Mitos Kesetiaan Cinta di Great Wall
“Pertama, pertahanan merupakan kunci keamanan utama bagi sebuah negara. Meskipun bangunan itu akan tertelan zaman, tetapi dapat menjadi bukti bahwa kecanggihan pertahanan pada eranya, dapat memberikan perlindungan terhadap bangsa dan negara. Kedua, untuk menjadi negara yang hebat diperlukan keseimbangan tiga dimensi pertumbuhan ekonomi, ketahanan dan pertahanan nasional, dan sistem pemerintahan yang demokratis”.
Oleh Tjipto Sumadi*
SCNEWS.ID-JAKARTA. Diilustrasikan ada seorang perkasa sakti mandraguna melemparkan jangkar yang menancap di ketinggian tembok raksasa. Tembok kokoh yang dibangun oleh beberapa dinasti Tiongkok guna membatasi serbuan bangsa Mongol ini pun sejenak kemudian telah dikuasainya. Adegan itu merupakan cuplikan dari film animasi yang kemudian menjadi film yang diperani oleh tokoh manusia, film ini berjudul Mulan. Ada ending yang berbeda antara film animasi dengan yang dibintangi langsung oleh movie star. Dalam film animasi digambarkan Shang berjodoh dengan Mulan, sementara pada film yang dibintangi oleh movie star, Mulan tidak berjodoh dengan Shang. Shang dijodohkan menikah bersama putri penguasa Mongolia. Pernikahan ini dikenal dengan pernikahan politik, agar perang dapat diakhiri.

Sepertinya, remaja di negara tirai bambu ini lebih menyukai kisah Mulan versi animasi daripada yang diperankan oleh manusia. Sebab, dari cerita rakyat yang beredar bahwa tembok raksasa (great wall) itu dibangun untuk menyatukan rasa cinta, bukan sebaliknya. Itu dibuktikan dengan ribuan gembok yang dipasangkan oleh pasangan muda-mudi di sepanjang tembok raksasa ini. Gembok yang dikunci lalu anak kuncinya dilemparkan ke jurang, merupakan lambang cinta kasih Shang bersama Mulan.

Jika, pengunjung tiba di pelataran Tembok Raksasa yang berada di Juyongguan, Beijing utara, maka akan langsung melihat billboard yang bertuliskan sejarah tembok ini. Tulisan itu disajikan dalam dua bahasa, Mandarin dan Inggris. Secara lengkap, jika tulisan itu dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia, berbunyi; Sebagai Tembok Raksasa kuno yang terkenal di Beijing utara, di Juyongguan (Jalan Juyong) adalah situs yang memiliki prioritas perlindungan nasional. Tembok ini diproklamasikan sejak tahun 1961. Bagian yang terpenting dari Tembok Raksasa ini adalah, dengan dimasukkannya dalam Daftar Warisan Dunia pada tahun 1987. Tembok ini terletak di Gunung Jundu, yang merupakan bagian akhir dari Pegunungan Taihang. Lembah Juyongguan ini, memiliki posisi yang strategis dan sulit dijangkau oleh pihak lawan kala itu. Setiap awal Musim Semi dan Musim Gugur, terutama di era peperang kala itu, maka Negara Bagian Yan ini menjadi prioritas penjagaan yang sangat ketat. Oleh sebab itu, letaknya di lembah strategus Juyong, maka tembok raksasa ini disebut juga Benteng Juyong. Di era Dinasti Han, Lembah Juyong ini menjadi kota perbatasan yang berkembang sangat ramai, bahkan mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup besar. Daerah yang kini menjadi destinasi para wisatawan domestic dan internasional ini, merupakan hasil rancanangan dari Jenderal Xu Da dan orang kepercayaannya yang Bernama Chang Yuchun. Pekerjaan besar ini, selesai pada awal tahun pemerintahan Hongwu dari Dinasti Ming (1366). Sementara itu, pelaksanaan renovasi dilakukan sejak pemerintahan Jingtai dari Dinasti Ming (1450-1454) dan dilanjutkan oleh para penerusnya, hingga bangunan itu terlihat seperti sekarang ini. Dinding Puncak Tembok Raksana ini mencapai lebih dari 4.000 meter dan lengkap dengan pintu masuk barbican (ruang dinding pertahanan utama), menara gerbang, dan menara pengawas. Di samping ada pula ruang celah jaga, ruang kerja atau kantor, kuil, sekolah Konfusianisme, dan bangunan pelengkap lainnya.
Hikmah apa yang dapat didapatkan dari kisah ini? Pertama, pertahanan merupakan kunci keamanan utama bagi sebuah negara. Meskipun bangunan itu akan tertelan zaman, tetapi dapat menjadi bukti bahwa kecanggihan pertahanan pada eranya, dapat memberikan perlindungan terhadap bangsa dan negara. Kedua, untuk menjadi negara yang hebat diperlukan keseimbangan tiga dimensi pertumbuhan ekonomi, ketahanan dan pertahanan nasional, dan sistem pemerintahan yang demokratis.
Semoga bermanfaat.
Salam Wisdom Indonesia
*) Mahasiswa Teladan Nasional 1987
Dosen Universitas Negeri Jakarta
