MANIFESTO KEMERDEKAAN (SERI OPINI IBG DHARMA PUTRA)

MANIFESTO KEMERDEKAAN
Oleh : IBG Dharma Putra

“…berteriak, di depan lubang telinga, setiap anak bangsa, bahwa mereka bukan korban, tetapi pemilik sah negeri ini. Jangan hanya berharap bantuan dan belas kasihan orang lain, negara lain, tapi wajib membangunkan harga diri, sekaligus harga diri bangsa”.

SCNEWS.ID-BANJARMASIN Di bulan kemerdekaan ini, ada keinginan kuat untuk membuat MANIFESTO KEMERDEKAAN, untuk mengingatkan semua anak bangsa akan arti merdeka sebagai takdir sekaligus nasib, yang telah di proklamirkan pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan menempatkan Indonesia pada tempat yang terhormat dalam pergaulan dunia. Merdeka bukan hanya bebas penjajahan tetapi mandiri, tak bergantung pada siapapun, baik secara fisik, sosial, moral, dan spiritual.

Pembukaan UUD 1945, membawa pesan bahwa merdeka merupakan campuran harmonis antar nasib dan takdir, Merdeka mempunyai sisi takdir karena merdeka adalah takdir setiap manusia yang dilahirkan ke dunia, berarti merupakan hak semua bangsa, tetapi punya sisi nasib, karena meraihnya, memerlukan perjuangan, keberanian dan pantang mundur.

Bumi Merdeka Nusantara, Indonesia tercinta, telah merdeka dan harus tetap merdeka, sekali merdeka tetap merdeka, dengan tidak terjebak pada nostalgia heroisme proklamasi semata, tetapi wajib mengubah strategi, taktik ataupun kiat, disesuaikan dengan berubahnya tuntutan zaman. Besok bukanlah kemarin, masa depan tak datang bagi anak bangsa cengeng serta masih bergandeng tangan, tidak mampu lepas dari bayang cerita masa lalunya

Merdeka merupakan awal kemajuan bersama dalam bentuk keadilan dan kemakmuran, yang tercapai jika bersatu serta berdaulat. Bangsa yang maju adalah bangsa yang bangga pada keberhasilan hari ini, menuju cerahnya masa depan, setelah semua cerita kelam dan kejam perjuangan masa lalunya. Bangsa maju, bukan bangsa terpuruk dan saling sikut, saling hantam serta saling salah menyalahkan atas hilangnya kebanggaan dan kejayaan masa lalunya.

Bangsa yang majulah yang potensial tetap dan selalu merdeka, mengambil inspirasi dari masa lalu dan menerapkannya dengan tepat dimasa kini. Bangsa bermental merdeka, bangsa yang berani melawan ketidakadilan, mencipta solusi, dan bersaing di panggung global. Menciptakan peluang, meraih kemenangan dengan segenap upaya dan akalnya. Bangsa Indonesia bukanlah bangsa bermental dijajah, yang terdiam pasrah dipinggirkan, hanya menunggu Ratu Adil, dalam bisu nan gagu, memuja kesabaran tanpa daya, dan kehilangan keberanian untuk berkata tidak.

Kemajuan bangsa potensial terjadi jika mampu menyatukan warisan nilai luhur, dalam bentuk niat baik, kesabaran, rasa syukur dan selalu berharap rahmatNya dengan sikap kritis, inovasi disertai daya juang, hingga ketergantungan jadi kemandirian, slogan jadi aksi, harapan menjadi prestasi dan omelan nyinyir tak produktif yang berpotensi memecah belah bangsa menjadi tindakan nyata, kritis, apresiatif, mencerahkan.

Setelah teriakan merdeka dan tangan terkepal, menggema dan bergelora, tibalah saatnya bagi jabat tangan erat persahabatan dan kolaborasi global yang setara dan adil. Tunjukkan senyum simpul penuh percaya diri, karena saatnya tiba untuk menjadi pemenang kedamaian semesta. Keunggulan hanya muncul dari karakter, literasi dan kompetensi mumpuni, karena kejarlah serta ingat tangan yang selalu terkepal tidak mungkin dipakai berjabat tangan.

Akhirnya MANIFESTO KEMERDEKAAN berteriak, di depan lubang telinga, setiap anak bangsa, bahwa mereka bukan korban, tetapi pemilik sah negeri ini. Jangan hanya berharap bantuan dan belas kasihan orang lain, negara lain, tapi wajib membangunkan harga diri, sekaligus harga diri bangsa. Berani tampil setara dalam pergaulan global, berkompetisi untuk menyalakan kembali kejayaan Nusantara, negeri tercinta Indonesia.

Banjarmasin
12082025

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini