MASAKAN DAN MAKANAN SAAT BEPERGIAN JAUH
(Robensjah Sjachran)
Pengantar Redaksi :
Tulisan Sahabat Robensjah Sachran ini menarik untuk kembali kita merencanakan perjanlanan ke Mancanegara pasca adaptasi perubahan dari pandemi ke endemi covid 19, berdasarkan pengalaman beliau ini ternyata ada tips untuk mensiasati makanan yang tergolong halal dan penginapan yang lebih hemat. Perjalanan ke Mancanegara relatif terjangkau asalkan direncanakan dengan baik, termasuk soal transportasi udaranya, mari sahabat kita menabung untuk sebuah perjalanan yang berkesan. Selamat membaca tips Sahabat kita yang sudah melanglang buana di Mancanegara ini.
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Apabila kita merencanakan bepergian jauh, misalnya ke Eropa, hingga dua atau tiga minggu, haruslah direncanakan dengan baik akomodasi dan konsumsinya (board and lodging).
Untuk akomodasi mungkin kita bisa berdamai dalam arti melepas penat dan beristirahat sudah cukup di penginapan sederhana, apakah itu namanya losmen, hostel, dormitory (ruang besar dengan banyak ranjang susun), bed n breakfast, pension, homestay (rumah warga tempatan yg beberapa kamar disewakan). Tapi untuk makan harus dipikir matang, karena selain menyangkut selera, harus diperhitungkan biaya yang dikeluarkan, dan yang utama tentang halal tidaknya.
Di Eropa, utamanya negara-negara Skandinavia, Swiss, Inggris, harga makanan di restoran sangat mahal. Nasi goreng atau mie goreng misalnya berharga Rp 150 ribuan, di Oslo atau Stockholm Rp 200 ribuan, di kota wisata seperti Bergen, Interlaken, Zermatt, malah sampai Rp 250 ribuan. Di restoran sana harga makan di tempat dengan takeaway beda. Akan lebih mahal kalau makan di restoran.
Nah….di kota wisata biasanya kami memilih nginap di aparthel, apartemen hotel, yang memiliki beberapa kamar dengan satu dapur lengkap. Di sini kami dapat berhemat, karena tarif nginap per orang jatuhnya lebih murah. Andai tarif aparthel (3 kamar 6 tempat tidur) Rp 1,5 juta…artinya satu orang hanya Rp 250 ribu/malam. Selain itu kami punya dapur yg setiap saat bisa dipakai bersama.
Sarapan di hotel-hotel di Eropa biasanya standar. Buah dan sayur-sayuran segar, pasti ada telur, baik telur matang atau orak-arik, dan roti serta sereal selalu tersedia. Biasanya ada sosis, ham, bacon, tapi sebagian kawan ragu mengambilnya. Jadilah biasanya kami hanya mengambil aneka roti, dioles selai, madu, atau cokelat. Yang terbiasa sarapan nasi, biasanya pukul 11 an sudah mengeluh lapar. Saya lapar nih…tadi belum makan, padahal tadi saya lihat sarapannya si kawan di hotel melahap beberapa potong roti, dua telur mata sapi plus orak-arik, semangkuk sereal ditambah sepiring salad dan sebiji apel…🙄 Kawan kita ini mengartikan “makan” dengan menyantap nasi. Jadi kalau belum makan nasi…ya belum makan 😁
Kalau sudah seminggu sarapan di hotel, biasanya jenuh karena yang dihidangkan dari itu ke itu saja. Nah…bila ada dapur di penginapan, apalagi peralatannya lengkap, mulai kompor listrik 2 sampai 4 mata, microwave oven, kulkas, ketel air, piring, sendok, garpu, gelas, cangkir, tempat cuci piring lengkap dengan sabun dan alat pembersihnya, membuat kami sesuka hati menyiapkan sarapan & makan malam.
Aparthel terletak di blok-blok apartemen. Biasanya di sekitar aparthel ada toko grosir yang menjual aneka makanan, baik yg mentah, siap masak, siap saji, roti, sereal, bumbu-bumbu, bahan dapur, bahkan kini tidak jarang ditemukan mie instan Indomie, Pop Mie, termasuk kecap, saos tomat, saus cabe kesukaan umumnya orang kita. Sesudah check in di aparthel biasanya kami langsung ke toko grosir seperti LIDL (supermarket Jerman yg bertebaran di daratan Eropa), Migros atau COOP (Swiss), Carrefour dan lainnya. Bisa ditebak, yang utama dibeli pasti beras, telur, minyak goreng atau mentega, garam, bubuk lada, sampai kepada paket makanan siap masak . Saya paling suka beli makanan siap masak Chicken atau Salmon Teriyaki, dan beef curry. Pilihan lain, ikan kaleng (canned fish) seperti tuna, red salmon, sardin, mackerel.
Memasaknya tidak sulit, karena metodenya hanya rebus, goreng, atau panaskan di microwave yg tersedia, gampang kan 😀 Walau ada oven, jarang digunakan karena untuk memanggang harus mengoles bumbu dan mentega dulu.
Oh iya satu info lagi nih, tidak seperti di negara kita, tidak semua hotel di Eropa, bintang 4 atau 5 sekalipun, menyediakan fasilitas pembuat teh & kopi dalam kamar. Jadi saya sudah biasa selalu membawa ketel mini listrik lengkap dengan kopi berikut gula. Magic jar mini juga diperlukan, karena dapur di aparthel tidak tersedia, maklum orang di sana tidak makan nasi. Itulah cara kami bepergian jauh dan lama untuk mengatasi kantong dan perut. BEN
Berikut foto-fotonya :

