kapal tersebut, setelah berjalan kurang lebih 10 menit, saya tidak melihat adanya Pelabuhan dan anehnya lagi Kapal Cepat yang dimaksud ternyata disandarkan dibibir pantai yang ombaknya datang silih berganti. Saya kembali berfikir apakah disediakan alat jembatan apung untuk mencapai kapal tersebut, oh ternyata tidak, setelah disuruh melepas sandal dan ditaruh pada tempat yang disediakan, kami kami justeru diminta naik Kapal secara bergiliran dengan terjun ke pantai yang berombak tersebut. Dari sinilah muncul “keseruan” berbasah ria dengan luasan basah tergantung besar kecilnya ombak dan tinggi rendahnya tubuh wisatawan.
Sahabat, bagaimana kondisi basahnya ? ada yang basah sampai lutut, ada yang basah sampai paha dan ada yang basah hampir mendekati pinggang, ada lagi uniknya tentu karena di pantai basahnya bercampur dengan pasir dan kapalnya juga kondisi bergoyang, maka untuk naiknya kami benar-benar mesti dibantu satu persatu agar tidak terpleset. Setelah semua penumpang naik Kapal Cepat ini berlayar menuju Pelabuhan di Nusa penida, dan hati saya bertanya lagi apakah juga pelabuhan yang dimaksud adalah pelabuhan bibir pantai lagi ? ternyata sesampai di Nusa Penida kami diturunkan di pelabuhan yang benar-benar pelabuhan yang mengantarkan kami ke daratan tanpa perlu berbasah basah lagi.
Hasil berbasah-basah ini ternyata terbayarkan, setelah sampai ke daratan, kamipun diangkut oleh Mobil Penumpang yang biasa disebut “mobil sejuta umat”, dan kurang lebih 1,5 sd 2 jam perjalanan kami bisa menikmati pemandangan yang luar biasa, baik itu sa’at dipantai ANGLE BILLABONG, BROKEN BEACH dan KLINGKING BEACH yang semuanya mempunyai keunikan alam yang diciptakan oleh Yang Maha Indah, sehingga indahnya pemandangan alam ini menusuk naluri keindahan kita sebagai “hambaNya” dan disaat saat yang seperti ini saya teringat peringatanNya “nikmat mana lagi yang kamu dustakan” karena seluruh alam ini dapat kamu nikmati atas anugerahNya.
Sahabat ! dari berbasah-basah ini saya bisa menarik hikmah, partama untuk mendapatkan dan menikmati keindahan dalam hidup atau dalam terminologi lain yang biasa kita sebut “kesuksesan” dalam hal atau bidang apapun, diperlukan perjuangan dan bahkan “pengorbanan” atau dalam istilah lain disebut ikhtiar atau usaha, kedua setelah kita mendapatkan atau menemukan hasilnya, kita harus mengembalikan kepadaNya akan anugerah itu.
Salam secangkir kopi seribu inspirasi
