MEREDAM BICARA DALAM DIAM
“Kita memang perlu belajar diam dan lalu meredam bicara dalam diam, karena sesungguhnya diam itu lebih sulit dari pada bicara”.
(Oleh : Syaifudin)
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, ada pertanyaan sederhana yang sekilas langsung bisa kita jawab, yaitu enak mana bicara atau diam ?, kalau saya tanyakan hal ini ke kelas “public speaking”, maka umumnya mereka menjawab “enak diam”, alasannya ? “karena yang namanya diam kan tidak perlu berfikir dan berbicara untuk mengemukakan pendapat atau gagasan” yang biasanya bikin kita gugup atau gagap dalam berbicara, jadi “diam” jauh akan lebih mudah tinggal tutup mulut.
Kalau pertanyaan itu kepada saya pribadi, maka saya justeru mengatakan kalau saya ini memang harus bicara, karena profesi akademisi yang mesti mengajar di depan kelas, presentasi karya ilmiah, didaulat menjadi moderator, cuap-cuap monolog di secangkir kopi seribu inspirasi dan narsum sekaligus host di SKSI Talk, yang semuanya itu mengharuskan saya bicara. Bahkan bicara bagi saya adalah pekerjaaan rutin, sehingga wajar kalau di cap sebagai “tukang bicara”.
Pada sisi lain ada suatu kondisi yang ternyata “diam” itu lebih susah dari pada bicara, masih ingat cerita “kakek” saya tentang Nabi Musa saat mau “berguru” dengan Nabi Khidir, yang disyaratkan sepanjang perjalanan bersama, Nabi Musa dilarang bicara dan diharuskan diam saja. Ternyata apa yang terjadi Nabi Musa tidak bisa menahan untuk diam, saat melihat Nabi Khidir merusak Kapal Nelayan dan Membunuh seorang anak.
Begitulah dalam kehidupan kita bertutur, untuk belajar diam itu ternyata tidak mudah saat kita melihat keadaan atau peristewa atau kondisi yang bertentangan atau berbeda dengan pengetahuan dan pemahaman kita. Perhatikanlah saat kita melihat postingan dan atau brodcast dimedia sosial, media online dan WA Group yang isinya kita tahu bahwa itu “kurang tepat” atau “tidak sesuai fakta” atau “hoax”, sehingga ada dorongan besar dalam diri kita untuk bicara dengan menuliskannya, tetapi kemudian kita fikirkan lagi untuk apa kita menyampaikan itu ? Bukankah suatu kali pernah diberitahu kepada pihak yang menyebarkan itu, mereka meyakininya sebagai suatu kebenaran tanpa mau meralat atau menghapusnya.
Begitu juga saat saya menyaksikan ada salah seorang “sahabat” yang di persepsikan sebagai seorang yang “jahat” dengan data-data video dipotong-potong kemudian diedit yang kemudian menimbulan persepsi kurang baik, awalnya saya mampu diam karena saya fikir hal tersebut adalah masalah politik, namun saat isteri terus menerus menyuruh untuk menyampaikan kebenarannya, akhirnya sayapun tidak bisa diam dan menyampaikan bahwa hal tersebut “tidak benar”, namun saya dianggap tidak objektif lantaran satu aliran “politik” dengan orang tersebut.
Dari kondisi tersebut, ternyata untuk diam itu sangat sulit dan memerlukan “pengelolaan” emosi, hati dan fikiran serta qalbu, untuk memberikan pertimbangan apakah kita sebaiknya diam atau bicara. Dari sinilah kemudian muncul insprasi meredam bicara dalam diam, yaitu sebagai konsep untuk tetap bicara walapun dlam diam.
Sahabat ! meredam bicara dalam diam adalah suatu kondisi untuk menyalurkan energi bicara itu dalam bentuk “self talk” yang menjadikan diri ini menjadi dua bagian, yaitu bagian aku yang diam dan bagian aku yang bicara, tapi aku yang bicara itu bicaranya kepada aku yang diam, sehingga wujudnya adalah dialog dengan diri sendiri.
Hasilnya kita tidak melakukan reaksi yang spontan atau sepadan saat mengetahui adanya ketidakbenaran atau kekurangsetujuan, melainkan memendam dalam self talk yang kemudian setelah sisi emosional bisa dikendalikan, maka akan terbuka berbagai pilihan untuk menunjukan ketidaksepandapatan kita tersebut.
Disinilah kemudian lahir karya “puisi sindiran”, tulisan inspiratif atau bahkan menarasikan dengan bahasa bijak, agar terbungkus pada saling menghargai pada setiap perbedaan pandangan atau pendapat dalam memberikan respon.
Meredam diam dalam perbedaan pendapat yang bersifat “ilmu” akan lebih terlihat lagi urgensinya, karena saat kita meredam diam berarti kita mencoba menelusuri metode dan cara berfikir serta sumber dari pendapat tersebut, sehingga bisa saja yang awalnya kita mengatakan kurang tepat, ternyata setelah ditelusuri dan diteliti justeru “literasi” kita yang malah kurang dan kebenaran ada pada pendapat yang awalnya kita katakan kurang tepat tersebut.
Meredam diam dalam ilmu ini, akan terlebih dan lebih lagi kalau bersandar pada sumber ilmu yang disebut “intuisi”, karena “maqom” orang yang lebih mulia dan tinggi secara qalbu dapat menembus hal-hal yang masih gaib yang belum bisa dicerna oleh kita orang biasa. Oleh karena itu dalam menyikapi “kalam” seperti ini saya biasanya lebih banyak meredam diam, dengan bergumam “maqom” saya belum sampai untuk mencerna hal tersebut, sehingga tidak mengambil sikap “bersuara” apalagi lalu kemudian bereaksi untuk menyalahkan”.
Sahabat ! kita memang perlu belajar diam dan lalu meredam bicara dalam diam, karena sesungguhnya diam itu lebih sulit dari pada bicara.
Salam secangkir kopi seribu inspirasi.
