NYONYA (SERI OPINI IBG DHARMA PUTRA)

NYONYA

“Kita canangkan tekad  dengan membuang sebutan nyonya, yang berkonotasi sebagai milik lelaki dan menggantinya dengan sebutan Puan yang setara dan sama sama terhormatnya dengan sebutan Tuan. Para dokter wajib memulai dengan mengganti tulisan nyonya dengan puan dalam resepnya”.
(Oleh : IBG Dharma Putra)

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Tadi pagi, saya melihat tiga buku resep dilaci meja, sudah tampak usang kekuningan karena sudah lama tersimpan dan tak terpakai karena kesibukan mengurus tugas pokok dan fungsi sebagai manajer pelayanan.

Resep usang itu, membawa saya pada humor usil, yang berkata bahwa, kalau mau disebut nyonya atau tuan, maka kita wajib mendatangi seorang dokter. Karena seorang dokter akan menuliskan obat untuk diambil ke apotik pada nyonya atau tuan, sejak dulu sampai saat ini .

Dan persembahan resep kepada nyonya serta tuan itulah yang mengembarakan khayal saya ke sebuah judul film yang pernah saya tonton semasih remaja, Kramer Vs Kramer. Bercerita tentang perempuan yang pergi dari rumah dan tinggalkan suami dan anaknya, untuk mencari jati dirinya.

Resep kuning usang inspiratif itu, membuat saya berpendapat bahwa sebutan nyonya adalah panggilan dominasi seorang lelaki bagi perempuannya. Dan para perempuan karena opini yang sudah dibuat para lelaki, wajib mengikutinya, agar bisa “ menjadi “ terhormat.

Dengan konsep itu maka tidak mengherankan jika perempuan dikejar dan didamba lelaki karena keunikannya, hanya pada awalnya saja. Tetapi segera setelah didapat, akan diubah menjadi lain, sekedar untuk pencitraan bagi lelaki yang merasa memilikinya.

Dan konyolnya, atas nama cinta dan martabat sosial, perempuan rela berubah menjadi amat asing dan tak lagi bisa dikenali, bahkan oleh si perempuan itu sendiri.

Dan si lelaki, mengejar perempuan dengan keunikan impiannya kembali, karena yang ada, disampingnya, telah kehilangan keistimewaan yang membuatnya jatuh cinta, bahkan tergila gila.

Si lelaki sibuk mencari mimpi dan perempuan tertinggal dalam kehampaan jati diri yang sulit untuk kembali, dalam belantara persepsi yang dikuasai laki laki. Dan nyonya yang terhormat, berpotensi tak bahagia.

Dilain sisi, ada kisah nyata tentang perempuan dihormati. Perempuan yang diperankan sejajar dengan para lelaki, dengan diberi kedaulatan memutuskan segala hal yang menyangkut dirinya.

Sebuah cerita yang terjadi di negeri Srilanka, Costarika dan Negara Bagian Kerala di India.
Sebuah pemberian hormat, yang membuat bumi disana lebih sehat, dari dunia sekitarnya.

Sebuah kejadian unik pada negara miskin dengan kemajuan yang menyamai tetangga kayanya dan jauh berbeda dengan sesama negara miskin, sesuai pengamatan Yulia Walsh, ahli kesehatan, yang bertugas di lembaga kesehatan dunia WHO.

Mungkin, perempuan harus dihormati bukan sekedar dalam sebutan nyonya dikertas resep, sesuai persepsi yang dibuat para lelaki, tetapi wajib dihormati sesuai kodrat kemanusiaannya sebagai perempuan.

Perannya dalam kehidupan, yang mulanya tak diakui karena kelemahan fisiknya, pelan tapi pasti mulai memgemuka seiring gelombang revolusi dunia. Dimulai dari pengakuan peran domestiknya di era revolusi pertanian.

Peran itu semakin mengemuka seiring dengan perubahan dunia ke era revolusi indutri serta nanti menuju era revolusi teknologi informasi. Dan semakin dominan karena jumlahnya yang semakin banyak.

Dunia yang aman adalah dunia yang nyaman bagi perempuan. Mereka hanya akan berada dalam siksa dan berkurang bersama dengan berkurang jumlah anaknya dalam kondisi perang.

Kalau perang tak terjadi maka kemajuan akan bisa diraih jika peran perempuan mulai ditata dan diperhatikan mulai sekarang. Penataan dalam pemberian kedaulatan perempuan

Adanya kedaulatan perempuan, niscaya membuat perempuan mandiri dan menjadi dirinya sendiri. Sebuah potensi yang bisa membuatnya bahagia, membuat suaminya setia, membuat manusia menjadi lebih sehat dan membuat dunia semakin aman dan damai.

Semuanya disebabkan oleh pergeseran demografic decicion making, cara pembuatan keputusan di masyarakat, dari pembuatan keputusan yang dominasi pria, kearah si perempuannya sendiri.

Dengan begitu, keputusan menjadi lebih pas, berdaya guna, berhasil guna, tepat guna dan berujung kesuksesan yang bahagia karena diputuskan dengan rasa yang nyata serta bukan persepsi semata.

Bergeser cara pengambilan keputusan secara prinsipil dari khayalan fiktif pengisi mimpi laki laki kearah kenyataan keseharian perempuan yang harus diraih dan diperjuangkan secara jujur untuk mengapai sukses.

Sebuah pergeseran yang harus dimulai dengan menyiapan jiwa dan raga perempuan secara setara dengan laki laki di keluarga kita masing masing.

Tak boleh ada lagi pembagian kerja yang diskriminatif, sangat berbeda antara anak laki dengan anak perempuan, seiring penyikapan yang setara antara anak perempuan dan anak lelaki.

Untuk itu, kita canangkan tekad itu dengan membuang sebutan nyonya, yang berkonotasi sebagai milik lelaki dan menggantinya dengan sebutan puan yang setara dan sama sama terhormatnya dengan sebutan tuan. Para dokter wajib memulai dengan mengganti tulisan nyonya dengan puan dalam resepnya

Siapkah tuan dan puan ????

Banjarmasin
22062021

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini