MENULIS LEBIH DARI ITU (SERI OPINI IBG DHARMA PUTRA)

MENULIS LEBIH DARI ITU

“Menulislah dan jangan peduli, pada anggapan tentang baik dan buruknya isi tulisan. Patoklah baik serta buruknya itu dalam tanggung jawab yang berarti jika berguna, bahkan hanya bagi satu orang saja, berarti isi tulisannya baik. Akhirnya, pernahkah diketahui tentang menulis diatas awan, mungkin bersama bidadari, disela sela kesibukannya memercikan embun sumber hujan. Dan pernah jugakah diketahui tentang menulis diatas batu, penuh berkeringat, seperti kuli, dengan palu dan paku ditangannya.Tulisan diatas awan, akan terlarut dalam hujan terbawa ke bumi berupa air, dijadikan minuman kalbu para penghuninya, tetapi tidak akan bisa memudarkan tulisan diatas batuan yang justru semakin jelas dalam basuhan air hujan”.

(Oleh : IBG Dharma Putra)

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Diawali oleh cuitan binggung tentang menulis, berbicara dan mendengarkan, yang langsung mendapat jawaban tak ragu seorang sahabat, bahwa menulis tak termasuk keduanya, karena bukan berbicara, bukan pula mendengar tetapi lebih dari itu. Dan cuitan dengan jawabannya itu, membawa berkelana dalam cerita bergaya spontan yang mengalir seadanya.

Pengembaraan imajinatif, memasuki era pesan adi luhung, yang cendrung menjadi dogmatis, tentang hirarki panca indra dan menempatkan mendengarkan jauh diatas berbicara. Di masa kehidupan sederhana dan lugu, karena hanya berbekal dua buah telingga dan sebuah mulut tapi mampu menjelmakan diam bernilai emas. Diduga, sebab diam bukan hanya tidak bicara tapi membuatnya mendengarkan dengan baik.

Dimasa yang dipenuhi kreatifitas saat ini, diam dilakukan dalam perhitungan daya guna, hasil guna dan tepat guna hingga dilakukan dengan menggunakan mulut untuk fungsi kerja yang lain. Dan terjadilah pergeseran nilai emas dari diam, berkonotasi empati serta tenggang rasa, menjadi diam yang beraroma material, sebagai kesempatan mencari keuntungan, berbentuk tidak berhenti makan.

Yang ingin digapai oleh pesan adalah diam tak berbicara dalam upaya mendengarkan tetapi ternyata didapatkannya adalah kerakusan tak berhenti makan. Makannya bisa dimana mana, menu makanannya bisa apa serta siapa saja. Dan itulah, salah satu dampak perkembangan zaman.

Bagaimana dengan menulis, bisakah menulis disetarakan dengan bicara dan dengan begitu membaca berarti mendengarkan.Tidak pernah ditemukan kalimat pasti untuk menulis, seperti halnya membaca yang menjadi perintah causa prima bagi yang meyakininya.

Mungkin cuitan sahabatku yang benar, bahwa menulis bukanlah keduanya tapi lebih dari itu, maksudnya menulis bukan sekedar bicara dan sekaligus bukan sekedar mendengarkan atau entah apa maksudnya. Marilah ditempatkan tersembunyi hingga tetap misteri supaya lebih menginspirasi.

Memposisikan menulis bukan hanya berbicara serta bukan mendengarkan semata, membuat berbicara dan mendengarkan berada di status dan hirarki yang tidak berbeda. Kedua duanya bernilai sama dan maknanya tergantung pada tujuannya. Dan itu bermakna himbauan untuk tidak diam jika saatnya berbicara serta tulikan telingga untuk segala suara yang tak berguna. Sebuah perintah untuk memberi atensi kepada aspirasi dan menggaungkan partisipasi.

Aspirasi umumnya dari si papa dipenuhi derita sedangkan partisipasi untuk berbagi gembira yang sedang bersuka cita. Keduanya berpadu satu dalam harmoni harunya kebahagian yang telah kehilangan kelu. Karena itulah, menulis menjadi sepenuh hati disertai pemihakan pada kebenaran dan bertujuan membuat kisah yang mudah dipahami untuk dijalani, bahkan dapat menginspirasi.

Jika sudah begitu, tulisan akan menjadi ritmis, tertata rapi kata demi kata secara efektif bak sebuah puisi, ringkas tanpa kehilangan makna dengan tetap berisi lemah serta berlipat salah, yang pasti memudar bersama waktu.Waktulah yang akan membuat sebuah tulisan tak keliru karena membumikan sebuah gagasan dalam bentuk tulisan, memerlukan ketepatan prediksi situasi dan ketepatan waktunya.

Menulis lebih dari itu, mungkin juga berarti, tak sekedar membutuhkan kemampuan berbicara dalam bentuk konservasi tetapi membutuhkan lebih dari itu. Sebab menulis wajib mempunyai kemampuan kristalisasi serta komunikasi, agar tulisan menjadi bahan informasi bahkan jadi berita jika disertai investigasi.

Artinya dalam menulis tak cukup hanya bicara tapi juga mendengar bahkan memaksa bicara untuk didengar dalam investigasi. Diperlukan intuisi terasah serta keberanian cerdas untuk mulai menulis. Keberanian membuat tidak ragu untuk menulis, berbicara atau diam membisu, mendengarkan atau menulikan telinggamu.

Keberanian cerdas adalah keberanian disertai kewaspadaan karena ingin menghindari gagal. Sebuah keberanian disertai perhitungan akan adanya empat ribuan nyaris salah, pada tiga ratus salah ringan serta empat puluhan salah sedang, mengawali munculnya satu kesalahan fatal.

Sebuah pesan optimistis, yang berisi harapan supaya tak takut gagal ataupun menulis salah, karena potensi kesalahan, baru muncul pada tulisan kelima ribuan. Dan lima ribuan tulisan adalah anak tangga cukup tinggi untuk meraih mimpi membuat tulisan inspiratif.

Menulislah dan jangan peduli, pada anggapan tentang baik dan buruknya isi tulisan. Patoklah baik serta buruknya itu dalam tanggung jawab yang berarti jika berguna, bahkan hanya bagi satu orang saja, berarti isi tulisannya baik.

Akhirnya, pernahkah diketahui tentang menulis diatas awan, mungkin bersama bidadari, disela sela kesibukannya memercikan embun sumber hujan. Dan pernah jugakah diketahui tentang menulis diatas batu, penuh berkeringat, seperti kuli, dengan palu dan paku ditangannya.

Tulisan diatas awan, akan terlarut dalam hujan terbawa ke bumi berupa air, dijadikan minuman kalbu para penghuninya, tetapi tidak akan bisa memudarkan tulisan diatas batuan yang justru semakin jelas dalam basuhan air hujan.

Dan menulispun sampai disini, tanpa pretensi karena hendak timbulkan arti, secara mandiri, menjadikan inspirasi bagi masing masing diri, bersama percikan air hujan tercampur tulisan awan serta percikan keringat tubuh kekar dari mereka yang sekerasnya membenturkan palu pada batuan.

Itulah kemungkinan konotasi menulis lebih dari itu, karena tumpahkan rasa, merenda asa, tuk menyatukan jiwa di denyutan semesta. Karena menulis menyatunya jiwa dengan raga, hingga tulisan menjadi abadi sebab hakekatnya tidak bisa dikoreksi jika sudah dipublikasi.

Menulis lebih dari itu

Banjarmasin
24082021

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini